Anggota TNI AL Ghofirul Kasyfi Meninggal di KRI Radjiman, Keluarga Curiga
Cak Sur May 04, 2026 05:32 PM

SURYA.CO.ID, BANGKALAN - Meninggalnya seorang Tamtama TNI Angkatan Laut (AL) berpangkat Kelasi Dua, Ghofirul Kasyfi (22), meninggalkan tanda tanya besar. Anggota yang berdinas di kapal KRI dr Radjiman Wedyodiningrat, Jakarta, ini ditemukan tewas di dalam kamarnya pada akhir April 2026. Meski pihak internal menyatakan korban meninggal bunuh diri, ayah korban, Mahbub Madani (55), menolak mentah-mentah kesimpulan tersebut.

Mahbub meyakini putra kebanggaannya itu meninggal secara tidak wajar. Duka dan rasa janggal ini ia ungkapkan secara lugas usai tahlilan malam ketujuh almarhum di rumah duka Jalan Kartini 12, Kelurahan Kraton, Bangkalan, Madura, Jawa Timur (Jatim) pada Minggu (3/5/2026).

"Dia berangkat ke Jakarta dengan bangga untuk bisa mengabdi kepada negara. Tahu-tahunya pulang tinggal jasadnya saja," ungkap Mahbub mengenang kepergian sang anak, Senin (4/5/2026).

Curhat Pilu Disiksa Puluhan Senior

Usai dilantik sebagai Tamtama di Surabaya pada Desember 2025, mendiang Ghofirul mulai berdinas di KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada Februari 2026. Namun, baru sebulan berdinas, korban menghubungi ayahnya dan merintih tak sanggup lagi menghadapi masa orientasi.

"Papa, saya tidak kuat di sini, saya disiksa. Cuma saya yang dibantai, bukan oleh satu orang, tetapi 60 orang," kata Mahbub menirukan keluhan almarhum.

Kecemasan Mahbub kian beralasan, karena komunikasi dengan Ghofirul sangat dibatasi. Ponsel korban disita, sehingga ia hanya bisa mengirim pesan sembunyi-sembunyi melalui gawai baru pada hari libur.

Pesan WhatsApp terakhir sang anak pun sangat memilukan. "Pa, saya tidak kuat, saya minta pindah ke Surabaya. Saya benar-benar sakit Pa, tolong-tolong," tulis almarhum kepada sang ayah.

Deretan Kejanggalan

Selain dugaan penyiksaan, Mahbub membeberkan anomali kronologi hingga kondisi jenazah almarhum saat tiba di kampung halaman. Berikut deretan kejanggalannya:

  • Laporan Kabur Berubah Jadi Tewas: Pada 26 April 2026, dua pria yang mengaku sebagai komandan mendatangi keluarga dan menyebut Ghofirul kabur dari kapal. Anehnya, keesokan hari ia justru diumumkan tewas bunuh diri di dalam kamarnya sendiri.
  • Posisi Bekas Jeratan Tali: Mahbub mendapati bekas luka jeratan di leher korban berada terlalu ke bawah. "Seharusnya kan di atas karena dia merosot kalau gantung diri. Di situlah saya curiga dan sempat mengamuk," paparnya.
  • Luka Fisik yang Tidak Wajar: Saat peti jenazah dibuka sebatas area depan, ayah korban melihat wajah jenazah dipenuhi luka lebam. Selain itu, ditemukan juga pendarahan di bagian selangkangan.

Latar Belakang: Sorotan Kekerasan Masa Orientasi Militer

Insiden yang menimpa Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi, kembali membuka sorotan kelam publik terhadap potensi kekerasan dan perpeloncoan berkedok masa orientasi prajurit baru.

"Siang kerja, malam dibantai," begitu aduan pedih almarhum yang terekam jelas dalam ingatan sang ayah.

Meskipun prosedur autopsi awal sempat ditolak oleh ibu kandung almarhum karena alasan trauma, Mahbub bersikeras menuntut keadilan dan transparansi dari aparat TNI AL.

Bagi pihak keluarga, klaim bunuh diri sangat tidak masuk akal, mengingat sosok almarhum dikenal sangat tegar.

Publik kini menanti investigasi menyeluruh, guna memastikan tidak ada lagi nyawa prajurit yang melayang sia-sia akibat dugaan tradisi kekerasan senioritas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.