Lahan Parkir di TKP Senopati Yogyakarta Kini Disulap Jadi Sentra Kuliner Malam
Muhammad Fatoni May 03, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kebijakan pembatasan bus pariwisata di kawasan inti Sumbu Filosofi sejak awal 2026, memicu babak baru bagi para pelaku usaha di Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati, Kota Yogyakarta.

​Enggan menyerah dengan keadaan, mereka memilih bersiasat dengan memanfaatkan sebagian lahan parkir yang kini steril dari armada besar, untuk sentra kuliner malam bertajuk 'Plataran Senopati.'

​Mengusung konsep angkringan modern, langkah ini menjadi ikhtiar kolektif agar denyut ekonomi para pedagang dan juru parkir (jukir) di kawasan Titik Nol Kilometer tersebut tetap berdenyut.

​Ketua Koperasi Senopati, Harjito, mengungkapkan bahwa penutupan akses bus pariwisata ke TKP Senopati memang memberikan dampak yang sangat signifikan. 

Menurutnya, jika hanya mengandalkan kendaraan kecil atau mobil pribadi, pendapatan komunitas tidak akan mencukupi kebutuhan hidup anggota yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

​"Selama ini kalau kita dikatakan mati, ya mati betul, karena sudah tidak bisa apa-apa (sejak bus dilarang). Padahal komunitas di sini kalau dihitung dengan keluarga dan anak-anaknya bisa sampai 1.500 jiwa. Mereka sulit untuk makan," ungkapnya, Sabtu (2/5/2026) malam.

Hasil Diskusi Panjang

​Ia menjelaskan, gagasan membuka Plataran Senopati muncul setelah proses diskusi panjang dengan jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. 

Salah satu titik di sisi barat TKP Senopati pun akhirnya ditutup untuk dialihfungsikan menjadi area kuliner, sementara kendaraan kecil seperti Elf dan mobil pribadi diarahkan ke sisi tengah dan timur.

​"Apalagi banyak teman-teman yang kemarin sempat ambil pinjaman modal di bank sebelum tahu ada kebijakan penutupan bus ini. Jadi kita betul-betul kebingungan. Harapannya dengan ini (sentra kuliner) laku, ekonomi bisa terangkat lagi," ungkapnya.

​Senada, Koordinator Plataran Senopati, Andi Irwanto, menjelaskan bahwa konsep yang diusung merujuk pada arahan Wali Kota Yogyakarta untuk mengadopsi model pemberdayaan di Alun-Alun Utara.

​Salah satu poin utamanya adalah penerapan dapur bersih, di mana di lokasi tersebut tidak ada aktivitas masak-memasak yang berat, melainkan hanya penyajian menu-menu khas angkringan.

​"Dapur bersih itu otomatis kita tidak masak-memasak, cuma air saja yang dimasak. Lainnya titipan semua dari eks pedagang Senopati dan teman-teman UMKM. Saat ini ada 33 pedagang lapak, 20 pedagang asongan, dan 15 jukir yang ikut berdaya di sini," urainya.

Iuran Swadaya

​Menariknya, modal awal sebesar Rp102 juta untuk membangun gerobak, instalasi lampu, hingga perkakas dapur dikumpulkan secara swadaya lewat iuran 68 orang anggota yang masing-masing menyetor Rp1,5 juta.

​Andi menjamin, meski berada di lokasi strategis yang merupakan jantung Kota Pelajar, harga yang dipatok tetap bersahabat dan transparan. 

Menurutnya, semua pihak yang terlibat dalam Plataran Senopati berkomitmen penuh melawan praktik nuthuk atau penerapam harga di luar batas kewajaran yang seringkali membayangi kawasan wisata.

​"Sudah ada daftar harga dan menu, semua tertera. Aman, tidak ada nuthuk. Menu harian semua khas Yogya, ada ronde, jahe, sereh, dan macam-macam. Intinya kita main aman saja soal harga agar warga juga mau datang," tegasnya.

Baca juga: Polisi Dalami Pemilik dan Penanggung Jawab Daycare Little Aresha Yogyakarta

Jam Operasional 

​Plataran Senopati sendiri diproyeksikan menjadi sebuah night market baru di pusat Kota Yogyakarta dengan jam operasional mulai pukul 16.00 hingga 00.00 WIB.

Lokasinya yang dilengkapi fasilitas toilet bersih dan berada tepat di depan Bank Indonesia, diharapkan mampu menarik wisatawan maupun warga lokal yang ingin menikmati suasana malam di Titik Nol Kilometer tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. 

"Sementara seperti itu, arahan dari Pak Wali Kota untuk operasionalnya dari jam 16.00 sore sampai jam 24.00 malam. Jam 23.00 WIB last order. Jadi, jam 24.00 sudah clear," paparnya.

Tertutup untuk Bus Besar

Terhitung mulai Sabtu (14/3/2026) lalu, Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati, yang berlokasi di Jalan Panembahan Senopati, resmi ditutup bagi bus pariwisata.

​Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menuturkan bus pariwisata yang biasanya masuk dari Titik Nol ke TKP Senopati, akan dialihkan ke beberapa titik alternatif guna menghindari penumpukan kendaraan.

​Khusus bus yang hendak menuju TKP Ngabean dari sisi timur, diarahkan melalui perempatan Gondomanan ke arah selatan menuju Pojok Beteng Wetan, kemudian Pojok Beteng Kulon, hingga masuk ke area parkir.

​Sedangkan untuk bus yang diarahkan ke TKP di lahan eks Menara Kopi, di kawasan Kotabaru, dapat mengambil jalur kanan dari perempatan Gondomanan.

​"Sudah saya sampaikan bahwa tidak ada lagi bus (besar) yang lewat di Titik Nol, kita tiadakan. Saya kira di Sumbu Filosofi harus kita hindarkan itu," tegasnya.

​Sebagai gantinya, Pemkot Yogyakarta akan mengarahkan wisatawan untuk menggunakan moda transportasi yang lebih kecil untuk masuk ke jantung kota. 

Menurut Hasto, bus-bus kecil saat ini sudah mulai terbiasa mengakses kawasan tersebut, dan dirasa lebih ramah terhadap beban jalan di Sumbu Filosofi.

​"Kalau terpaksanya ada bus-bus besar, aksesnya bisa lewat Jalan Mataram dan juga Jalan Bhayangkara. Jadi dengan cara begitu, Malioboro juga bisa steril," imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.