Makin Tersungkur, Rupiah Diprediksi Tembus Rp 17.550 per Dollar AS Pekan Depan, IHSG Juga Melemah
Amalia Husnul A May 03, 2026 09:09 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Pada perdagangan pekan depan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi makin tersungkur.

Diprediksi nilai tukar rupiah diprediksi masih akan tertekan hingga sentuh level di atas Rp17.500 per dollar AS.

Selain nilai tukar rupiah yang makin terpuruk, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) juga diprediksi semakin melemah.

Sabtu (3/5/2026) Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, "Kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu depan Rp17.550 per dolar AS." 

Baca juga: Ekonom INDEF Ingatkan Dampak Perang As-Israel vs Iran Kian Nyata, Rupiah Anjlok, Subsidi Bengkak

Tercatat, rupiah pada perdagangan Kamis (30/4/2026) ditutup melemah 27 poin di level Rp17.353 per dolar AS.

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,31 persen secara harian ke Rp 17.378 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, beberapa faktor yang mempengaruhi mata uang rupiah, terutama dari masalah geopolitik di Timur Tengah hingga kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

"50 persen itu pengaruhnya adalah dari geopolitik, tapi masih ada juga hal-hal lain. Jadi pertama adalah geopolitik, kemudian yang kedua perpolitikan di Amerika, yang ketiga adalah perang dagang, yang keempat adalah kebijakan bank sentral global, kemudian yang kelima adalah suplay dan demand," papar Ibrahim. 

Ia menyebut, persoalan perang di Timur Tengah masih panjang, yang mana hal ini mempengaruhi penguatan dolar AS dan harga minyak dunia.

Hal yang sama juga disampaikan, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy.

Ia menilai pergerakan mayoritas pasangan mata uang yang menguat terhadap rupiah mencerminkan kombinasi kuatnya dolar AS, arus keluar dana asing, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.

"Menurut saya pelemahannya masih tergolong “bisa dijelaskan pasar”, tetapi mulai terasa berlebihan jika tidak diikuti perbaikan fundamental dan stabilisasi sentimen," kata Budi dikutip dari Kontan.

Di sisi lain, penguatan pasangan AUD/IDR menjadi yang paling mencolok. 

Hal ini dipicu oleh dua faktor sekaligus, yakni pelemahan rupiah dan penguatan dolar Australia yang terdorong oleh rebound harga komoditas serta sentimen positif dari China.

Secara teknikal, Budi melihat level psikologis berikutnya untuk pasangan USD/IDR berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS. 

Sementara itu, jika terjadi pembalikan arah, level support terdekat diperkirakan berada di rentang Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

Ia juga mengingatkan adanya risiko skenario terburuk, yakni jika penguatan indeks dolar berlanjut, arus keluar asing meningkat, tensi global memanas, dan muncul keraguan terhadap stabilitas fiskal domestik secara bersamaan.

"Jika kondisi tersebut terjadi secara bersamaan, rupiah berpotensi mengalami overshooting dalam jangka pendek," ujar Budi.

IHSG Melemah

Selain itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (4/5/2026) diprediksi melanjutkan pelemahan.

Tercatat, IHSG pada Kamis (30/4/2026) sebelum libur nasional Hari Buruh, ditutup anjlok 2,03 persen ke level 6.956,80.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, risiko pelemahan masih terbuka selama belum ada perubahan signifikan dari sentimen eksternal, khususnya stabilisasi nilai tukar dan meredanya tensi geopolitik.

Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mencerminkan meningkatnya preferensi terhadap aset safe haven, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, serta dinamika arus dana global turut menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

“Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menjadi variabel paling dominan dalam menentukan arah IHSG dalam jangka pendek,” ujar Reza dikutip dari Kontan, Sabtu (3/4/2026).

Diketahui, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026), melemah 20 poin atau 0,12 persen menjadi 17.346 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.326 per dolar AS.

Reza menyebut, tren depresiasi nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap arus keluar dana asing (capital outflow) serta persepsi risiko investor global terhadap aset domestik. 

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi, antara lain S&P Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi (GDP), sehingga akan menjadi indikator arah kebijakan dan stabilitas makroekonomi Indonesia.

Di samping itu, sentimen dari rilis kinerja emiten dan pembagian dividen dinilai hanya memberikan dorongan terbatas bagi IHSG dalam jangka pendek dan belum cukup kuat untuk menopang tren penguatan secara berkelanjutan.

Secara teknikal, Reza memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support di kisaran 6.920—7.000 dan resistance di kisaran 7.100—7.160 pada Senin nanti.

Reza menyebut ada beberapa saham yang layak dipertimbangkan oleh investor pada esok hari. 

Di antaranya adalah BNBR dengan rekomendasi beli di kisaran Rp 208—Rp 215 per saham dan target harga di kisaran Rp 224—Rp 232 per saham; ITMG direkomendasikan trading buy di kisaran Rp 26.175—Rp 26.650 per saham dan target harga Rp 27.025—Rp 27.625 per saham; serta ADRO dengan rekomendasi trading buy di kisaran Rp 2.480—Rp 2.520 per saham dan target harga Rp 2.560—Rp 2.620 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan, IHSG masih berada dalam fase downtrend pada Senin besok yang disertai dengan tingginya tekanan jual. 

IHSG pun diprediksi cenderung terkoreksi dengan area support di level 6.838 dan resistance di level 7.022.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah Rp 17.346 per Dollar AS, Ekonom Singgung Moratorium Sejumlah Program

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.