Sosok Kiai Ashari, Diduga Cabuli 50 Santriwati & Suap Kuasa Hukum Korban Rp400 Juta, Kini Tersangka
Listusista Anggeng Rasmi May 04, 2026 12:56 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus dugaan pencabulan yang menyeret nama Ashari, seorang kiai di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini menjadi perhatian luas publik.

Sosok Ashari ramai diperbincangkan setelah muncul tudingan bahwa ia telah mencabuli puluhan santriwati di lingkungan pesantren tersebut.

Jumlah korban yang disebut mencapai 50 orang membuat kasus ini semakin menyita perhatian dan memicu keprihatinan masyarakat.

Di tengah proses hukum yang berjalan, muncul kabar bahwa Ashari diduga berupaya melakukan suap agar perkara tersebut tidak berlanjut.

Informasi yang beredar menyebutkan adanya tawaran uang dalam jumlah besar kepada pihak kuasa hukum korban.

Untuk diketahui, saat ini Ashari telah resmi menyandang status sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Namun demikian, hingga kini ia belum ditahan oleh pihak kepolisian, sehingga menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Kuasa hukum korban, Ali Yusron, membenarkan adanya upaya penyuapan yang dilakukan oleh pihak tersangka.

Menurut Ali, nominal uang yang ditawarkan bahkan mengalami peningkatan dari awalnya Rp 300 juta menjadi Rp 400 juta.

Baca juga: Respon Kemenag soal Kiai Cabul di Pati: Setop Penerimaan Santri, Ponpes Bisa Nonaktif Permanen

KIAI CABUL DI PATI: Terkuak sosok Ashari, seorang kiai di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang dituding mencabuli 50 santriwati.
KIAI CABUL DI PATI: Terkuak sosok Ashari, seorang kiai di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang dituding mencabuli 50 santriwati. ((Ist)/Tribunnews.com)

Meski jumlahnya besar, Ali dengan tegas menolak tawaran tersebut karena menganggapnya tidak sesuai dengan prinsip hukum dan moral.

"Tidak saya terima karena uang tersebut bagi saya bukan hak saya. Itu uang haram," tegas Ali.

Penolakan itu sekaligus menunjukkan komitmennya untuk tetap memperjuangkan keadilan bagi para korban.

Ia menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas tanpa adanya kompromi apa pun.

Selain itu, Ali juga menyoroti bahwa kasus pencabulan ini sempat mandek pada tahun 2024 sebelum akhirnya kembali diusut.

Ia berharap proses hukum kali ini berjalan transparan dan tidak berhenti di tengah jalan seperti sebelumnya.

Tak hanya itu, Ali juga mendesak aparat kepolisian untuk segera melakukan penahanan terhadap tersangka demi kepastian hukum.

"Kalau memang minggu depan tidak ditahan, saya akan bersurat ke Kapolda, Propam, hingga Itwasda," ujar Ali.

Baca juga: Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG di Demak Jawa Tengah, Jumlah Korban Disebut Terus Bertambah

KASUS PELECEHAN PATI - Kiai di Pati diduga cabuli santri, klaim wali dan keturunan Nabi terungkap korban
KASUS PELECEHAN PATI - Kiai di Pati diduga cabuli santri, klaim wali dan keturunan Nabi terungkap korban (TRIBUN JATENG/Mazka Hauzan Naufal)

Pelaku Dinonaktifkan

Ketua Yayasan Ndholo Kusumo, Ahmad Sodik, menyatakan pihaknya telah menonaktifkan Ashari dari kepengurusan pesantren pasca penetapan status tersangka.

"Sudah saya lepas. Sudah tidak termasuk anggota yayasan. Semua sudah saya ganti," tutur Ahmad.

Ahmad mengaku tidak mengetahui adanya aktivitas penyimpangan di pondok pesantren tersebut.

Ia mengklaim yayasan dan pondok merupakan dua entitas berbeda yang tidak saling mencampuri urusan internal.

"Tidak pernah dilaporkan ke saya. Saya juga tidak tahu seluk-beluk kegiatan di pondok. Pondok itu di luar yayasan. Hanya memakai nama saja. Sekarang sudah saya lepas," tambahnya.

Sisi gelap kegiatan pondok diungkap oleh Shofi, seorang warga yang pernah bekerja di sana selama 11 tahun hingga akhirnya memutuskan keluar pada 2018.

Ia mengaku diperas dan dipaksa berbohong kepada orang tuanya.

"Pondok ini dibangun dari uang budak-budak si iblis Ashari. Tahun 2008 saya disuruh berbohong sama orang tua saya kalau saya mondok di Jepara, supaya uang kiriman dari orang tua saya itu bisa masuk ke sini," beber Shofi.

Shofi menuturkan, para santri patuh karena Ashari mengklaim dirinya sebagai sosok Khariqul 'Adah atau wali yang memiliki kemampuan di luar logika manusia.

"Dia bisa menebak mbah saya meninggal kapan dan jam berapa. Dia juga bisa menebak adik saya melahirkan jam sekian, jenis kelaminnya cowok, dan nanti harus dinamai ini. Itu terjadi sungguhan sehingga saya dulu percaya dia memang wali," jelas Shofi.

Menurut Shofi, tindakan pencabulan terhadap santriwati sering dilakukan secara terang-terangan di depan umum karena para korban merasa takut untuk melawan.

"Termasuk istri saya kalau salaman juga dicium pipi kanan kiri, jidat, sama bibirnya. Santriwati saya lihat hampir semua juga mengalami. Kalau berzina kan tidak ada yang lihat," pungkas Shofi.

Hingga kini, tercatat ada 50 santriwati yang menjadi korban, dengan potensi jumlah yang masih dapat bertambah.

(Tribunnewsmaker.com/ TribunnewsBogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.