BANGKAPOS.COM, BANGKA — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangka Barat merilis data inflasi perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Senin (4/5/2026).
Kepala BPS Bangka Barat, M. Hendy Saputra menjelaskan fenomena yang memengaruhi inflasi Bangka Barat 2025 & 2026 (m-to-m & y-on-y).
“Inflasi tahun ke tahun dan bulan ke bulan April 2026, keduanya lebih rendah dibanding bulan sebelumnya,” jelas Hendy di ruang rapat BPS Bangka Barat.
Kemudian, laju inflasi mengalami pelemahan karena permintaan masyarakat kembali ke tingkat normal setelah mengalami lonjakan di momen hari raya lebaran.
Lalu, pengaruh kenaikan harga BBM non-subsidi dan harga plastik belum secara langsung tercermin di inflasi umum (m-to-m).
Lebih lanjut, Hendy juga memaparkan kondisi inflasi m-to-m Apri 2026 terhadap Maret 2026 yang berada pada angka 0,42 persen.
“Secara bulan ke bulan (m-to-m), Kabupaten Bangka Barat mengalami inflasi sebesar 0,42 persen, inflasi ini merupakan yang kedua tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ungkapnya.
Sementara itu, inflasi tertinggi secara m-to-m dialami oleh Kota Tanjung Pandan sebesar 0,78 persen. Sedangkan inflasi terendah dialami oleh Kota Pangkalpinang sebesar 0,23 persen.
Kemudian, untuk inflasi Apri 2026 secara y-on-y atau April 2026 terhadap April 2025 yakni sebesar 2,29 persen.
“Secara tahun ke tahun (y-on-y), Bangka Barat mengalami inflasi sebesar 2,29 persen, inflasi ini masih merupakan yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” jelasnya.
Sementara inflasi y-on-y terendah dialami oleh Pangkalpinang sebesar 1,41 persen. Dari empat kabupaten kota inflasi di Provinsi Kepulan Bangka Belitung, hanya Bangka Barat dan Belitung Timur yang inflasi-nya berada di rentang target (2,5±1 persen) inflasi nasional.
Terakhir, menutup pemaparannya, Hendy meringkas data inflasi April 2026. Pada April 2026, terjadi inflasi m-to-m sebesar 0,42 persen dan inflasi y-to-d sebesar 0,92 persen. Sementara itu, inflasi y-on-y tercatat sebesar 2.29 persen.
Penyumbang utama inflasi April 2026 secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,23 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi m-to-m antara lain Jeruk, Sawi Hijau, Daging Ayam Ras, Ikan Tenggiri dan Minyak Goreng.
“Penyumbang utama inflasi April 2026 secara y-on-y adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar 1,55 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi y-on-y antara lain Emas Perhiasan, Udang Basah, Daging Ayam Ras, Jeruk, dan Cumi-Cumi,” imbuhnya.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)