SURYA.CO.ID GRESIK - 'Lontar Sewu', yang berada di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, memiliki hamparan ribuan pohon lontar yang kini menjadi penggerak utama urat nadi perekonomian warga.
Menurut Sekretaris Desa Hendrosari, Arifin (25), ada sekitar 3.600 pohon lontar yang tersebar merata di seluruh desa, dan kini digarap oleh 114 petani setempat.
Penamaan "Lontar Sewu" sendiri disematkan karena jumlah pohonnya yang menembus lebih dari 1.000 batang.
"Secara konsep wisata sudah mulai dibicarakan sejak tahun 2013. Namun, titik baliknya terjadi pada tahun 2018 ketika ada mahasiswa Unesa membawa program Bina Hibah Desa. Saat itu, pohon-pohon lontar mulai dicat warna-warni, dan nama Lontar Sewu resmi lahir saat kami mengikuti Bursa Inovasi Desa," ujar Arifin kepada SURYA.co.id.
Baca juga: Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Mandiri, Petrokimia Gresik Gelar Bazar Lontar
Pada tahun 2019, Lontar Sewu meraih Juara 3 lomba tingkat kabupaten dan masuk dalam program Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL). Melalui tim TPKK yang dibentuk, desa ini berhasil memenangkan dana bantuan dari Kementerian Desa (Kemendes) sebesar Rp 1,3 miliar.
Perkembangan wisata ini juga mendapat apresiasi langsung dari Menteri Desa, Abdul Halim Iskandar, yang berkunjung pada 9 Februari 2020, sekaligus meresmikan tempat wisata tersebut.
Seiring waktu, tempat wisata itu terus berkembang dengan memaksimalkan potensi setempat termasuk tenaga kerjanya.
Bahkan, pada tahun 2021, wisata ini mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga hampir Rp 1 miliar.
Hadapi Penurunan Pengunjung, Siapkan Terobosan Baru. Meski sempat berjaya, Lontar Sewu tak luput dari tantangan. Memasuki tahun 2022-2023, PADes menyusut di angka Rp 650 jutaan, dan kini tren pengunjung semakin merosot.
Baca juga: Festival Panganan Giri Biyen Dukung Pelestarian Budaya dan Penguatan UMKM Gresik
Hal ini berdampak langsung pada pelaku UMKM di dalam kawasan wisata.
"Dulu UMKM yang berjualan ramai, bisa lebih dari 100 bahkan mencapai 128 pedagang. Sekarang tinggal tersisa sekitar 47 UMKM," ungkap Arifin.
Menyadari hal tersebut, pengelola tak tinggal diam. Sebagai terobosan untuk tahun 2025, Lontar Sewu memfokuskan diri pada wisata edukasi dan aktivitas outbound.
Pengelola menyiapkan 12 tim khusus untuk menangani kegiatan outbound yang menyasar anak sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga SMA.
Dalam paket wisata edukasi ini, anak-anak tidak hanya diajak bermain, tetapi juga ditunjukkan cara memanjat pohon lontar oleh petani asli dan diajak menikmati minuman khas, legen.
"Pengunjung kami banyak yang datang dari jauh seperti Lamongan, Bojonegoro, dan Tuban. Kami sediakan paket edukasi mulai Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Sedangkan untuk outbound ada paket Bronze Rp 75.000, Silver Rp 95.000, hingga Rp 120.000," jelas Arifin.
Untuk menarik pengunjung reguler di hari biasa (weekday), pengelola juga menghadirkan live acoustic dan merombak konsep kafe agar lebih segar.
Upaya kebangkitan Lontar Sewu ini mendapat dukungan penuh dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Berawal dari keikutsertaan dalam lomba Desa BRILiaN 2025, Desa Hendrosari mendapatkan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR dari BRI sebesar Rp 300 juta.
"Dana CSR dari BRI, yang sifatnya bukan pinjaman, kami gunakan untuk membangun area kanopi outbound, spot foto, serta branding wisata. Selain itu, untuk mempermudah transaksi, para merchant UMKM kami kini sudah menggunakan fasilitas QRIS BRI," papar Arifin.
Keberadaan wisata dan potensi lontar ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah Abdul Manaf (58), seorang petani dan penjual legen yang meneruskan usaha mertuanya sejak tahun 2007.
Dulu Pak Manaf memasarkan legen mendistribusikannya ke berbagai rumah makan dan menjualnya secara berkeliling (mider) ke perumahan-perumahan.
Kini, ia cukup memasarkan untuk pengunjung wisata saja.
"Kita juga terima pesanan. Legen biasanya ditaruh di freezer agar awet. Saat sedang ramai-ramainya, pendapatan dari jualan legen ini bisa mencapai Rp 1,5 juta per hari," tutur Pak Manaf.
Lewat kolaborasi antara inovasi desa, kearifan lokal petani lontar, dan dukungan korporasi seperti BRI, Lontar Sewu Gresik optimis dapat kembali menjadi primadona pariwisata yang menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di Jawa Timur.