TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dedek Kusnadi, dosen salah satu kampus di Jambi yang viral saat digerebek di sebuah indekos yang berlokasi di Telanaipura, akhirnya angkat bicara.
Melalui video singkat, ia menyampaikan klarifikasi terkait insiden penggerebekan yang terjadi pada Jumat (1/5/2026) malam.
Ia langsung membantah penggerebekan terjadi saat ia berdua dengan seorang perempuan.
Ia mengaku dekat dengan perempuan tersebut. Namun, ia berada di sebuah indekos karena merasa ketakutan.
"Kronologisnya, kejadian tersebut, saya memang dekat dengan seorang wanita tersebut, lalu saya pergi menemani dia belanja ke salah satu toko bedak-bedak.
"Sampai sana, saya, terjadilah keributan bersama rekan satu usaha saya, masalah utang-piutang. Setelah itu saya pergi.
"Nah, karena saya merasa ketakutan dan terancam, lalu saya ditelepon oleh Bang Yoli. Bang Yoli adalah sebagai TNI, tentara di Korem.
"Lalu Bang Yoli telepon saya, 'kau jangan sendirian. Karena kondisi kau kayak gini, kau jangan sendirian. Kau, biar abang temani. Nanti abang urus yang lainnya ya.'.
"'Iya, bang,'" saya bilang."
Dedek mengaku sempat pergi menuju Korem.
"Lalu Bang Yoli menjemput perempuan ini di sana. Lalu saya pergilah ke Korem. Setelah saya pergi ke Korem, beliau menghubungi saya lagi.
"'Dindo di mana?' Di Korem, Bang. 'Abang dak jadi ke Korem.'
"Kata perempuan tersebut, dia pulang ke kos aja, mau istirahat, katanya. Dak enak nanti merepotkan. Lalu, karena Bang Yoli minta jemput saya ke sana, saya jemput Bang Yoli ke sana. Pergi lagi saya ke sana."
Di indekos itulah Dedek digerebek bersama seorang perempuan dan seorang laki-laki.
Ia menceritakan, ada yang menggedor pintu saat ia baru sekitar 10 menit berada di sana.
"Sampai saya di sana (indekos), baru saya duduk 10 menit, saya ngobrol-ngobrol dengan Bang Yoli, ada yang gedor-gedor, nyebut-nyebut nama saya. Saya pikir itu kelompok dari Wak Jenggot tersebut, yang nyari saya itu, ya kan.
Dedek Kusnadi mengaku takut, lalu bersembunyi di kamar mandi.
"Dengan rasa ketakutan, saya terkejut, saya berdua Bang Yoli langsung bilang, 'Bang, kita sembunyi, Bang.' Sembunyilah kami di dalam kamar mandi.
"Saya, Bang Yoli, di kamar mandi. Nah, perempuan ini, ada di situ juga, karena ketakutan, gitu."
Ia membantah melakukan perbuatan mesum saat digerebek sejumlah orang pada Jumat malam.
"Saya berdua di kamar mandi dengan Bang Yoli itu, bukan saya berdua ditangkap, digerebek, mesum. Tidak. Tapi berdua dengan Bang Yoli, TNI itu di dalam itu. Nah, berarti sudah diset, sudah diatur ini prosesnya," jelasnya.
Kronologi Penggerebekan
Peristiwa penggerebekan terhadap dosen berinisial DK alias Dedek Kusnadi terjadi pada Jumat (1/5/2026) di sebuah indekos di RT 34, Kelurahan Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Aksi tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari ketua RT, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Trantib, hingga warga sekitar.
Ketua RT setempat, Teguh Heriyanto, menjelaskan bahwa kejadian bermula saat istri DK berupaya mencari keberadaan suaminya. Setelah ditelusuri, DK diketahui berada di indekos tersebut.
Penggerebekan berlangsung cukup lama dan menarik perhatian warga. Peristiwa dimulai sekitar pukul 17.30 WIB, ketika pintu kamar beberapa kali diketuk namun tidak direspons.
DK baru keluar sekitar pukul 20.00 WIB setelah sebelumnya menolak membuka pintu.
