5 Populer Regional: Sosok Nenek Dumaris Tewas Dirampok - Kiai Cabuli 50 Santriwati
Nuryanti May 04, 2026 07:34 AM

TRIBUNNEWS.COM - Populer regional dimulai dari kasus seorang nenek tewas dirampok di Kota Pekanbaru, Riau.

Korban bernama Dimaris Isni Sitio (60) dikenal sebagai sosok yang baik.

Ia sering berbagi Tunjangan Hari Raya (THR) kepada anak-anak tetangga saat Lebaran.

Kemudian ada kasus kiai tega mencabuli 50 santriwati di Pati, Jawa Tengah.

Pelaku bernama Ashari, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo.

Selain cabuli para korban, ia juga mengaku sebagai Nabi dan suap pengacara korban dengan iming-iming uang Rp400 juta.

Berikut rangkuman berita populer regional selengkapnya selama 24 jam terakhir:

1. Sosok Dumaris Isni Sitio, Nenek Tewas Dirampok di Pekanbaru, Kepergiannya Ditangisi Warga

LANSIA PEKANBARU DIBUNUH - Kasus pembunuhan sadis terhadap lansia Dimaris Isni Sitio (60) di Pekanbaru mengungkap fakta mengejutkan. (IST) (Tribunnews.com/ISTIMEWA)

Kasus perampokan kembali menggegerkan warganet Indonesia.

Terbaru, tersebar video viral detik-detik seorang nenek yang dianiaya hingga tewas.

Diketahui korban bernama Dimaris Isni Sitio (60), ditemukan tewas pada Rabu (29/4/2026).

Sementara pelakunya diduga berjumlah empat orang dan salah satunya adalah mantan menantu korban sendiri.

Siapa Sosok Nenek Dimaris?

Korban merupakan warga Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau.

Selama hidupnya Nenek Dimaris dikenal sebagai sosok yang baik.

Tetangga korban, Moses bersaksi selama ini dia tidak mendengar keluarga korban ribut karena sesuatu.

"Ibu itu baik sekali, sama tetangga sejauh ini gak ada masalah, dari saya kecil sampai sekarang juga dikenal baik, sama keluarganya juga setahu saya akur-akur saja," ujarnya, dikutip dari TribunPekanbaru.com, Minggu (2/5/2026).

Kepergian Nenek Dimaris juga ditangisi oleh Ketua RT setempat, Buk Isra.

Ia tidak menyangka korban meninggal dengan begitu tragis.

“Semua warga syok. Kami tidak menyangka kejadian seperti ini menimpa beliau,” ujar Buk Isra dengan mata berkaca-kaca, dikutip dari TribunPekanbaru.com.

Isra mengaku selama hidupnya Nenek Dimaris dikenal sebagai pribadi dermawan.

Korban rutin bagi-bagi uang kepada anak-anak di sekitar rumahnya ketika lebaran tiba.

“Beliau orangnya ramah. Anak-anak senang karena kalau lebaran sering diberi THR,” kata Isra.

Baca selengkapnya.

2. Nasib Dosen di Jambi yang Digerebek Istri: Dilaporkan ke Polisi, Dicopot dari Jabatan Wakil Dekan

DIGEREBEK - Indekos di Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, lokasi dosen di Jambi digerebek istrinya.
DIGEREBEK - Indekos di Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, lokasi dosen di Jambi digerebek istrinya. (HO/IST/TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA/Syrillus Krisdianto)

Perselingkuhan merupakan salah satu isu sosial yang terus muncul dalam kehidupan masyarakat Indonesia. 

Kasus ini tidak hanya terjadi di kalangan selebritas atau tokoh publik, tetapi juga merambah ke kehidupan masyarakat umum. 

Dengan berkembangnya teknologi dan media sosial, fenomena perselingkuhan menjadi semakin kompleks dan sering terekspos ke ruang publik.

Seperti kasus yang terjadi di Provinsi Jambi.

Dugaan perselingkuhan seorang dosen, viral di media sosial.

Hal itu setelah ia digerebek istri sah saat bersama perempuan diduga mahasiswa di sebuah kamar kos.

Meski ada tiga orang di kamar itu, namun narasi dugaan perselingkuhan antara dosen dengan perempuan itu ramai menjadi perbincangan.

