Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Gereja Protestan Maluku (GPM) Klasis Pulau Ambon menggelar aksi pengumpulan dan penimbangan sampah plastik selama dua hari, 1-2 Mei 2026.
Aksi ini sebagai bagian dari gerakan edukasi pengelolaan sampah dan pengurangan limbah di Kota Ambon.
Dalam kegiatan yang melibatkan jemaat dari berbagai wilayah pelayanan itu, total sekitar 3 ton sampah plastik berhasil dikumpulkan.
Aksi ini merupakan hasil kolaborasi GPM Klasis Pulau Ambon bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon serta PT Milion Limbah Ambon (MLA).
Puluhan karung sampah plastik yang telah dipilah warga jemaat diangkut menggunakan mobil truk menuju lokasi penimbangan.
Sampah kemudian dibeli dari jemaat dengan harga berbeda, tergantung kondisi plastik yang disetor.
Untuk sampah plastik yang sudah dibersihkan dihargai Rp5 ribu per kilogram, sedangkan plastik yang masih kotor dibeli Rp1.000 per kilogram.
Selanjutnya, sampah plastik tersebut dibawa ke pabrik pengolahan milik PT MLA di kawasan Toisapi untuk diolah menjadi bijih plastik.
Ketua GPM Klasis Pulau Ambon, Pendeta W. A. Beresaby mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar program pengumpulan sampah, tetapi juga bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga.
“Kegiatan pengumpulan dan penimbangan limbah plastik ini kami lakukan sebagai upaya peningkatan pendapatan bersama Klasis 57 Waste Management Pro Ambon. Namun yang lebih penting, kami ingin membangun pola pikir dan perilaku masyarakat Kota Ambon agar mampu hidup berdampingan dengan sampah serta menyadari bahwa pengelolaannya adalah tanggung jawab bersama,” ujar Beresaby saat diwawancarai TribunAmbon.com, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, edukasi mengenai pengelolaan sampah masih sangat dibutuhkan di tengah masyarakat karena banyak warga yang belum terbiasa memilah sampah dari rumah.
Ia menilai dominasi sampah rumah tangga di Kota Ambon saat ini masih didominasi sampah plastik seperti botol, gelas plastik, hingga kemasan sachet.
“Kalau kita melihat kondisi sampah rumah tangga, dominannya memang sampah plastik. Jika sampah-sampah ini sudah dipilah dengan baik, tentu akan sangat membantu pemerintah kota dalam mengelola persoalan sampah di Kota Ambon,” katanya.
Beresaby menjelaskan, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut pihaknya menyiapkan enam titik pengumpulan sampah yang melibatkan banyak jemaat di wilayah pelayanan Klasis Pulau Ambon.
Menariknya, gerakan ini tidak hanya melibatkan majelis jemaat dan warga gereja, tetapi juga anak-anak Sekolah Minggu atau SMTPI hingga pemuda gereja.
“Ada jemaat yang melibatkan setiap keluarga secara langsung dengan pendekatan berbasis sektor. Jadi bukan hanya sektor jemaat yang terlibat, melainkan juga anak-anak Sekolah Minggu dan pemuda gereja,” jelasnya.
Baca juga: Investor Pisang Abaka Kantongi 3.185 Hektare Lahan di Bula Barat SBT
Baca juga: Para Terlapor Kasus Penganiayaan Brutal di Coffee Pourvis Ambon, Kembali Mangkir Panggilan Polisi
Ia menambahkan, program pengelolaan sampah tersebut akan menjadi gerakan berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan kali ini saja.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus menjadi budaya bersama seluruh masyarakat Kota Ambon, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
“Kami berharap persoalan sampah tidak hanya dilihat sebagai tanggung jawab pemerintah semata, tetapi menjadi perhatian bersama seluruh warga kota,” ujarnya.
Sementara itu, Pejabat Fungsional DLHP Kota Ambon, Rendy Aunalal mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya pengurangan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurutnya, keterlibatan masyarakat sangat penting dalam menekan jumlah sampah harian di Kota Ambon.
“Program ini sebenarnya merupakan upaya pengurangan sampah. Kami ingin mengembalikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Karena itu, kami membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,” kata Rendy.
Ia menjelaskan, DLHP Kota Ambon selama ini juga bekerja sama dengan PT MLA dalam pengolahan sampah plastik yang dikumpulkan masyarakat.
Rendy berharap edukasi pengelolaan sampah terus dilakukan secara masif agar masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari rumah tangga.
“Jika kesadaran masyarakat terus meningkat, maka beban pengelolaan sampah juga akan semakin ringan,” tandasnya.(*)