Duduk Persoalan Pendakian Gunung Halau-Halau HST Kalsel Sampai Ditutup, Awalnya Beredar di Sosmed
Edi Nugroho May 03, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Pendaki merespons kabar penutupan pendakian Wisata Gunung Halau-Halau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) yang ramai diperbincangkan di berbagai Media Sosial (Medsos).

Menyikapi kabar ditutupnya pendakian Gunung Halau-Halau dengan ketinggian 1901 mdpl di Kalimantan Selatan, para pendaki menyayangkan kabar tersebut. 

Salah satu pendaki sekaligus guide pendakian dari Kabupaten Balangan, Andy Winanda menyatakan kekecewaannya apabila kabar yang beredar yakni penutupan permanen Gunung Halau-Halau benar adanya.

Kendati demikian, dirinya sangat menghormati keputusan adat setempat yang tentunya keputusan ini menurut Andy didapat melalui proses panjang dan musyarawah antar warga adat serta tokoh adat dan Pemdes setempat.

Baca juga: BPBD Banjarbaru Belum Tetapkan Siaga Darurat Karhutla, Warga Dilarang Buka Lahan Sistem Bakar

Baca juga: Polisi Ungkap Kronologi Mobil Terseret Arus di Tajaupecah Tanahlaut, Pasutri Selamat

"Jadi kalau secara pribadi saya pasti menghormati keputusan sidang adat, karena kawasan Gunung Halau-Halau dianggap hutan keramat dan sakral, tentunya mereka sudah melewati musyawarah, aruh adat, hingga tolak bala untuk keseimbangan alam dan manusia, tapi juga ada rasa kecewa karena sebagai pendaki tentu kita ingin Gunung Halau-Halau tetap dibuka," ungkap Andy, Minggu (3/5/2026).

PENUTUPAN PENDAKIAN - Ramai diperbincangkan terkait penutupan permanen jalur pendakian wisata Gunung Halau-Halau di HST, Minggu (3/5/2026).
PENUTUPAN PENDAKIAN - Ramai diperbincangkan terkait penutupan permanen jalur pendakian wisata Gunung Halau-Halau di HST, Minggu (3/5/2026). (Istimewa/Tangkapan layar Medsos)

Andy pun berharap Pokdarwis setempat bisa menengahi kondisi ini, dimana tradisi meratus dan keputusan adat tetap berjalan dan pendaki tetap bisa naik ke Puncak Halau-Halau. 

Beberapa contoh yang memungkinkan agar jalur pendakian bisa dibuka ujarnya bisa dibuat aturan-aturan tertentu untuk pendaki, misalnya ada kuota untuk pendaki pada setiap bulannya dan sebelum mendaki diberi edukasi terkait nilai budaya dan pantangan yang sesuai dengan larangan dari lembaga adat setempat.

"Jadi walaupun dibuka, pendaki wajib mengetahui larangan serta berapa lama mereka dibolehkan untuk pendakian, tidak asal naik," katanya.

"Tentunya ini menjadi harapan kami sebagai pendaki, dimana sistem adat tetap berjalan dan pendaki mengikuti aturan lembaga adat," tambah Andy.

Andy sendiri sudah membahas terkait informasi ini dengan rekan-rekan grup pendakian tempat ia bergabung. Selain itu ujar Andy ada pula beberapa pendaki dari luar pulau Kalimantan yang rencananya akan mendaki ke Halau-Halau menanyakan kabar penutupan tersebut kepadanya, namun terpaksa harus mengubah rencana dan lokasi. 

Menurutnya pula, pihak Pokdarwis dapat memberikan penjelasan lebih rinci terkait penutupan gunung, sehingga para pendaki juga bisa menerima alasan tersebut dan butuh pula adanya informasi kapan pendakian kembali bisa dilakukan. Misalnya ada bulan-bulan pamali dan bulan kapan yang boleh pendaki naik ke gunung tersebut.

Tentunya sebagai pendaki yang tidak lagi sekali dua kali ke Gunung Halau-Halau, Andy pun memiliki kesan tersendiri dengan jalur ke gunung ini. Harapannya juga sangat besar agar jalur ke Gunung Halau-Halau tetap bisa dibuka.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, berdasarkan musyawarah yang digelar pada Jumat (1/5/2026) kemarin di Kantor Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, telah diumumkan hasil kesepakatan bersama terkait penutupan Gunung Halau-Halau yang dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. 

