TRIBUNNEWS.COM - Tidak ada pemenang dalam duel sang guru dengan muridnya. Antonio Conte dan Cesc Fabregas untuk ketiga kalinya dalam musim ini di Liga Italia harus berbagi satu poin dari pertandingan Como vs Napoli.
Dua pertandingan dengan hasil identik imbang tanpa gol (0-0). Satu pertandingan dari Coppa Italia dengan skor 1-1. Namun Como sukses mengatasi Napoli di babak adu penalti.
Sang murid, Cesc Fabregas menunjukkan, apa yang dia dapat di bawah asuhan sang guru, Antonio Conte dapat dia kembangkan dengan caranya sendiri ketika menjadi pelatih.
Fabregas pernah mengungkap bahwa waktu paling menderita dalam karier sepak bolanya adalah di bawah kendali Antonio Conte. Keduanya bekerja sama di Chelsea dari musim 2016-2018.
Kini, di bawah kendali Fabregas, Como menjadi salah satu tim kuda hitam yang patut diwaspadai.
Mereka secara mengejutkan mampu bersaing di papan atas untuk menganggu stabilitas dan persaingan zona Liga Champions di klasemen.
Dengan tiga pertandingan sisa musim ini, Como hanya terpaut satu angka dengan Juventus, dan enam poin dengan AC Milan yang memiliki satu laga lebih banyak.
Peluang Como mencapai tujuan yang mungkin belum pernah dicapai sebelumnya untuk berada di posisi 4 besar dan bermain di kompetisi elit Benua Biru.
Conte mengakui, tim asuhan Fabregas begitu Tangguh dalam pertandingan Como vs Napoli di Stadio Giuseppe Sinigaglia tadi malam.
Como melepaskan 13 tembakan, 4 di antaranya tepat sasaran. Sementara Napoli hanya menghasilkan delapan peluang dan tidak ada yang mengarah ke gawang.
Selain lini pertahanan yang solid, penampilan Jean Butez di bawah mistar gawang dalam pertandingan ini patut diacungi jempol.
“Para pemain tampil bagus, kita harus memberi selamat kepada mereka atas penampilan melawan lawan yang tangguh,” ucap Antonio Conte usai pertandingan, dikutip dari Football Italia.
“Mereka miliki seorang kiper yang membuat segalanya sangat sulit, karena dengan sedikit saja kesalahan gerakan, dia bisa lolos dan memaksa kita untuk berlari kembali untuk menutup ruang,” sambungnya.
Di sisi lain, Fabregas sedikit geram dengan hasil yang diraih oleh timnya. Hasil yang dapat membuat Como semakin tertinggal dari Juventus dan Roma dalam perebutan empat besar.
“Kami mencoba untuk menang hari ini, kami tidak berhasil, jadi dalam hal itu saya marah,” ucap Fabregas kepada DAZN.
Tapi jika dikomparasi dengan penampilan Como sepanjang musim, termasuk saat pertama Fabregas mengambil alih kursi kepelatihan, tim berjuluk I Lariani ini telah berjalan di jalan yang tepat dan berkembang dengan progress yang signifikan.
“Mengingat siapa kami satu setengah tahun yang lalu (saat promosi), saya bisa mengatakan saya sangat bangga,” ungkapnya.
“Saya tahu di mana posisi mereka beberapa tahun yang lalu dan bagaimana mereka terus meningkatkan performa, jadi sebagai pelatih, ini bukan hanya tentang menganalisis kemenangan atau kekalahan, ada berjam-jam kerja keras yang tidak terlihat.”
“Dalam hal itu, kita harus senang bahwa Como mampu bersaing untuk posisi penting setahun setelah kembali ke Serie A, setelah absen dari kasta tertinggi selama 21 tahun,” tegasnya.
Di bawah asuhan Conte, Fabregas pernah mendapat tekanan dan sesi latihan yang hebat. Momen yang membuatnya menderita selama berbulan-bulan sebelum akhirnya mendapat kepercayaan diri karena faktor fisik yang mumpuni.
Hal itu yang coba diterapkan oleh Fabregas di Como, namun dengan tambahan bumbu dan penyesuaian dengan kondisi pemain.
Como berhasil menjadi salah satu tim dengan lini pertahanan terbaik musim ini. Jumlah kebobolan mereka lebih sedikit dari calon juara Liga Italia, Inter Milan.




















(Tribunnews.com/Sina)