Siswa Samarinda Kerja 8 Jam dengan Sepatu Sempit hingga Akhir, Mandala: Mama, Utamakan Rumah Dulu
Amelia Mutia Rachmah May 02, 2026 09:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan di Samarinda, seorang remaja bernama Mandala Rizky Syahputra (16), seorang siswa kelas 2 SMK, berdiri tegak selama delapan jam setiap harinya.

Ia bukan sedang menunggu teman, melainkan sedang bekerja membantu perekonomian keluarganya.

Namun, di balik seragam rapi dan keteguhannya berdiri dari jam dua siang hingga sepuluh malam, tersimpan rasa sakit yang ia sembunyikan rapat-rapat di dalam sepasang sepatu ukuran 40.

Padahal, ukuran kakinya yang terus tumbuh telah mencapai nomor 43.

Baca juga: Perempuan Mahardhika Samarinda Soroti Nasib Buruh di Momen May Day

Mandala, yang merupakan siswa kelas 2 SMK di Samarinda, dikenal oleh ibundanya, Ratna Sari, sebagai sosok yang luar biasa kuat.

"Sakit pun dia rasa sendiri tanpa harus merepotkan orang lain," kenang Ratna dengan suara bergetar.

Bekerja Demi Keluarga

Keinginannya sederhana namun berat untuk dipikul remaja seusianya, untuk membantu sang ibu membayar sewa rumah agar mereka tidak diusir.

Itulah alasan Mandala memilih mengambil program bantuan kerja di Ramayana, sebuah toko pusat perbelanjaan terbesar di Kota Tepian.

Dari upah sebesar Rp840.000 yang ia terima sebulan, tak serupiah pun ia kantongi. Semuanya diserahkan kepada sang ibu untuk biaya kontrakan.

Baca juga: Kemenhaj Laporkan 2 Jemaah Haji Indonesia Meninggal di Madinah, Salah Satunya Asal Samarinda

Dua hari pertama bekerja, Mandala mulai merasakan perih di jari-jarinya. Sepatu sekolah yang ia pakai sejak kelas 1 SMK itu sudah terlalu sesak. Tubuhnya yang meninggi membuat kakinya tak lagi muat di ruang sempit sepatu tersebut.

Ibunya sempat menawarkan untuk membeli sepatu baru dari uang hasil kerjanya. Namun, Mandala menolak dengan keras.

" Mama, pentingkan rumah dulu. Mandala bisa tahan aja kok," ucap ibunya mengingat kata-kata buah hatinya.

Ia hanya meminta dicarikan ganjalan empuk berupa bungkusan apel, agar kakinya tidak terlalu sakit saat berdiri lama.

Rasa Sakit yang Dipendam

Namun, rasa sakit itu tidak berhenti di kaki. Setelah setengah bulan, nyeri itu menjalar ke punggung dan pinggang. Tubuhnya kian kurus, keseimbangannya mulai goyah, hingga akhirnya ia tak lagi sanggup memaksakan diri.

Baca juga: Hardiknas dan Sepasang Sepatu yang Terlambat Kita Perhatikan

Sebelum kepergiannya, ada kilatan semangat yang sempat membuat Ibu Ratna optimistis. Mandala sempat bercanda dengan wali kelasnya, menyatakan keinginannya untuk kembali ke sekolah.

Satu-satunya permintaannya yang memilukan kala itu:

"Bu, kalau ke sekolah, boleh tidak saya pakai sandal saja? Sepatu saya sudah kekecilan, kaki saya sakit." ujar Ratna meniru ucapan anaknya.

Pesan yang Ditinggalkan

Sore sebelum ia mengembuskan napas terakhir, Mandala terlihat nafsu makan yang luar biasa besar, seolah ingin memberi tanda bahwa ia sudah sehat. Ia makan dengan lahap, menunggu ibunya pulang agar bisa makan bersama.

Namun, takdir berkata lain. Sang remaja penyayang itu pergi meninggalkan beban dunia yang selama ini ia pikul sendirian.

Baca juga: Terapkan Prinsip Zero Tolerance, Pemkot Samarinda Bentuk Satgas Lawan Kecurangan SPMB

Kematian Mandala meninggalkan luka, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga menjadi kritik bagi sistem sosial di sekitarnya.

Ibu Ratna menceritakan pahitnya menjadi warga pendatang yang sempat dipandang sebelah mata saat membutuhkan bantuan ambulans.

"Kalau bisa, pemerintah tinjau orang yang betul-betul susah. Jangan sampai yang sudah susah malah tidak terdaftar bantuan," pesannya.

Kini, Mandala telah beristirahat. Ia tidak perlu lagi menahan sakit di kaki atau cemas soal uang sewa rumah.

Ia pergi meninggalkan pelajaran berharga tentang sebuah pengorbanan yang melampaui batas kemampuan raga seorang anak sekolah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.