Bersiap! Ekonomi Melambat Akibat Perang AS Vs Iran, Rupiah dan Subsidi Makin Terkapar
Muhammad Arief Prasetyo May 04, 2026 11:42 AM

- Konflik bersenjata antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang telah berlangsung selama dua bulan kini mulai menunjukkan dampak serius terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.

Lonjakan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel memicu tekanan berlapis, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya risiko keluarnya modal asing, hingga bertambahnya beban subsidi energi pemerintah.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M Rizal Taufikurrahman, menyebut perang di Timur Tengah telah mentransmisikan guncangan eksternal ke perekonomian domestik, terutama melalui kenaikan harga energi dan depresiasi rupiah.

Dampak tercepat terlihat pada konsumsi rumah tangga. Dalam skenario eskalasi tinggi, konsumsi riil diperkirakan dapat terkontraksi hingga 0,21 persen akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Tekanan ini paling besar dirasakan kelompok menengah ke bawah karena kenaikan harga energi berimbas langsung pada harga pangan dan kebutuhan pokok.

Di sisi pertumbuhan ekonomi, meski Indonesia diproyeksikan tetap berada di kisaran 5 persen, kenaikan biaya energi dan logistik menekan aktivitas produksi di berbagai sektor, mulai dari pangan, industri pengolahan, transportasi, hingga jasa.

Sementara itu, tekanan terbesar muncul pada sisi fiskal.

Peneliti INDEF, Riza Annisa Pujarama, mengungkapkan sejumlah asumsi makro APBN 2026 telah meleset. Nilai tukar rupiah kini berada di kisaran Rp17.280 hingga Rp17.400 per dolar AS, sementara harga minyak telah menembus 100 dolar AS per barel.

Jika kondisi ini berlanjut, tambahan kebutuhan subsidi energi diperkirakan dapat mencapai Rp219 triliun.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga stabilitas harga melalui subsidi atau menyesuaikan harga dengan risiko menekan daya beli masyarakat.

Dampak konflik ini juga mulai memakan korban di sektor bisnis global.

Maskapai asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, resmi mengumumkan kebangkrutan setelah 34 tahun beroperasi.

Perusahaan menyebut lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi keuangan mereka.

Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat membantah konflik menjadi penyebab utama dan menilai Spirit Airlines memang telah lama berada di ambang kebangkrutan akibat persoalan model bisnis dan kerugian perusahaan yang telah mencapai 1,2 miliar dolar AS sejak 2024.

Kasus ini menjadi sinyal nyata bahwa gejolak geopolitik tak lagi sekadar isu kawasan, tetapi telah menjalar menjadi tekanan ekonomi global yang dampaknya dirasakan hingga ke Indonesia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.