Malam Purnama di Jatiduwur, Bangkitkan Semangat Kejayaan Majapahit
Samsul Arifin May 02, 2026 10:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Puji Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Suasana malam purnama di Desa Jatiduwur, Jombang, dimanfaatkan para pegiat budaya untuk menggelar doa bersama dan diskusi kebangsaan. 

Kegiatan yang berlangsung di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, pada Jumat (1/5/2026) malam itu diikuti sejumlah tokoh budaya dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Peserta yang hadir berasal dari Jombang, Mojokerto hingga Kediri. Mereka berkumpul dalam sebuah jagongan budaya yang mengangkat tema kejayaan Nusantara dan harapan kebangkitan Indonesia di masa mendatang.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya budayawan Nasrul Ilah, pemerhati sejarah Arif Yulianto dan Ari Hakim, pemerhati budaya Supriyadi, praktisi budaya Isma Hakim, Pembina Situs Persada Soekarno Kediri RM Kuswartono, hingga tokoh spiritual Ki Budi Sejati.

Acara diawali dengan penampilan Tari Klono yang dibawakan anak-anak Desa Jatiduwur. 

Baca juga: Polemik Pemberhentian Guru di Jombang, Dewan Pendidikan Minta Audit Menyeluruh

Sejarah Tari Jatiduwur 

Di tengah perkembangan zaman yang kian modern, Desa Jatiduwur di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang masih menjaga sebuah warisan budaya yang sarat nilai sejarah dan spiritual, yakni seni pertunjukan Topeng Jatiduwur. 

Melansir laman laman Budaya Jatim, Kesenian tradisional ini menjadi identitas budaya masyarakat setempat yang diwariskan turun-temurun selama lebih dari satu abad.

Topeng Jatiduwur merupakan pertunjukan wayang topeng yang memadukan unsur tari, musik tradisional, dan dramatari. Cerita yang dibawakan bersumber dari kisah-kisah Panji, seperti perjalanan Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji yang melegenda dalam khazanah sastra Jawa.

Baca juga: Dari Kayu Waru, Perajin Jombang Lestarikan Tradisi Wayang Topeng Jatiduwur

Dalam pementasannya, para penari mengenakan topeng dengan karakter berbeda-beda, sementara alur cerita dipandu oleh seorang dalang.

Tradisi ini diyakini bermula pada akhir abad ke-19. Sosok Ki Purwo, seorang tokoh asal Gresik, disebut sebagai orang yang pertama kali membawa dan mengembangkan wayang topeng di Jatiduwur. 

Hingga kini, masyarakat masih menghormatinya sebagai leluhur sekaligus perintis kesenian tersebut.

Warisan budaya itu kini dirawat oleh Sumarni, keturunan generasi keenam Ki Purwo. Ia menjaga puluhan topeng kuno beserta perlengkapan pertunjukan yang menjadi bagian penting dari sejarah Topeng Jatiduwur. 

Sedikitnya terdapat 33 topeng yang masih tersimpan dan dirawat sebagai peninggalan leluhur.

Bagi masyarakat Jatiduwur, pertunjukan topeng bukan hanya hiburan semata. Kesenian ini juga memiliki nilai sakral dan sering digunakan dalam pelaksanaan nadzar atau ritual tertentu. 

Setiap datangnya malam 1 Sura, masyarakat menggelar prosesi ruwatan terhadap topeng-topeng tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga nilai spiritual yang melekat pada tradisi.

Meski sebagian besar pelaku seni Topeng Jatiduwur berasal dari kalangan usia lanjut, upaya regenerasi terus dilakukan.

Sejumlah anak muda mulai dilibatkan dalam pertunjukan, terutama pada bagian tari dan pendukung pementasan. Langkah ini menjadi harapan agar kesenian tradisional tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pengakuan terhadap nilai budaya Topeng Jatiduwur juga datang dari pemerintah pusat. Pada 2018, kesenian ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Nomor 264/M/2018 dalam kategori seni pertunjukan.

Penetapan tersebut menjadi bukti bahwa Topeng Jatiduwur bukan sekadar kesenian lokal, melainkan bagian penting dari kekayaan budaya nasional. Karena itu, pelestarian, pembinaan, serta keterlibatan generasi muda dinilai menjadi kunci agar tradisi luhur ini tetap bertahan dan terus dikenal oleh masyarakat luas.

Setelah itu, pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur, turut ditampilkan sebagai simbol refleksi kepemimpinan Raja Majapahit Hayam Wuruk yang digambarkan mengenakan topeng emas.

Kejayaan Majapahit 

Dalam forum budaya tersebut, para peserta membahas masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. 

Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaan pada tahun 1350-1389. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Melansir Kompas.com, Raja Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit dengan tata pemerintahan yang teratur dan cermat. Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit tidak terlepas dari peranan Gajah Mada yang berhasil menumpas pemberontakan dan mampu menyatukan Nusantara.

Mahapatih Gajah Mada mencetuskan Sumpah Palapa yang berarti untuk menaklukkan Nusantara di bawah Majapahit.

Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukkan Majapahit meliputi, Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan Filipina.

Kerajaan Majapahit menguasai sebagian besar wilayah Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, dan wilayah-wilayah yang berada di luar timur Jawa.

Wilayah-wilayah yang dikuasai Majapahit tersebut tercatat dalam Kitab Negarakertagama pupuh 13 dan 14. Majapahit juga menjadi hubungan dengan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara.

Selain itu, diskusi juga menyinggung kiprah Presiden pertama RI Ir Soekarno yang dinilai berhasil membawa Indonesia disegani di panggung dunia.

Semangat Kebangsaan 

Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Isma Hakim, mengatakan kegiatan itu lahir dari kegelisahan sekaligus harapan agar semangat kebangkitan bangsa tidak sekadar dinantikan, melainkan diupayakan bersama.

"Kami memilih momentum purnama sebagai simbol refleksi kejayaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Semangat itu ingin kami hidupkan kembali sebagai energi kebangkitan bangsa," ucapnya saat dikonfirmasi terpisah oleh Tribunjatim.com pada Sabtu (2/5/2026). 

Menurut Isma, nilai-nilai kepemimpinan dan persatuan yang diwariskan tokoh-tokoh besar Nusantara dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk kembali bangkit dan mencapai kemakmuran.

Sementara itu, pegiat sejarah Ari Hakim berharap kegiatan serupa dapat digelar di berbagai daerah sebagai ruang memperkuat kesadaran sejarah dan doa bersama untuk masa depan bangsa.

"Harapannya, semangat seperti ini bisa menular ke daerah lain agar masyarakat bersama-sama memohon dan berikhtiar demi kebangkitan Indonesia," ungkapnya dalam keterangan yang diterima. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.