Serangan Balasan Iran Hancurkan 16 Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Kerugian Capai Rp693 T
Christoper Desmawangga May 03, 2026 09:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah dilaporkan menimbulkan kerusakan besar pada jaringan pertahanan militer Washington, dengan sedikitnya 16 pangkalan AS di delapan negara mengalami kerusakan serius.

Investigasi CNN yang didasarkan pada citra satelit, wawancara dengan sumber militer, serta pejabat kawasan Teluk Arab mengungkap bahwa sejumlah fasilitas militer Amerika bahkan praktis tidak lagi dapat digunakan.

Tiga sumber yang mengetahui penilaian internal menyebut total kerugian perang tersebut diperkirakan mencapai 40 hingga 50 miliar dollar AS atau sekitar Rp693 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan estimasi resmi Pentagon sebesar 25 miliar dollar AS.

Baca juga: Donald Trump Hadapi Kondisi Pahit Imbas Perang dengan Iran

“Tidak ada yang tahu apa pun. Itu bukan karena kurangnya pertanyaan,” ujar seorang ajudan kongres AS, menggambarkan minimnya transparansi terkait skala kerusakan sebenarnya, dilansir dari Kompas.com.

Laporan tersebut menyebut Iran secara strategis menargetkan aset pertahanan bernilai tinggi milik AS, termasuk sistem radar canggih, fasilitas komunikasi satelit, landasan pacu, pusat komando, hanggar, hingga pesawat militer.

“Patut dicatat bahwa mereka benar-benar mengidentifikasi fasilitas-fasilitas tersebut sebagai target yang paling hemat biaya untuk diserang,” kata sumber kongres tersebut.

“Sistem radar kami adalah yang paling mahal dan sumber daya kami yang paling terbatas di wilayah ini,” lanjutnya.

Baca juga: Trump Sebut AS Seperti Bajak Laut di Tengah Memanasnya Konflik Iran di Selat Hormuz

Kerusakan berat tercatat di sejumlah pangkalan utama AS, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, markas Armada Kelima AS di Bahrain, Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, hingga fasilitas militer di Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Yordania.

Beberapa kerugian strategis terbesar meliputi hancurnya sistem pertahanan rudal THAAD, pesawat pengintai E-3 Sentry AWACS, drone MQ-9 Reaper, pesawat tanker MC-130, serta berbagai infrastruktur pendukung operasi regional AS.

Seorang sumber lain mengaku skala kehancuran ini belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ada beragam penilaian, mulai dari yang cukup dramatis, yaitu seluruh fasilitas hancur dan perlu ditutup, hingga para pemimpin yang mengatakan bahwa hal-hal ini layak diperbaiki karena manfaat strategis yang diberikannya kepada AS,” ujarnya.

Baca juga: Trump Izinkan Iran Tampil di Piala Dunia 2026, Teheran Minta Jaminan FIFA usai Insiden di Kanada

Serangan ini juga menimbulkan kekhawatiran baru di antara negara-negara Teluk Arab yang selama ini menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Sejumlah pemerintah regional dilaporkan mulai mempertanyakan keputusan Presiden Donald Trump memulai konflik besar tanpa konsultasi penuh dengan sekutu kawasan.

“Perang ini menunjukkan bahwa aliansi dengan AS bukanlah sesuatu yang unik atau tak terkalahkan,” kata seorang sumber diplomatik.

AS Diprediksi Bakal Lakukan Serangan Lagi

Baca juga: Donald Trump Beri 2 Pilihan ke Iran, Kesepakatan atau Penghacuran untuk Akhiri Perang Selamanya

Perwira militer senior Iran pada Sabtu (2/5/2026) mengatakan, serangan Amerika Serikat (AS) kemungkinan besar akan terjadi lagi.

Ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah kedua pihak saling melempar pernyataan keras, di tengah mandeknya negosiasi perdamaian.

Pernyataan militer itu keluar hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengaku tidak puas terhadap proposal negosiasi terbaru dari Teheran.

Iran sebelumnya menyerahkan draf proposal tersebut kepada mediator Pakistan pada Kamis (30/4/2026) malam, tetapi media pemerintah tidak mengungkap isi dari usulan yang diajukan.

Baca juga: Trump Siapkan Operasi Baru di Selat Hormuz Setelah Perang dengan Iran Berakhir Secara Hukum AS

Adapun perang yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Konflik itu kemudian terhenti sejak 8 April setelah diberlakukannya gencatan senjata.

Upaya damai sempat dilakukan melalui satu putaran pembicaraan di Pakistan, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan.

Donald Trump secara terbuka mengkritik isi proposal Iran saat berbicara kepada wartawan.

Baca juga: Trump Siapkan Operasi Baru di Selat Hormuz Setelah Perang dengan Iran Berakhir Secara Hukum AS

“Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan,” kata Trump, dikutip dari AFP, dilansir dari Kompas.com.

Ia mengeklaim kebuntuan negosiasi dipicu oleh “perselisihan luar biasa” di dalam kepemimpinan Iran.

Trump juga menyinggung opsi militer dalam menghadapi situasi tersebut.

“Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka dan mengakhiri mereka selamanya, atau apakah kita ingin mencoba dan membuat kesepakatan?” ujarnya.

Baca juga: Setelah 300 Hari, Amerika Serikat Tarik Kapal Induk Terbesar di Dunia dari Perang Iran

Presiden ke-45 dan 47 AS itu menambahkan, dirinya sebenarnya tidak suka memilih opsi penghancuran atas dasar kemanusiaan.

Dari pihak Iran, pernyataan tegas disampaikan oleh tokoh senior di komando pusat militer, Mohammad Jafar Asadi.

Dia menilai konflik baru hampir tidak terhindarkan.

Baca juga: Trump Siapkan Operasi Baru di Selat Hormuz Setelah Perang dengan Iran Berakhir Secara Hukum AS

“Bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun,” lanjutnya.

Sikap Iran terhadap negosiasi juga ditegaskan oleh Kepala Peradilan Gholamhossein Mohseni Ejei, yang menyebut negaranya tidak menepis dialog, tetapi menolak tekanan dalam proses tersebut.

Di sisi lain, Gedung Putih belum mengungkap rincian proposal terbaru Iran.

Laporan dari Axios menyebut utusan AS Steve Witkoff mengajukan amendemen baru dalam pembahasan tersebut, yang memasukkan kembali isu program nuklir Iran ke dalam meja perundingan.

Salah satu tuntutan yang diajukan mencakup larangan bagi Iran untuk memindahkan uranium yang diperkaya dari lokasi pengeboman sebelumnya.

Teheran juga diminta tidak melanjutkan aktivitas di lokasi tersebut selama proses negosiasi berlangsung. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.