TRIBUNDEPOK-Masyarakat Jonggol, Bogor dihebohkan dengan fenomena awan pelangi yang terjadi Jumat (1/5/2026)
Fenomena langit dengan gradasi warna merah muda, hijau, hingga ungu muncul menghiasi gumpalan awan, menciptakan pemandangan layaknya 'awan pelangi'.
Penampakan awan pelangi itu pun nampak cantik di tengah langit biru dan gumpalan awan putih.
Seketika jagat media sosial pun dipenuhi dengan penampakan awan pelangi tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun menjelaskan fenomena langka tersebut.
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menegaskan bahwa fenomena ini murni peristiwa optik atmosfer.
Secara ilmiah, fenomena ini disebut sebagai Awan Iridesensi. Berbeda dengan pelangi yang berbentuk busur, iridesensi tampak seperti warna-warni yang 'tumpah' mengikuti bentuk awan.
Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence).
Berbeda dengan pelangi biasa yang membentuk busur sempurna, warna pada iridesensi cenderung menyebar mengikuti bentuk awan dan tampak lebih lembut.
Baca juga: Belasan Ribu Kendaraan Bakal Turun di Hari Minggu, Simak Jadwal One Way Puncak
BMKG juga menjelaskan bahwa kemunculan awan iridesensi justru sering berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan lokal.
Lalu kapan awan Pelangi bisa kembali muncul?
Berbeda dengan fenomena astronomi, fenomena awan pelangi tidak bisa diprediksi kemunculannya.
Sebenarnya tahun 2025 lalu awan pelangi juga pernah terjadi di Pangandaran, Jawa Barat.
Fenomena itu juga muncul pada bulan Mei 2025 tepatnya 13 Mei 2025.
Peneliti senior BRIN, Thomas Jamalludin menjelaskan, biasanya fenomena ini terjadi menjelang matahari terbenam atau sesaat setelah matahari terbit.
“Biasanya berlangsung hanya beberapa menit, bergantung posisi matahari, awan, dan pengamat,” ujarnya.
Namun kejadian di Jonggol awan pelangi terlihat lebih sempurna terlihat.
Padahal mengutip data resmi NASA, iridesensi awan termasuk fenomena yang relatif jarang terlihat secara sempurna.
Awan tersebut harus memiliki karakteristik sangat tipis dan mengandung banyak tetesan air atau kristal es berukuran seragam.
Kondisi ini biasanya terjadi pada awan yang baru terbentuk atau awan semi-transparan.
Beberapa jenis awan yang sering menunjukkan efek ini antara lain altocumulus, cirrocumulus, lenticular, dan cirrus.
Jika sinar matahari mengenai beberapa tetesan secara bersamaan, maka muncul efek warna pastel yang sangat cerah di tepian awan.