X-59 Uji Terbang Lanjutan, Jet Supersonik Senyap Tembus 1.510 Km/Jam
Eko Sutriyanto May 04, 2026 10:35 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, AMERIKA SERIKAT – Pesawat jet supersonik eksperimental X-59 milik NASA mulai menunjukkan kemampuannya dalam serangkaian uji terbang awal di atas Gurun Mojave, California, Amerika Serikat, akhir pekan lalu.

Dikutip dari situs NASA, dalam fase krusial ini, pesawat melakukan berbagai manuver penting untuk menguji performa sekaligus memperdalam pemahaman ilmuwan terhadap karakteristik penerbangan supersonik generasi baru.

Dengan balutan badan berwarna biru serta sayap dan ekor putih, X-59 tak sekadar dirancang untuk terbang cepat. Pesawat ini merupakan bagian dari misi ambisius NASA untuk menghadirkan penerbangan supersonik dengan kecepatan lebih dari 1.000 mil per jam, atau sekitar dua kali lipat pesawat komersial saat ini.

Tak hanya soal kecepatan, X-59 juga dikembangkan agar lebih ramah terhadap lingkungan suara.

Teknologi yang diusungnya mampu meredam ledakan sonik (sonic boom) menjadi dentuman yang jauh lebih halus. NASA memperkirakan suara tersebut hanya sekeras guntur di kejauhan atau seperti pintu mobil yang ditutup dari jarak jauh.

Baca juga: Iran Siapkan Senjata Baru, Borong Rudal Supersonik CM-302 Buatan China Demi Imbangi Kekuatan AS

Dalam tahap yang dikenal sebagai perluasan batas operasional, pesawat hasil kerja sama NASA dan Lockheed Martin ini melakukan berbagai manuver, termasuk gerakan auto roll dari satu sisi ke sisi lain.

Data yang dihasilkan dari setiap manuver menjadi kunci bagi tim insinyur untuk memahami bagaimana pesawat merespons kondisi nyata di udara.

Fase ini merupakan salah satu tahapan paling penting dalam pengembangan pesawat eksperimental, tidak hanya untuk mendorong batas kecepatan dan ketinggian, tetapi juga untuk menguji stabilitas, kekuatan struktur, hingga sistem kendali penerbangan secara menyeluruh.

Sejumlah manuver yang diuji pada blok pertama uji terbang antara lain manuver rollercoaster untuk mengamati respons aerodinamis saat pesawat bergerak naik-turun, serta bank-to-bank untuk menguji kemampuan pesawat berguling secara stabil dari satu sisi ke sisi lain.

Selain itu, dilakukan pula manuver eksitasi flutter, yakni pemberian getaran terkontrol pada struktur pesawat guna memastikan batas keamanan tetap terjaga.

Ada pula manuver dorongan sayap sejajar yang difokuskan pada evaluasi stabilitas longitudinal dan respons pitch pesawat.

Pengujian tidak berhenti di situ.

Tim juga melakukan manuver perpanjangan roda pendaratan dalam kondisi tertentu untuk melihat dampaknya terhadap aerodinamika dan pengendalian.

Langkah ini penting karena perubahan konfigurasi dapat memicu perubahan signifikan pada hambatan dan aliran udara.

Seluruh rangkaian uji tersebut menjadi bagian dari misi aeronautika NASA bertajuk Quesst, yang bertujuan membuka jalan bagi penerbangan komersial supersonik di atas daratan—sesuatu yang selama ini dibatasi akibat dampak ledakan sonik.

Ke depan, NASA berencana menerbangkan X-59 di atas sejumlah wilayah permukiman di Amerika Serikat untuk mengukur respons masyarakat terhadap suara yang dihasilkan. Data tersebut akan menjadi dasar bagi regulator nasional dan internasional dalam merumuskan kebijakan baru terkait penerbangan supersonik.

Namun, dalam pengujian sebelumnya, X-59 sempat menghadapi kendala teknis. Pada penerbangan kedua, Jumat (20/3/2026), pesawat hanya bertahan di udara selama sembilan menit sebelum akhirnya mendarat lebih awal akibat munculnya lampu peringatan di kokpit.

“Meskipun mendarat lebih awal, ini adalah hari yang baik bagi tim. Kami mengumpulkan lebih banyak data, dan pilot mendarat dengan selamat,” kata Cathy Bahm, manajer proyek Low-Boom Flight Demonstrator NASA di Pusat Penelitian Penerbangan Armstrong, Edwards, California.

Sebelumnya, X-59 dengan panjang sekitar 30,5 meter melakukan penerbangan perdananya pada 29 Oktober 2025, lepas landas dari fasilitas Skunk Works di Palmdale, California.

Jika seluruh pengujian berjalan sesuai rencana, X-59 berpotensi menjadi tonggak penting dalam menghadirkan era baru transportasi udara—lebih cepat tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat di darat.

Baca juga: Peluru Supersonik Kemungkinan Dipakai untuk Tembak Charlie Kirk, Kata Pakar

Perbandingan Kecepatan 

Diketahui X-59 dirancang mampu mencapai kecepatan sekitar Mach 1,4 atau setara kurang lebih 1.510 km per jam.

Angka ini memang lebih rendah dibandingkan pesawat supersonik legendaris seperti Concorde yang mampu melesat hingga Mach 2,04 (sekitar 2.180 km/jam).

Namun, Concorde memiliki kelemahan besar yakni dentuman sonic boom yang sangat keras, sehingga penerbangan supersonik di atas daratan akhirnya dibatasi di banyak negara.

Di sisi lain, jet tempur modern seperti F-22 Raptor bahkan bisa melaju lebih cepat lagi, mencapai sekitar Mach 2,25 atau sekitar 2.400 km/jam.

Pesawat ini juga memiliki kemampuan supercruise, yakni terbang supersonik tanpa menggunakan afterburner.

Meski begitu, fungsi utamanya adalah militer, bukan transportasi penumpang.

Sebagai perbandingan, pesawat komersial yang umum digunakan saat ini seperti Boeing 747 hanya terbang di kecepatan subsonik, sekitar Mach 0,85 atau kurang lebih 900 km/jam.

Kecepatan ini dianggap paling efisien sekaligus nyaman dari sisi operasional dan kebisingan.

Di tengah perbandingan tersebut, X-59 mengambil posisi yang unik. Pesawat ini memang bukan yang tercepat, tetapi dirancang menjadi yang paling “halus” dalam hal suara di kelas supersonik.

Dengan desain hidung panjang dan bentuk aerodinamis khusus, X-59 bertujuan mengubah sonic boom yang biasanya menggelegar menjadi suara yang jauh lebih lembut, sering disebut sebagai sonic thump. (NASA/space.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.