Sosok Kiai di Pati Tersangka Pencabulan Santriwati, Diduga Punya Ajaran Menyimpang
Nuryanti May 03, 2026 01:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan masih menjadi ancaman serius yang kerap tersembunyi di balik tembok institusi pendidikan maupun keagamaan.

Relasi kuasa yang timpang antara pengasuh, guru, atau tokoh agama dengan santriwati dan murid membuat korban berada dalam posisi rentan. 

Pada Sabtu (2/5/2026), warga yang mengatasnamakan Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi) mendatangi  Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, Jawa Tengah.

Mereka menuntut kiai pondok bernama Ashari diadili setelah dilaporkan mencabuli santriwati.

Polres Pati telah menetapkan Ashari sebagai tersangka, namun belum melakukan penahanan.

Kapolsek Tlogowungu, AKP Mujahid, menyatakan kasus ini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Pati lantaran para korban masih di bawah umur.

“Pelaku sudah menjadi tersangka. Saat ini proses masih berjalan dan menunggu tahap berikutnya.”

“Penahanan belum dilakukan. Untuk informasi selanjutnya menunggu rilis resmi dari Polresta Pati," paparnya, Sabtu.

Baca juga: 3 Santri di Bogor Melapor ke Polisi Jadi Korban Pelecehan Gurunya

Kuasa hukum korban, Ali Yusron, mengatakan ada delapan santriwati yang melapor.

“Korban aduan ada delapan, dan itu belum dicabut. Informasi yang kami dapat, jumlahnya bisa sampai 50 korban,” tuturnya, Rabu (29/4/2026).

Para korban merupakan santriwati tingkat SMP dan berasal dari latar belakang yang rentan seperti anak yatim piatu serta anak keluarga kurang mampu.

Ashari merupakan pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo yang rumahnya dekat dengan pondok.

Selama ini Ashari tak diterima oleh masyarakat karena memiliki rekam jejak penyimpangan selama bertahun-tahun.

Tindakan Ashari dianggap mencoreng nama baik pesantren serta organisasi islam yang terafiliasi dengan pesantren.

Setelah adanya laporan kasus pencabulan, Ashari dinonaktifkan dan pondok putri akan dihentikan sementara.

Baca juga: Sertu MB Jadi DPO Kodim Kendari Usai Kabur saat Diperiksa Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Bocah SD

Para santriwati dipulangkan dalam waktu 3x24 jam ke keluarganya masing-masing.

Salah satu warga bernama Shofi mengaku sempat bekerja kepada Ashari selama 11 tahun.

Ia memberanikan diri lepas dari jeratan Ashari pada 2018 karena ajarannya dianggap menyimpang.

Selama bekerja disana, Shofi berulang kali diperas dan dipaksa berbohong ke orang tua.

"Sebelas tahun saya jadi budak. Pondok ini dibangun dari uang budak-budak si iblis Ashari. Tahun 2008 saya disuruh berbohong sama orang tua saya kalau saya mondok di Jepara, supaya uang kiriman dari orang tua saya itu bisa masuk ke sini," bebernya, dikutip dari TribunJateng.com.

Para santri terpengaruh ucapan Ashari yang mengaku sebagai Khariqul 'Adah atau wali yang memiliki kemampuan di luar akal manusia. 

"Dia bisa menebak mbah saya meninggal kapan dan jam berapa. Dia juga bisa menebak adik saya melahirkan jam sekian, jenis kelaminnya cowok, dan nanti harus dinamai ini. Itu terjadi sungguhan sehingga saya dulu percaya dia memang wali," jelasnya.

Shofi menambahkan tindakan Ashari mencabuli santriwati dilakukan di depan umum dan didiamkan karena rasa takut.

"Termasuk istri saya kalau salaman juga dicium pipi kanan kiri, jidat, sama bibirnya. Santriwati saya lihat hampir semua juga mengalami. Kalau berzina (hubungan seksual) kan tidak ada yang lihat," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Mohay) (TribunJateng.com/Mazka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.