TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk membantu KAI dalam menangani perlintasan kereta api, termasuk penutupan jalur ilegal.
Hal ini disampaikan Pramono menyusul sorotan terhadap banyaknya perlintasan sebidang tanpa penjagaan yang dinilai rawan kecelakaan.
“Pemerintah DKI Jakarta kalau kemudian ada penugasan yang diberikan, kami akan dengan hari untuk memberikan support kepada KAI,” ucapnya dikutip Minggu (3/5/2026).
Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa kewenangan utama pengelolaan perlintasan kereta berada di tangan KAI.
Sehingga Pemprov DKI masih menunggu arahan dari pihak KAI terkait penutupan perlintasan ilegal atau tanpa penjagaan tersebut.
“Seperti kita ketahui bersama, untuk lintasan rel kereta api itu memang menjadi tanggung jawab atau kewenangan dari KAI,” ujarnya.
Perlintasan sebidang, terutama yang tidak dilengkapi penjagaan, kerap menjadi titik rawan kecelakaan.
Karena itu, upaya penertiban hingga penutupan jalur ilegal dinilai penting untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Sebagai informasi, KAI mencatat terdapat 423 titik perlintasan kereta di wilayah Daop 1 yang meliputi wilayah Banten hingga Cikampek.
Dari jumlah tersebut tercatat sebanyak 130 titik tanpa palang pintu atau penjagaan.
Dengan adanya koordinasi antara Pemprov DKI dan KAI, diharapkan penanganan perlintasan ilegal dapat dilakukan lebih cepat dan terintegrasi.
Pemprov DKI menilai, kolaborasi lintas instansi menjadi kunci agar penanganan perlintasan kereta bisa berjalan efektif.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang yang masih terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Sebelumnya, insiden maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat saat Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek menabrak kereta KRL Commuter Line tujuan Cikarang.
Insiden ini bermula sebuah mobil taksi Green SM yang berhenti di perlintasan KRL tanpa palang pintu.
Mobil listrik tersebut kemudian tertemper KRL Cikarang arah Bekasi.
Kecelakaan ini pun sempat membuat layanan KRL tujuan Cikarang terhambat.
Insiden tersebut juga yang menyebabkan satu kereta KRL tujuan Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
Di sisi lain, KAJJ Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi melaju cepat.
Tabrakan pun tak terhindarkan hingga membuat gerbong paling belakang KRL yang dikhususkan untuk wanita ringsek.
Akibat insiden ini sebanyak 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.
Seluruh korban meninggal diketahui merupakan wanita.