Selain dosen dan perempuan diduga mahasiswi, ada seorang pria yang disebut teman sang dosen di kos tersebut.

Dosen berinisial DK itu digerebek saat berada di sebuah kamar kos di Kelurahan Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Jumat (2/5/2026).

DK merupakan dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi.

Setelah penggerebekan itu, istri sah DK melaporkan suaminya ke polisi atas dugaan perzinahan.

Baca selengkapnya.

3. Dukung Kota Hijau, Bhayangkari Kaltim Inisiasi Kerjasama Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur, Natasha Endar Priantoro, dalam penutupan Pekan Perlombaan Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur 2026, pada tanggal 2 Mei 2026.
Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur, Natasha Endar Priantoro, dalam penutupan Pekan Perlombaan Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur 2026, pada tanggal 2 Mei 2026. (HO/IST)

Komitmen mewujudkan kota hijau di Balikpapan diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan dunia pendidikan, pemerintah, dan BUMN. 

Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, dan Pegadaian KCP Manggar Balikpapan.

Kesepakatan tersebut menjadi penegasan atas kerja sama yang telah berjalan, khususnya dalam pengelolaan sampah berbasis edukasi di lingkungan sekolah. 

Dalam sebulan terakhir, Bank Sampah Unit “Pelita” di SD Kemala Bhayangkari 01 Balikpapan telah aktif melakukan pemilahan, pengumpulan, hingga penyetoran sampah ke Bank Sampah Induk “Kota Hijau” Balikpapan.

Inisiatif ini digagas Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur, Natasha Endar Priantoro, yang menekankan pentingnya keterlibatan siswa, guru, dan orang tua dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sampah.

Melalui kemitraan dengan DLH, para siswa bersama orang tua mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah dan sekolah.

Sampah yang masih bernilai kemudian disetorkan ke Bank Sampah Induk untuk dikonversi menjadi nilai ekonomi.

Baca selengkapnya.

4. 4 Pelaku Pembunuhan Nenek Dumaris di Pekanbaru Positif Gunakan Amfetamin

PEMBUNUHAN LANSIA - Seorang perempuan lanjut usia, Dimaris Isni Sitio (60), ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Kurnia 2, Rumbai, Pekanbaru, Rabu (29/4/2026). Korban diduga menjadi korban pembunuhan disertai perampokan, dengan sejumlah barang berharga dilaporkan hilang.
PEMBUNUHAN LANSIA - Seorang perempuan lanjut usia, Dimaris Isni Sitio (60), ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Kurnia 2, Rumbai, Pekanbaru, Rabu (29/4/2026). Korban diduga menjadi korban pembunuhan disertai perampokan, dengan sejumlah barang berharga dilaporkan hilang. (Tribunnews.com/Tribun Pekanbaru/Rizki Armanda)

Empat tersangka pembunuhan Dumaris Denny Waty Sitio (60), seorang nenek di Kota Pekanbaru, Riau, positif mengonsumsi amfetamin. Keempatnya adalah AF, SL, L, dan E.

Adapun amfetamin merupakan obat golongan stimulan sistem saraf pusat yang bekerja dengan cara mempercepat pengiriman pesan antara otak dan tubuh. Obat ini juga dikenal sebagai narkoba jenis stimulan karena memiliki risiko penyalahgunaan yang tinggi.

“Hasil pemeriksaan terhadap keempat tersangka, baik AF maupun SL, termasuk E dan L, positif menggunakan amfetamin atau ekstasi,” kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol. Zahwani Pandra Arsyad dalam konferensi pers, Minggu (3/5/2026).

“Jadi, di sini ada suatu pengaruh stimulan atau halusionogen sehingga pelaku dapat berani melakukan aksinya secara keji.”

Menurut Zahwani, pelaku membunuh Dumaris dengan sebuah balok kayu yang dipersiapkan jauh-jauh hari.

“Pemukulan itu tidaklah cukup sekali mengarah ke kepala dan juga ke dada. Diperhatikan lebih dari satu kali, hampir mendekati lima kali sampai korban betul-betul meninggal dunia dan dibawa ke kamar mandi.

