Maskapai Bangkrut Mendadak, Penumpang Terdampar Tanpa Kepastian
GH News May 04, 2026 01:09 PM
Washington -

Maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines berhenti beroperasi secara mendadak. Spirit Airlines kebangkrutan untuk kedua kalinya pada Agustus 2025.

Situasi semakin memburuk ketika konflik dengan Iran mendorong harga bahan bakar melonjak, membuat kondisi finansial perusahaan kian tidak berkelanjutan dan berada di ambang penutupan.

Mengutip CNN, Senin (4/5/2026), selama beberapa pekan, pejabat pemerintahan Donald Trump sempat menjajaki kemungkinan paket bailout senilai USD 500 juta untuk menyelamatkan maskapai tersebut. Skema ini bahkan berpotensi membuat pemerintah menguasai mayoritas saham Spirit.

Trump secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut, dengan catatan harga yang tepat.

"Mereka punya pesawat yang bagus, aset yang baik, dan ketika harga minyak turun, kita bisa menjualnya kembali dengan keuntungan," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, bulan lalu.

Namun, di balik layar, muncul perbedaan pandangan di internal pemerintah. Menteri Perdagangan Howard Lutnick disebut mendorong kesepakatan ini karena dinilai bisa menjadi kemenangan politik. Sebaliknya, Menteri Transportasi Sean Duffy bersama sejumlah pejabat lain, termasuk Stephen Miller dan Kevin Hassett, menyuarakan kekhawatiran. Mereka menilai menyuntikkan dana ke perusahaan dengan rekam jejak keuangan yang buruk berisiko tinggi.

Selain itu, rencana bailout untuk satu maskapai saja juga menuai kritik dari industri penerbangan dan kalangan Partai Republik di Kongres. Sebelumnya, bantuan pemerintah biasanya diberikan untuk seluruh industri dalam kondisi darurat besar, seperti pasca serangan teroris atau pandemi-bukan untuk satu perusahaan yang mengalami kerugian akibat kenaikan biaya operasional.

Upaya lain juga sempat dipertimbangkan, termasuk penggunaan Defense Production Act untuk mengendalikan produksi industri dalam situasi darurat. Namun opsi ini ditolak oleh Departemen Pertahanan. Pemerintah juga gagal menemukan sumber pendanaan untuk paket bailout tersebut.

Di sisi lain, pemerintah sempat mencoba mendorong akuisisi Spirit oleh maskapai lain, namun tidak ada pihak yang menunjukkan minat serius.

Akhirnya, pada Kamis, Gedung Putih memutuskan untuk tidak memberikan bailout. Lutnick kemudian menyampaikan keputusan tersebut kepada CEO Spirit, Dave Davis.

Meski sempat membuka peluang "jalan terakhir", keputusan untuk menghentikan operasional secara bertahap pun diambil.

Yang menarik, beberapa jam sebelum pengumuman berhenti operasi, bawahan Trump sudah mengalihkan kesalahan kepada pendahulu mereka.

Alex Bruesewitz, seorang penasihat luar Trump, menunjuk pada unggahan media sosial tahun 2024 oleh Senator Demokrat Elizabeth Warren yang memuji putusan hakim federal yang memblokir rencana pembelian Spirit oleh JetBlue karena kekhawatiran antimonopoli.

"Jika Spirit Airlines gagal, kesalahan akan sepenuhnya jatuh pada Elizabeth Warren yang gila dan Pemerintahan Biden. Kebijakan anti-kapitalis mereka membunuh merger Spirit-JetBlue yang seharusnya menyelamatkan maskapai dan melindungi pekerjaan para pekerjanya," tulisnya.

Hall ini langsung dibantah Warren. "Kenaikan harga bahan bakar akibat perang Trump adalah paku terakhir di peti mati maskapai Spirit yang telah dua kali bangkrut" dan bahwa merger tersebut gagal karena seorang hakim yang ditunjuk Reagan mengatakan itu ilegal," tulisnya di akun media sosialnya.

Langkah ini berdampak besar bagi penumpang. Banyak penerbangan dibatalkan, dan para traveler terpaksa mencari alternatif lain secara mendadak, menandai salah satu krisis terbesar dalam industri penerbangan AS dalam beberapa tahun terakhir.

Ratusan penumpang di berbagai bandara Amerika Serikat (AS) kini terkatung-katung tanpa kejelasan nasib bagasi mereka menyusul penutupan mendadak maskapai ini.

Maskapai tersebut mengumumkan penghentian operasional yang telah berlaku dan membatalkan seluruh jadwal penerbangan tanpa menyediakan layanan pelanggan sama sekali. "Seluruh penerbangan Spirit telah dibatalkan dan para calon penumpang Spirit diimbau untuk tidak datang ke bandara," tulis Spirit.

Namun, pengumuman yang sangat mendadak dari Spirit Airlines ini membuat penumpang pesawat yang sedang transit terdampar di tengah perjalanan.

Pada Minggu (3/5), sehari setelah penutupan resmi, banyak penumpang yang masih tertahan di bandara karena koper mereka hilang atau terjebak di dalam sistem penanganan bagasi yang kini tak bertuan.

Seorang penumpang menceritakan pengalaman dia terjebak tanpa kejelasan karena tasnya hilang setelah penerbangan dengan Spirit Airlines. "Saya tidak bisa terbang karena tas saya tidak ada, jadi saya terjebak di sini," ujarnya kepada NBC6.

Grace Florez, yang melakukan perjalanan dari North Carolina menuju Kolombia, terdampar di Fort Lauderdale setelah penerbangan sambungannya dibatalkan secara sepihak. Hingga dua hari berlalu, ia belum menemukan keberadaan tasnya.

"Ini sulit dan membuat frustrasi. Saya mencoba untuk tidak stres, tapi saya harus bekerja besok," keluh Grace.

Karena seluruh operasional maskapai dihentikan total secara mendadak, layanan pelanggan atau customer service pun kini tidak berfungsi. Penumpang dibiarkan tanpa jawaban mengenai kompensasi maupun prosedur pengambilan barang mereka.

"Saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Saya hanya bisa berharap koper saya ada di suatu tempat di belakang sana. Saya tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu," jelas Grace seperti dilansir dari CNNIndonesia.com.

Dadan Kuswaraharja
Jurnalis detikcom. Bergabung dengan dunia jurnalistik sejak 2004, aktif meliput berbagai event nasional dan internasional dengan fokus di dunia pariwisata.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.