TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berkomitmen mengawal pengembangan industri farmasi nasional agar mampu menyediakan obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu bagi masyarakat.
Komitmen ini ditunjukkan melalui pembangunan fasilitas industri farmasi PT Mitra Prima Internasional (PT MPI) di Kawasan Industri Taruma Indah, Cakung, Jakarta Timur.
Fasilitas ini ditargetkan memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada 2027.
Selain itu, fasilitas ini menjadi satu industri pertama di Indonesia yang mampu memproduksi terapi inovatif berbasis oral peptide glucagon-like peptide-1 (GLP-1) yang digunakan untuk pengobatan diabetes dan penyakit metabolik.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menilai investasi industri farmasi sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku farmasi, baik untuk produk kimia sintetis maupun biologis.
Baca juga: Bio Farma Gandeng BPOM Dorong Vaksin Indonesia Mendunia dan Tembus Pasar Global
“Kami sangat mengapresiasi investasi yang dilakukan PT Mitra Prima Internasional sebagai langkah konkret dalam mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan sektor farmasi nasional,” ungkapnya.
Perkembangan industri farmasi global juga menunjukkan perubahan besar.
Produk berbasis biologi seperti vaksin, biosimilar, dan terapi bioteknologi kini mendominasi lebih dari separuh pasar dunia.
Hal ini menuntut Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen yang mampu bersaing secara global.
Atas hal tersebut, BPOM berkomitmen menjadi regulator yang adaptif dengan mempercepat layanan regulasi, termasuk penyederhanaan proses perizinan tanpa mengurangi standar keamanan dan kualitas.
Baca juga: BPOM Akui Belum Bisa Lakukan Uji Sampel MBG karena Terkendala Anggaran
“Kami bertekad mempermudah seluruh proses yang dapat dipermudah, baik dalam sertifikasi maupun perizinan, dengan tetap menjaga standar keamanan dan kualitas produk,” ucap Taruna Ikrar dalam website resmi BPOM, Sabtu (2/5/2026).
Untuk mempercepat akses masyarakat terhadap obat inovatif, BPOM tengah menyiapkan skema regulasi baru berupa conditional approval.
Kebijakan ini memungkinkan obat-obatan esensial dapat lebih cepat tersedia, dengan tetap mengacu pada standar global.
Selain itu, status Indonesia sebagai WHO-Listed Authority (WLA) turut memperkuat posisi BPOM di tingkat internasional, sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap sistem pengawasan obat di dalam negeri.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar membangun sistem kesehatan yang tangguh dan mandiri.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa penguatan industri farmasi merupakan bagian penting dari transformasi ketahanan kesehatan nasional.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti pelajaran penting dari pandemi Covid-19, di mana Indonesia sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan kesehatan.
“Transformasi ketahanan kesehatan menjadi salah satu pilar penting dalam sistem kesehatan Indonesia. Kita belajar dari pandemi, ketika Indonesia sangat bergantung pada impor, mulai dari obat, alat pelindung diri hingga vaksin, di tengah situasi global yang mengalami pembatasan,” ujar Budi.
Ia menambahkan bahwa ke depan, Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat secara mandiri.