Kuasa hukum istri Dedek, Romiyanto, menyebut kliennya mulai curiga karena DK beberapa hari terakhir jarang pulang ke rumah.
Oleh karena itu, istri Dedek melakukan pemantauan.
Setelah mengetahui keberadaan DK di indekos, istri DK mendatangi lembaga bantuan hukum untuk meminta pendampingan.
Romiyanto mengatakan pihaknya kemudian berkoordinasi dengan ketua RT, lurah, serta aparat dari Polsek Telanaipura sebelum menuju lokasi.
Penggerebekan dilakukan menjelang waktu magrib.
“Di situlah terjadi drama-drama, buka pintu segala macamnya. Akhirnya sudah turun RT, masyarakat sudah ramai di situ,” katanya.
Usai kejadian, Dedek diamankan ke Polsek Telanaipura. Istri DK kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian.
“Laporannya, 411 KUHP Juncto pasal 77, pelantaran anak juga. Jadi kita sebagai kuasa hukum mendampingi di sana sampai jam tiga pagi, menemani istri yang buat laporan,” jelasnya.
Ditemukan Bertiga di Dalam Kamar
Teguh mengungkapkan, penggerebekan berlangsung cukup lama karena Dedek enggan keluar dari kamar.
“Jadi karena tidak mau gegabah, kebetulan Ibu ini tadi membawa pengacaranya juga sekalian. Maka, akhirnya kita lakukan pengerebekan,” katanya.
Langkah itu diambil setelah istri DK menemukan mobil suaminya terparkir di depan indekos serta sepatu yang diduga milik DK berada di ruang tamu.
“Tapi karena kebetulan yang bersangkutan juga tidak mau keluar dari kamarnya, akhirnya melibatkan pihak Polsek,” ujarnya.
Situasi semakin ramai karena adanya dugaan persoalan utang piutang yang melibatkan DK, sehingga sejumlah pihak ikut mendatangi lokasi.
Saat kamar dibuka, DK diketahui tidak sendiri, melainkan bersama seorang perempuan dan seorang pria.
Menurut Teguh, pria tersebut merupakan rekan DK yang mengaku sebagai anggota TNI.
Namun, setelah dikonfirmasi kepada Babinsa, yang bersangkutan disebut telah desersi atau diberhentikan dari kesatuannya.
“Setelah ditanya sama Babinsa, ternyata dia TNI yang desersi atau dipecatlah gitu dari kesatuannya. Kalau kasusnya apa, kita tidak tahu,” terangnya.
DK kemudian dibawa oleh petugas patroli Polsek Telanaipura untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kampus Ambil Tindakan
Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Kasful Anwar, menyatakan pihak kampus telah memantau kasus tersebut.
“Setiap sivitas akademika terikat pada kode etik, aturan disiplin, dan norma kelembagaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kampus menyesalkan kejadian tersebut dan berkomitmen menjaga integritas institusi.
Sebagai langkah awal, Dedek Kusnadi dinonaktifkan dari jabatan tambahan sebagai wakil dekan untuk menjaga objektivitas proses pemeriksaan.
Selain itu, Dedek juga akan menjalani pemeriksaan etik guna memastikan fakta dan status hukumnya.
"Jika terbukti melanggar, maka sanksi akan diberikan sesuai aturan yang berlaku," tegasnya.
Kampus juga menghentikan sementara seluruh aktivitas DK, termasuk kegiatan mengajar, penelitian, dan pengabdian.
"Aktivitas mengajar, pengabdian, dan penelitian juga turut dihentikan sementara," ujarnya.
Kasful turut menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kasus tersebut.
Ia menegaskan bahwa tindakan individu tidak mencerminkan nilai institusi, serta meminta masyarakat tidak berspekulasi selama proses verifikasi berlangsung.
Baca juga: Lebih Dua Jam Dosen DK tak Mau Buka Pintu saat Digerebek Istri di Telanaipura
Baca juga: Kecewa Jadi Alasan Trump Tarik Pasukan AS dari Eropa: Waktu Kita Butuh, Mereka tak Ada
Baca juga: TPS di Kota Jambi akan Ditutup dan Diganti Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat