Kejanggalan Kematian Prajurit TNI Ghofirul Kasyfi, Ayah Beber Curhatan Sang Anak: Saya Disiksa
Dwi Prastika May 04, 2026 09:22 PM

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ahmad Faisol

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN - Kematian anggota TNI Angkatan Laut (AL), Ghofirul Kasyfi (22), berpangkat Kelas 2, masih menyisakan tanda tanya besar bagi pihak keluarga.

Ayah Ghofirul Kasyfi, Mahbub Madani (55), secara tegas mengaku tidak percaya bahwa putranya meninggal dunia karena mengakhiri hidup, seperti yang disampaikan pihak terkait.

Peristiwa ini mencuat ke publik setelah keluarga menggelar tahlilan malam ketujuh di rumah duka yang berlokasi di Jalan Kartini 12, Kelurahan Kraton, Bangkalan, Madura, Minggu (3/5/2026) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Mahbub mengungkapkan sejumlah kejanggalan yang menurutnya tidak masuk akal.

Mahbub mengenang putranya sebagai sosok yang tegar dan tidak pernah mengeluh sejak kecil.

Ia bahkan menyebut Ghofirul sangat bangga bisa diterima sebagai anggota TNI AL.

“Dia berangkat ke Jakarta dengan gagah. Dia bangga bisa mengabdi kepada negara. Tapi pulangnya tinggal jasad,” ujar Mahbub dengan suara bergetar.

Menurut penuturan Mahbub, perubahan sikap Ghofirul mulai terlihat setelah sekitar satu bulan bertugas di kapal perang.

Saat itu, sang anak tiba-tiba menghubunginya dan mengaku tidak kuat menjalani tugas.

“Pak, saya enggak kuat di sini. Saya disiksa,” kata Mahbub menirukan ucapan anaknya.

Baca juga: TNI Ditangkap Usai Bobol Banyak Minimarket, Ternyata Pernah Dipenjara, Dandim Tulungagung Minta Maaf

Awalnya, Mahbub mengira keluhan tersebut merupakan bagian dari masa orientasi atau pembinaan awal sebagai prajurit.

Ia pun berusaha menenangkan dan menguatkan mental putranya.

Namun, Ghofirul kembali menegaskan bahwa apa yang dialaminya bukan sekadar pembinaan biasa.

“Bukan satu atau dua orang, tapi banyak. Saya dibantai,” lanjut Mahbub menirukan pengakuan anaknya.

Kondisi tersebut membuat Mahbub mulai merasa khawatir.

Ia mengaku selama ini putranya tidak pernah mengeluh, sehingga keluhan tersebut menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Tak lama setelah percakapan itu, komunikasi antara Ghofirul dan keluarga sempat terputus.

Mahbub menyebut hal ini diduga karena penggunaan ponsel dibatasi.

Baca juga: Ayah Anggota TNI di Bangkalan Ungkap Kejanggalan Kematian Anaknya: Saya Betul-betul Tidak Terima

Beberapa waktu kemudian, Ghofirul kembali menghubungi ayahnya melalui pesan singkat dengan nada yang lebih mendesak.

“Pak, saya tidak kuat. Saya minta pindah ke Surabaya. Saya benar-benar sakit,” isi pesan tersebut.

Mahbub menyadari bahwa permintaan pindah tugas bukan hal yang mudah, apalagi bagi prajurit baru.

Meski begitu, ia tetap berusaha mencari jalan untuk membantu anaknya.

Kejanggalan lain muncul ketika keluarga mendapat informasi bahwa Ghofirul sempat dicari oleh dua orang yang mengaku sebagai komandannya hingga ke Bangkalan.

Mereka menyebut Ghofirul kabur dari kapal.

Baca juga: Tentara Bangkalan Ngarit Pakan Kambing dan Jangkrik Sebelum Pergi Dinas, Cuan Rp 1 Juta Per Bulan

Namun, sehari setelah informasi tersebut, keluarga justru menerima kabar bahwa Ghofirul ditemukan meninggal dunia di dalam kamar.

“Katanya kemarin dicari dan tidak ditemukan. Tapi tiba-tiba besoknya ditemukan meninggal di kamar. Ini janggal,” ujar Mahbub.

Kecurigaan semakin kuat ketika keluarga melihat langsung kondisi jenazah.

Mahbub mengaku menemukan sejumlah tanda yang menurutnya tidak wajar.

“Saya lihat wajahnya lebam. Di bagian tubuh lain juga ada lebam, bahkan ada darah,” ungkapnya.

Ia juga mempertanyakan posisi luka jeratan di leher yang dinilai tidak sesuai dengan dugaan mengakhiri hidup.

“Kalau memang mengakhiri hidup, seharusnya bekas jeratan di atas. Tapi ini posisinya berbeda,” tegasnya.

Baca juga: Sosok Mantan Marinir yang Kini Jadi Tentara Rusia, Dulu Dipecat dari TNI karena Kesalahan Ini

Mahbub sempat ingin melakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian anaknya.

Namun, keinginan tersebut tidak terlaksana karena tidak mendapat persetujuan dari ibu Ghofirul Kasyfi, Yati Andriani.

Mahbub telah berpisah dengan Yati Andriani.

Meski demikian, ia menegaskan tetap tidak menerima kesimpulan bahwa anaknya meninggal karena mengakhiri hidup.

“Saya tidak terima anak saya dibilang mengakhiri hidup. Saya yakin ada hal yang tidak wajar,” katanya.

Ghofirul diketahui baru dilantik sebagai prajurit TNI AL pada Desember 2025 di Surabaya, sebelum akhirnya ditugaskan di kapal perang di Jakarta pada Februari 2026.

Ia disebut memiliki semangat tinggi untuk mengabdi kepada negara.

Belum Ada Penjelasan Resmi

Kasus ini kini menjadi perhatian publik, terutama terkait dugaan adanya kekerasan selama masa awal penugasan.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang menjawab seluruh kejanggalan yang disampaikan pihak keluarga.

Mahbub berharap ada penyelidikan yang transparan dan menyeluruh agar kebenaran dapat terungkap.

“Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.