Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Krisis air bersih yang berkepanjangan masih membayangi kehidupan masyarakat Kuluoan, sebuah wilayah yang secara administratif berada di antara Desa Seserai dan Desa Lorotolus, Kabupaten Malaka.
Hingga kini, persoalan mendasar tersebut belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, membuat warga harus bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Setiap hari, warga Dusun Kuluoan terpaksa menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan air bersih. Jika memilih menuju sumber air di wilayah Desa Seserai, mereka harus berjalan sejauh kurang lebih 1,9 kilometer.
Sementara alternatif lainnya, yakni ke Desa Lorotolus, tetap mengharuskan warga menempuh jarak sekitar satu kilometer.
Perjuangan itu tidaklah ringan. Warga umumnya menggunakan gerobak untuk mengangkut air, melintasi medan yang tidak mudah dilalui. Aktivitas ini menjadi rutinitas harian yang melelahkan, bahkan bagi kelompok rentan seperti para lanjut usia.
Kondisi tersebut menghadirkan pemandangan yang memprihatinkan. Para lansia juga terpaksa mendorong gerobak berisi air sejauh lebih dari satu kilometer, sebuah realitas yang menggambarkan beratnya beban hidup masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan dasar.
Upaya penanganan sebenarnya pernah dilakukan oleh pemerintah desa. Di Desa Lorotolus, sebuah bak penampungan air telah dibangun.
Namun hingga saat ini, fasilitas tersebut belum dapat dimanfaatkan karena tidak adanya suplai air yang memadai.
Baca juga: Polisi Beberkan Kronologi Lakalantas Tunggal Bus Sinar Gemilang Kupang-Malaka
Situasi serupa juga terjadi di Desa Seserai. Bantuan berupa satu unit sumur bor sempat diberikan, tetapi kini sudah tidak berfungsi. Hingga saat ini, belum terlihat adanya tindak lanjut perbaikan dari pihak terkait, sehingga fasilitas tersebut terbengkalai dan tidak memberikan manfaat bagi warga.
Akibat kondisi tersebut, masyarakat Kuluoan merasa terabaikan. Mereka terus berjuang secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan air bersih di tengah keterbatasan, tanpa kepastian solusi dari pihak berwenang.
Harapan pun disampaikan warga kepada pemerintah agar segera mengambil langkah nyata.
Mereka meminta perhatian serius dari pemerintah desa, DPRD Kabupaten Malaka khususnya dari daerah pemilihan (dapil) II, serta pemerintah daerah agar segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini secara konkret dan berkelanjutan.
Seorang warga Desa Lorotolus, Yanuarius Bere Helo, mengungkapkan masyarakat hanya menginginkan akses terhadap air bersih yang layak setelah bertahun-tahun menghadapi kondisi serupa.
“Kami hanya butuh air bersih yang layak. Sudah terlalu lama kami hidup dalam kondisi seperti ini,” ujarnya kepada POS-KUPANG.COM, Senin (4/5/2026).
Ia juga menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa perhatian, masyarakat Dusun Kuluoan mempertimbangkan untuk memekarkan wilayah menjadi desa sendiri sebagai bentuk upaya mencari kemandirian.
“Kalau memang kami masyarakat Kuluoan tidak diperhatikan, kami minta untuk mekar desa sendiri daripada hidup bergantung pada pemerintah desa namun mereka tidak peduli dengan kami yang sudah bertahun-tahun mengalami krisis air bersih,” tegasnya.
Yanuarius menjelaskan di wilayah Kuluoan juga hanya terdapat sebuah sumur yang dikuatirkan sewaktu-waktu akan kering.
"Sumur itu satu-satunya yang berada di Kuluoan. Itu yang biasa warga memanfaatkannya untuk ambil air bersih. Itupun harus antrian karena kedalam sumur juga kurang lebih mencapai 40 meter. Tapi biasa sumur itu kering pada musim kemarau, sehingga warga harus bisa menempuh jarak yang cukup jauh untuk peroleh akses air bersih," pungkasnya. (ito)