Gading Masih Utuh, Penyebab Kematian Dua Gajah di Mukomuko Tunggu Autopsi
Rita Lismini May 03, 2026 01:54 PM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Misteri kematian dua ekor gajah yang ditemukan di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, masih menunggu hasil autopsi tim medis. 

Polisi menyebut gading kedua gajah ditemukan dalam kondisi masih utuh, sehingga dugaan perburuan liar sementara belum menguat.

Dua bangkai gajah yang terdiri dari seekor induk dan seekor anak itu sebelumnya ditemukan pada Kamis (30/4/2026). 

Penemuan tersebut langsung ditindaklanjuti tim gabungan dari kepolisian dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan identifikasi serta penyelidikan penyebab kematian.

Kapolres Mukomuko AKBP Riky Crisma Wardana mengatakan, hasil identifikasi sementara memastikan dua gajah yang mati terdiri dari induk betina dan anak jantan.

“Gajah induk berusia 25 tahun, anaknya jenis kelamin jantan usia 2 tahun,” kata Riky.

Gading Ditemukan Lengkap

Dalam pemeriksaan awal di lokasi, petugas menemukan bagian gading kedua gajah masih dalam kondisi lengkap.

Temuan ini menjadi petunjuk penting karena biasanya kasus perburuan liar terhadap gajah identik dengan pengambilan gading secara paksa.

“Saat ditemui gadingnya masih lengkap sebanyak empat buah,” ujar Riky.

Dengan kondisi gading masih utuh, penyidik kini menelusuri kemungkinan lain penyebab kematian dua gajah tersebut, termasuk faktor penyakit, keracunan, konflik satwa, atau sebab lainnya.

Bangkai Diperkirakan Sudah 10 Hari

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), bangkai induk dan anak gajah ditemukan dalam posisi berdekatan.

Kondisi bangkai juga sudah mengalami pembusukan saat pertama kali ditemukan warga.

Polisi memperkirakan dua gajah tersebut telah mati sekitar 10 hari sebelum ditemukan pada 30 April 2026.

“Berdasarkan hasil olah TKP, saat ditemukan bangkai gajah sudah sekitar 10 hari,” jelas Riky.

Temuan posisi bangkai yang berdekatan memunculkan dugaan keduanya mati dalam rentang waktu yang sama.

Organ Dibawa untuk Autopsi

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian dua gajah di Mukomuko, tim gabungan mengambil sejumlah sampel organ dari bangkai satwa dilindungi itu.

Beberapa organ yang dibawa untuk pemeriksaan antara lain paru-paru, limpa, hati, kotoran, urine, serta bagian tertentu lainnya.

Langkah autopsi dilakukan guna memastikan ada atau tidaknya indikasi racun, penyakit menular, luka dalam, atau penyebab biologis lain.

“Kita masih menunggu hasil autopsi tim medis yang turun bersama anggota Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Bengkulu,” kata Riky.

Polisi dan BKSDA Dalami Kasus

Saat ini kepolisian bersama BKSDA masih mengumpulkan data lapangan, termasuk menelusuri jejak pergerakan gajah, kondisi lingkungan sekitar, hingga kemungkinan adanya aktivitas manusia di area tersebut.

Kawasan Air Teramang diketahui masih menjadi bagian habitat gajah sumatera di Kabupaten Mukomuko.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ruang jelajah gajah semakin terdesak akibat perubahan fungsi lahan dan aktivitas perkebunan.

Kondisi itu kerap memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.