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kades Juhu, Kades Hinas Kiri, tokoh masyarakat dari kedua desa, Babinsa setempat dan perwakilan Pokdarwis.

Sekdes Desa Juhu, Rubi menyampaikan bahwa alasan utama dibalik keputusan penutupan gunung tersebut adalah status gunung yang dianggap keramat dan sakral oleh warga, terutama bagi penduduk Desa Juhi dan Hinas Kiri.

Menurutnya gunung tersebut memiliki makna yang sangat mendalam, sehingga perlindungannya menjadi tanggung jawab seluruh warga.

Melalui keterangan yang disampaikan oleh Rubi pula kepada awak media, bahwa penutupan itu juga bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kawasan gunung agar tetap terjaga dari kerusakan dan menjaga kearifan lokal masyarakat adat.

Sementara itu melalui video yang beredar melalui akun facebook Pemdes Juhu, Kepala Desa Juhu (berbaju merah kotak) menyampaikan bahwa pihaknya dan Pemdes Hinas Kiri sudah menggelar rapat dengan hasil kesepakatan resmi menutup jalur pendakian Gunung Halau-Halau.

"Hari ini tadi setelah melakukan rapat antara dua desa terkait wisata Halau-Halau, saya tidak panjang lebar menyampaikan , bahwa hasil kesepakatan itu resmi pendakian  Gunung Halau-Halau itu ditutup secara permanen. Mungkin itu saja informasi yang dapat kami sampaikan," katanya.

Ramai di Dunia Maya

Postingan terkait penutupan pendakian Wisata Gunung Halau-Halau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ramai diperbincangkan di berbagai Media Sosial (Medsos).

Dalam postingan yang menyertakan flayer tersebut menyebutkan penutupan permanen pendakian Gunung Halau-Halau berdasarkan hasil musyawarah Desa Juhu dan Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur.

Tertulis, tanggal keputusan berlaku sejak 1 Mei 2026 yang sebelumnya digelar musyawarah di Kantor Desa Hinas Kiri. 

Musyawarah melibatkan Pembakal atau Kepala Desa Juhu dan Hinas Kiri, tokoh masyarakat, Pokdarwis masyarakat, perwakilan masyarakat, dan Babinsa.


Hal ini, mendapatkan tanggapan dari berbagai warganet di Medsos, baik Platform Facebook maupun Instagram yang mempertanyakan penutupan permanen tersebut dan penyebabnya, maupun kebenaran informasi tersebut.

Terkait informasi yang beredar tersebut, Kepala Desa Juhu, Abdul Dunduk saat dikonfirmasi Banjarmasinpost.co.id membenarkan beredarnya informasi tersebut.

Rapat kesepakatan penutupan wisata Gunung Besar Halau-Halau ungkapnya dihadiri oleh tokoh dan masyarakat dari dua desa, yaitu Desa Juhu dan Desa Hinas Kiri. 

“Dalam hal ini, Pemerintah Desa (Pemdes) cuman memfasilitasi pertemuan tersebut,” katanya, Minggu (3/5/2026), saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.

Terkait alasan penutupan, secara umum Kepala Desa Juhu mengungkapkan, Gunung Halau-Halau merupakan gunung keramat yang dipercaya mulai nenek moyang.

“Kami mempercayai gunung tersebut gunung keramat sejak nenek moyang sampai sekarang dan selamanya,” ungkapnya.

Sementara, dari komentar Instagram yang di pin pada akun @halauhalauofficial_1901mdpl saat ditanyakan akun @om_su0. Admin halauhalauofficial_1901mdpl menuliskan Itu info yang tidak real (Hoax).

Sementara, salah seorang penggiat alam yang pernah mendaki Gunung Halau-Halau, Rama mengungkapkan, gunung besar salah satu wisata unggulan di HST dan Kalsel yang dituju oleh para pendaki untuk pendakian alam.

Namun, satu sisi keputusan tersebut menurutnya diambil dari berbagai pertimbangan pihak desa, masyarakat adat, dan Pokdarwis.

“Sampai saat ini, Halau-Halau (gunung besar) merupakan titik/ puncak tertinggi di Kalsel, sehingga sangat berdampak bagi pendaki. Meski begitu, pendaki hendaknya juga menjaga kondisi alam, jangan sampai mengotori (meninggalkan sampah) di gunung,” jelasnya.

Rama secara pribadi berharap, adanya cara lain untuk menjaga kelestarian alam dengan aturan/regulasi tata cara pendakian yang data dilakukan tanpa harus ada penutupan jalur.


