Cara Licik AFT Memanfaatkan Suami Berkebutuhan Khusus demi Habisi Nyawa Mertua di Pekanbaru
jonisetiawan May 04, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Sebuah peristiwa memilukan mengguncang ketenangan warga Pekanbaru. Di balik rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru terjadi tragedi yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan kepercayaan dalam lingkup keluarga sendiri.

Kasus pembunuhan dan perampokan terhadap seorang lansia bernama Dumaris (60), warga Kecamatan Rumbai, mengungkap fakta yang mengejutkan.

Polisi memastikan bahwa aksi keji tersebut dilakukan oleh empat orang pelaku, yakni AFT (21), SL (34), EW (39), dan L (22).

Lebih miris lagi, sosok yang diduga menjadi otak di balik kejahatan ini adalah AFT yang tak lain merupakan menantu korban sendiri.

Baca juga: Mantan Menantu Jadi Otak Kasus Pembunuhan Nenek di Pekanbaru, Dua Pelaku Lelaki Ditembak Polisi

Niat Mencuri Berubah Jadi Pembunuhan

Aparat kepolisian mengungkap bahwa awalnya para pelaku hanya berniat melakukan pencurian. Namun dalam perjalanan rencana tersebut, niat mereka berubah menjadi aksi yang jauh lebih brutal.

"Niat mereka awalnya mencuri, tapi berubah pikiran untuk membunuh. Mereka ingin menguasai seluruh harta korban," kata Hasyim Risahondua saat konferensi pers, Minggu (3/5/2026).

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana keserakahan berkembang menjadi tindakan ekstrem yang berujung pada hilangnya nyawa korban.

PEMBUNUHAN DI PEKANBARU - Mantan menantu menjadi otak kasus pembunuhan nenek di Pekanbaru
PEMBUNUHAN DI PEKANBARU - Mantan menantu menjadi otak kasus pembunuhan nenek di Pekanbaru (Tribun Trends/KOMPAS.COM/IDON))

Skema Terencana: Menjebak Keluarga Sendiri

Sebelum melancarkan aksinya, para pelaku lebih dulu menyusun rencana. Mereka mengajak anak korban, Arnold yang merupakan suami AFT untuk bertemu di sebuah ruko di Jalan Jenderal Sudirman.

Arnold, yang diketahui memiliki kebutuhan khusus, datang tanpa menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan. Dalam pertemuan itu, para pelaku menggali informasi terkait kondisi rumah korban.

Arnold pun menjawab bahwa di rumah hanya ada ibunya seorang diri, sementara anggota keluarga lain sedang tidak berada di tempat. Informasi inilah yang kemudian menjadi celah bagi para pelaku untuk menjalankan rencana mereka.

Baca juga: Nenek di Pekanbaru Korban Pembunuhan Eks Menantu Dikenal Ramah, Kerap Bagi-bagi THR, Tetangga Syok

Eksekusi Brutal di Dalam Rumah

Dengan menggunakan mobil, para pelaku menuju rumah korban. Arnold ditinggalkan tanpa kecurigaan.

Setibanya di lokasi, pelaku berinisial SL bertindak sebagai eksekutor. Ia memukul kepala korban menggunakan kayu balok secara berulang kali hingga korban meninggal dunia.

"Sementara tiga pelaku lainnya mengambil barang-barang berharga milik korban," kata Hasyim.

Aksi tersebut berlangsung cepat dan brutal. Bahkan, saat menyadari keberadaan kamera pengawas, pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan merusak CCTV menggunakan kayu balok.

Mengelabui Keluarga dan Melarikan Diri

Setelah melakukan aksi, para pelaku masih sempat menjalankan skenario lanjutan untuk menghindari kecurigaan.

Mereka menahan Arnold yang baru tiba di rumah dan mengajaknya berbincang agar tidak langsung masuk.

Kemudian, Arnold dibawa menjauh ke arah Minas, Kabupaten Siak, dengan alasan mengunjungi keluarga. Tujuannya jelas agar ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.

"Tujuan membawa Arnold ke Minas, agar tidak mengetahui kejadian di rumah orangtuanya. Mereka ini juga mau merampas sepeda motor Arnold. Bejat mereka ini," ucap Hasyim.

Namun, rencana untuk mengambil sepeda motor tersebut akhirnya dibatalkan. Arnold kemudian ditinggalkan dengan uang Rp 50.000 untuk kembali pulang.

Baca juga: 4 Pembunuh Nenek Dumaris di Pekanbaru Akhirnya Ditangkap! Menantu Terekam CCTV saat Kejadian

Kabur ke Luar Kota dengan Mobil Sewa

Usai menjalankan aksinya, para pelaku langsung melarikan diri ke luar daerah. Mereka menggunakan mobil Xenia berwarna hitam yang telah disewa sebelumnya sebagai sarana pelarian menuju Medan.

Kejahatan ini sebelumnya juga sempat terekam kamera CCTV, yang memperlihatkan keterlibatan empat orang pelaku dua pria dan dua wanita.

Harta Dirampas, Nyawa Melayang

Dari aksi keji tersebut, sejumlah barang berharga milik korban raib. Polisi menyebut pelaku membawa kabur perhiasan emas, uang senilai 400 dolar Singapura, paspor, serta telepon genggam.

Namun lebih dari sekadar kehilangan materi, tragedi ini meninggalkan luka mendalam terutama karena pelaku utama justru berasal dari lingkaran keluarga sendiri.

Luka yang Tak Mudah Pulih

Kasus ini bukan hanya tentang kriminalitas, tetapi juga tentang runtuhnya kepercayaan dalam hubungan paling dekat.

Ketika motif ekonomi bercampur dengan pengkhianatan, hasilnya adalah tragedi yang mengguncang rasa kemanusiaan.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa kejahatan bisa datang dari arah yang paling tak terduga bahkan dari orang yang selama ini dianggap bagian dari keluarga.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.