Motif pelaku

Dumaris dibunuh oleh seorang pria yang datang ke rumahnya di Jalan Kurnia 2, Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Rabu (29/4/2026). 

Pria itu datang bersama dengan Anisa Florensia (AF), menantu Dumaris yang diduga menjadi otak di balik pembunuhan.

Dalam konferensi pers yang sama, Dirreskrimum Polda Riau Kombes Pol. Hasyim berkata motif pembunuhan itu adalah pelaku sakit hati dan ingin menguasai harta korban.

“Perlu saya sampaikan juga niat itu berubah dari ingin merampok akhirnya menjadi melakukan pembunuhan. Juga sudah direncanakan, sudah empat kali melakukan suatu perencanaan untuk mensurvei lokasi tempat kejadian perkara tersebut,” kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol. Zahwani Pandra Arsyad dalam konferensi yang sama.

Baca selengkapnya.

5. Selain Cabuli 50 Santriwati, Kiai di Pati juga Ngaku Wali Nabi dan Suap Pengacara Korban Rp400 Juta

PENCABULAN DI PATI - Sabtu siang (2/5/2026), massa dari Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi) menggelar aksi unjuk rasa di depan kediaman sekaligus pondok putri milik Ashari, pengasuh pesantren yang terjerat kasus pencabulan santriwati. Dalam aksi tersebut, warga menuntut agar Ashari segera diadili dan dijatuhi hukuman berat. Mereka menyebutnya sebagai predator seksual anak yang telah mencoreng nama baik pesantren dan merusak kepercayaan masyarakat.
PENCABULAN DI PATI - Sabtu siang (2/5/2026), massa dari Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi) menggelar aksi unjuk rasa di depan kediaman sekaligus pondok putri milik Ashari, pengasuh pesantren yang terjerat kasus pencabulan santriwati. Dalam aksi tersebut, warga menuntut agar Ashari segera diadili dan dijatuhi hukuman berat. Mereka menyebutnya sebagai predator seksual anak yang telah mencoreng nama baik pesantren dan merusak kepercayaan masyarakat. (Tribunnews.com)

Ashari, kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, diduga melakukan pencabulan terhadap 50 santriwati.

Polisi pun telah menaikan status kasus ini ke tahapan penyidikan dan menetapkan Ashari sebagai tersangka.

Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widyama, membenarkan soal hal tersebut.

Dia mengungkapkan kasus ini bermula ketika pihaknya menerima laporan pada 25 September 2025 lalu. 

“Proses hukum telah memasuki tahap penyidikan setelah adanya saksi dan bukti permulaan yang cukup,” ujarnya, dikutip dari Tribun Jateng pada Minggu (3/5/2026).

Di sisi lain, kasus ini pun akhirnya menjadi sorotan setelah polisi dianggap lambat dalam menangani kasus ini.

Akhirnya, kasus ini mencuat setelah mendapat perhatian setelah korban menanyakan perkembangan kasusnya. Dalam kasus biadab ini, korban disebut merupakan santriwati tingkat SMP mulai dari kelas 1 hingga kelas 3.

Pasca viral, korban pun mengungkap sosok Ashari yang diduga mencabuli puluhan santriwati tersebut. Selain diduga menjadi pelaku pencabulan, tersangka juga disebut melakukan tindakan penipuan.

Salah satu korban pun memberikan kesaksiannya ketika momen unjuk rasa di kediaman dan pondok putri milik Anshari yang diinisiasi oleh Aliansi Santri Pati pada Sabtu (2/5/2026).

Ngaku Wali Nabi, Digunakan Anshari untuk 'Perbudak' Korban

Seorang pria bernama Shofi mengaku menjadi korban penipuan yang dilakukan Ashari.

Tak tanggung-tanggung, dia menyebut ditipu oleh Ashari selama 11 tahun dengan modus mengaku menjadi wali nabi. Dia mengungkapkan akhirnya lepas dari tipu daya Anshari pada tahun 2018.

Shofi mengatakan modus sebagai wali nabi membuat korban termasuk dirinya terdoktrin untuk melakukan apa yang diinginkan oleh Ashari.

Pasalnya, menurutnya, tersangka kerap menunjukkan kemampuannya seperti menebak masa depan.

Baca selengkapnya.

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.