TRIBUNJAMBI.COM - Baru-baru ini militer Iran melontarkan ancaman akan menyerang armada Amerika Serikat (AS) yang mengawal kapal-kapal di kawasan Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (4/5/2026) sebagai respons atas rencana Presiden AS, Donald Trump, yang akan mengerahkan pengawalan kapal di jalur tersebut dengan alasan kemanusiaan.
Ketegangan antara Washington dan Teheran hingga kini masih belum mereda setelah perundingan kedua pihak tidak mencapai kesepakatan.
Meski demikian, kedua negara diketahui tengah menjalani gencatan senjata sejak 8 April 2026.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik ini setelah Iran memblokade jalur tersebut, yang berdampak langsung pada distribusi minyak, gas, hingga pupuk ke berbagai negara.
Sebagai balasan, AS disebut telah memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan milik Iran.
Operasi “Proyek Kebebasan”
Dalam pernyataannya, Trump mengumumkan bahwa operasi maritim AS di Selat Hormuz akan dimulai pada 4 Mei dengan nama “Proyek Kebebasan”.
Ia menyebut operasi ini bertujuan membantu kapal-kapal yang terjebak blokade agar dapat melintas dengan aman, termasuk menjamin kebutuhan logistik awak kapal.
"Kami akan menggunakan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan aman dari Selat Hormuz. Dalam semua kasus, mereka bilang mereka tidak akan kembali sampai daerah tersebut aman untuk navigasi," tulis Trump di platform Truth Social, Minggu (3/5/2026).
Baca juga: Tak Mau Damai, Istri Gugat Cerai Dosen Usai Digerebek Bersama Mahasiswi, DK Singgung Cinta
Menanggapi hal itu, pihak militer Iran menegaskan bahwa setiap aktivitas di Selat Hormuz harus berada dalam koordinasi mereka.
Mayor Jenderal Ali Abdollahi memperingatkan keras keberadaan militer asing di kawasan tersebut.
"Kami memperingatkan semua kekuatan bersenjata asing—terutama militer AS yang agresif—jika mereka bermaksud mendekati atau memasuki Selat Hormuz, akan menjadi sasaran dan diserang," tegasnya melalui siaran televisi pemerintah IRIB.
Di sisi lain, Trump juga mengklaim adanya komunikasi antara delegasi AS dan Iran yang disebut berjalan positif, meski ia tidak menyinggung proposal 14 poin yang sebelumnya diajukan pihak Teheran.
Kekuatan Militer Dikerahkan
Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyebut bahwa operasi ini akan melibatkan kekuatan besar.
Diperkirakan sekitar 15.000 personel militer akan diterjunkan, didukung lebih dari 100 pesawat tempur dan kapal perang, termasuk sistem drone multi-domain.
Operasi ini bertujuan untuk mengembalikan kebebasan navigasi di salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menilai misi tersebut penting untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus melindungi ekonomi global.
Berdasarkan laporan intelijen maritim, lebih dari 900 kapal komersial tercatat berada di kawasan Teluk per 29 April 2026.
Dalam pelaksanaannya, kapal perusak berpeluru kendali seperti kelas Arleigh Burke diperkirakan menjadi andalan utama untuk memberikan perlindungan terhadap kapal sipil.
Meski demikian, analis menilai kapal perang tersebut tidak selalu mengawal secara langsung, melainkan beroperasi di sekitar jalur pelayaran guna menjaga keamanan secara menyeluruh.
Selain itu, helikopter bersenjata dan pesawat tempur seperti A-10 disiapkan untuk mengantisipasi ancaman, baik dari laut maupun daratan.
Tak hanya itu, penggunaan drone juga akan dimaksimalkan sebagai alat pemantau sekaligus pendukung operasi serangan jika dibutuhkan.
Dengan situasi yang terus memanas, Selat Hormuz kini kembali menjadi titik rawan yang berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.