Kenapa Rupiah Melemah? Ini Faktor Global hingga Domestik yang Menekan Mata Uang Garuda
Sri Widya Rahma May 03, 2026 08:54 PM

TribunGyao.com, NASIONAL - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 1 Mei 2026 Berhasil Menguat

Pergerakan rupiah tercatat masih berada di level tinggi sekitar Rp17.300 hingga Rp17.346 per dolar AS, menunjukkan kondisi pelemahan yang cukup konsisten di pasar global.

Rupiah Sempat Menguat Tipis, Namun Masih Rentan

Pada perdagangan Jumat (1/5/2026), rupiah sempat menguat tipis sekitar 0,25 persen di pasar spot menjadi Rp17.303 per dolar AS.

Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yang terjadi sejak akhir April 2026.

Penguatan sementara ini juga terjadi seiring dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang turut menguat terhadap dolar AS, seperti peso Filipina, won Korea Selatan, dan yuan China.

Baca juga: Rupiah Kembali Anjlok Hari Ini 30 April 2026, Tembus Level Rp17.346 per Dolar AS

Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Dikutip dari Kontan.co.id, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.

Indeks dolar AS yang menguat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor penting karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak.

Josua Pardede menjelaskan, harga minyak mentah jenis Brent crude oil sempat berada di kisaran US$ 111–112 per barel, dipicu ketegangan geopolitik menyusul rencana blokade laut yang lebih panjang di kawasan Selat Hormuz.

Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) ke level sekitar 98.

Di saat yang sama, harga minyak terus meningkat, memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Faktor Domestik Ikut Menekan

Selain faktor global, tekanan dari dalam negeri juga memperburuk kondisi rupiah.

Meningkatnya permintaan dolar untuk impor, pembayaran dividen, serta biaya logistik membuat tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar.

"Permintaan dolar di dalam negeri meningkat untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan ongkos pengiriman yang lebih mahal," kata Josua.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, kebijakan suku bunga The Fed, hingga tekanan permintaan valuta asing di dalam negeri.

Kondisi ini membuat rupiah masih rentan terhadap fluktuasi dalam jangka pendek.

Rincian Pergerakan Mata Uang Terhadap Dolar AS

Berikut rincian pergerakan mata uang terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Jumat (1/5/2026):

  • Peso Filipina: Menguat 0,31 persen
  • Rupiah Indonesia: Menguat 0,25 persen
  • Won Korea Selatan: Menguat 0,24 persen
  • Yuan China: Menguat 0,16 persen
  • Baht Thailand: Menguat 0,04 persen
  • Dolar Singapura: Menguat 0,03 persen
  • Ringgit Malaysia: Menguat 0,02 persen

Namun, sejumlah mata uang justru mengalami pelemahan, di antaranya:

  • Yen Jepang: Melemah 0,36 persen
  • Dolar Taiwan: Melemah 0,31 persen
  • Dolar Hongkong: Melemah 0,05 persen
  • Dolar Hongkong: Melemah 0,01 persen. (*)

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 29 April 2026 Kembali Melemah, Berikut Rinciannya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.