3 Tips Aman Naik Gunung, Paham Jalur Naik dan Turun

Wisata Gunung merupakan salah satu jenis wisata alam yang dibuka kembali setelah tutup untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Namun, sejak pembukaan beberapa jalur pendakian gunung, muncul kembali kejadian pendaki yang hilang, bahkan meninggal dunia.

Oleh karena itu, keamanan dan keselamatan kembali menjadi pertanyaan bagi aktivitas wisata gunung.

Dokter Siswo Putranto Santoso mengatakan, para pendaki gunung kerap abai soal bagaimana cara mendaki gunung itu sendiri.

Lantas apa saja yang harus dipahami?

Menurut dokter asal RS Umum Adhyaksa itu, sebelum mendaki, para pendaki harus mengetahui karakteristik gunung.

"Ketahui dulu informasi dari gunung itu gimana. Apalagi kita baru pemula atau pertama, ya sebaiknya ditemani pemandu atau orang, jangan sendirian," kata  Siswo yang juga kerap disebut dokter gunung Indonesia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (29/7/2020).

Siswo menuturkan, karakteristik gunung berpengaruh terhadap apa yang akan disiapkan sebelum pendakian.

Misalnya, jika gunung yang hendak dikunjungi terbilang tinggi di atas 3.000 mdpl, maka perlu dibutuhkan persiapan fisik lebih ketat.

Gunung Lawu kembali bertopi Rabu pagi Sejumlah warga menyaksikan fenomena Gunung Lawu bertopi dari pukul 0600 WIB hingga pukul 0700 WIB. Topi awan di Atas Gunung Lau berbentuk baret.

1. Paham vegetasi atau tumbuh-tumbuhan

Pendaki gunung juga perlu mengetahui persoalan vegetasi atau tumbuh-tumbuhan di gunung. Hal ini berfungsi agar tidak menyulitkan jika tersasar.

"Vegetasi itu kan tumbuh-tumbuhan, yang mana contohnya kayak di Gunung Salak itu kan vegetasinya sama semua. Kalau kita lihat kiri kanan itu kondisinya sama semua, nah sering kita bingung itu," terangnya.

Ia menjelaskan, setiap gunung memiliki vegetasi yang berbeda masing-masingnya. Untuk itu, kata dia, sebelum pendakian hal-hal seperti ini wajib diketahui pendaki.

Caranya adalah dengan mencari informasi yang ada baik melalui buku atau sarana internet. Pendaki juga bisa bertanya kepada orang atau teman yang pernah mendaki gunung tersebut sebelumnya.

2. Ketahui jalan naik dan turun gunung

Sebelum mulai pendakian, kata dia, sudah pasti pendaki harus mengetahui akses jalan pada saat naik dan turun gunung.

Lagi-lagi hal ini menurutnya wajib menjadi poin penting dalam pendakian gunung. Untuk itu, saling bertukar informasi dan pengetahuan tentang gunung menjadi hal wajib bagi pendaki.

"Ini kan termasuk informasi perjalanan mulai dari naik dari mana turunnya di mana, berapa lama kekuatan fisik kita, lalu cuaca juga sering berubah kalau di gunung," ujarnya.

3. Ketahui waktu hujan di daerah pegunungan

Selain mempersiapkan informasi trek jalur pendakian, pendaki wajib mengetahui perihal cuaca terutama jika terjadi hujan di gunung.

Siswo mengungkapkan, pendaki gunung wajib mengetahui kapan waktu hujan orografis di gunung.

"Hujan orografis itu hujan yang terjadi di daerah pegunungan. Nah, minimal kita harus tahu, hujan orografis itu terjadi sekitar jam 11.00-14.00, kita harus pentingin itu," katanya.

Semua pendaki pasti mengingikan agar perjalanan pendakian gunung mulai dari naik hingga turun dapat berjalan aman dan lancar.

"Maka dari itu informasi karakteristik gunung itu disiapkan. Karena kita mau naik gunung itu nyaman atau pun aman. Naik sampai di atas, lalu turun lagi dengan aman," katanya.

Namun, ia mengingatkan, mendaki gunung bukan merupakan hal yang mudah. Oleh karena itu, ia menyarankan bagi para pemula untuk mendaftar ke organisasi pencinta alam.

Hal ini berfungsi mendapatkan bimbingan sebelum mendaki.
(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan/isti rohayanti/kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.