Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Pohon asam berusia ratusan tahun tumbuh di tengah kampung Pandak Kulon, Desa Krikilan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Pohon asam tersebut berukuran sangat besar dan tinggi, dengan ranting yang menjulang kemana-mana.
Daun-daun pohon tersebut masih tumbuh lebat, sehingga siapa saja yang berada di bawah pohon asam ini akan terasa teduh.
Jika dilihat dengan saksama, juga masih tumbuh buah asam di ranting-ranting pohon menjulang tinggi tersebut.
Warga sekitar, Sugeng Riyanto (58) mengatakan sejak ia masih kecil, besarnya pohon asam sudah seperti yang sekarang ini.
"Setahu saya, pohon asam ya sudah sebesar itu, sejak saya kecil, seumur Bapak saya juga tahunya sudah seperti ini, saya asli kelahiran sini," katanya kepada TribunSolo.com, Sabtu (13/9/2025).
Sugeng menambahkan pohon asam ini tumbuh di Punden Keramatan.
Baca juga: Ide Oleh-oleh Khas Sragen, Ada Serundeng Lebos yang Cita Rasanya Gurih Bisa untuk Lauk
Ia tidak mengetahui secara pasti, apakah keberadaan pohon asam ini ada kaitannya dengan petilasan Pangeran Mangkubumi.
Lantaran, 100-200 meter dari pohon asam, terdapat petilasan Pangeran Mangkubumi yang menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Sragen.
Pohon asam ini pun dikeramatkan oleh warga sekitar, lantaran tumbuh di Punden Keramat.
Dimana, warga tidak ada yang berani memotong ranting pohon tersebut.
"Kalau disini tidak ada pantangan atau larangan, namun ya itu tadi, tidak ada yang berani memotong rantingnya, karena dikeramatkan sepert namanya," jelasnya.
Ia menceritakan ranting pohon asam yang tumbuh diatas rumah warga, pernah tumbang.
Namun, ranting pohon tersebut tidak langsung mengenai atap rumah warga sekitar, dan kemudian jatuh di bawah pohon.
"Kegiatan yang pasti masih dijalankan setelah musim tanam, orang disini bilangnya nyadranan, kalau sadranan masih, setahun 2 kali," jelasnya.
"Juga dulu waktu saya kecil, bertemunya pengantin itu diminta mengitari sini, sekarang tidak pernah lagi," tambahnya.
Baca juga: Cerita Misteri di Ndalem Kalitan Solo Rumah Soeharto, Konon Gamelan di Sana Berbunyi Tiap Malam
Selain itu, pohon asam tersebut juga terkadang didatangi warga untuk menabur bunga atau nyekar disana.
"Orang-orang disini masih suka nyekar, kalau dulu Bulan Sura ada orang luar yang datang kesini, biasanya nyekar saat malam Jumat Pahing," pungkasnya.
Lokasi pohon asam berusia ratusan tahun ini berjarak 20 kilometer dari pusat Kota Solo.
Tak jauh dari petilasan Pangeran Mangkubumi, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta.
Dalam naskah sejarah Babad Giyanti, disebutkan bahwa Pangeran Mangkubumi mendirikan sebuah struktur pemerintahan yang disebut Keraton ing Alaga, keraton dalam suasana perang, di wilayah Pandak-Karangnongko, Desa Krikilan
Ini bukan sekadar tempat tinggal, namun menjadi pusat pengambilan keputusan politik dan strategi militer melawan dominasi VOC kala itu.
Kini, situs bersejarah tersebut dikenal dengan nama Petilasan Pendopo Mangkubumi.
Sebuah pendopo kecil yang terletak tak jauh dari pemakaman umum di Dukuh Pandak Karangnongko.
Meski ukurannya tak besar, hanya sekitar 395 meter persegi, tempat ini memegang peranan penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Sragen dan perjuangan Pangeran Mangkubumi.
Baca juga: Cuaca di Siang Hari Panas, Ini Daftar Tempat Wisata di Karanganyar yang Cocok untuk Ngadem
(*)