Kepala Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi mengecam pengumuman Presiden Donald Trump soal 'Proyek Kebebasan' di Selat Hormuz.
Menurut Ebrahim, campur tangan AS dalam pengaturan maritim di Selat Hormuz akan melanggar gencatan senjata.
Ebrahim Azizi menegaskan, Selat Hormuz dan Teluk Persia tak akan dikelola oleh postingan khayalan Trump.
Menurutnya, setiap bentuk intervensi Amerika di wilayah itu akan dianggap sebagai tindakan serius yang berpotensi memperkeruh situasi.
Pernyataan itu disampaikan Ebrahim Azizi melalui postingan di media sosial X pada Minggu (3/5).
Lanjut Ebrahim menyatakan, tak ada pihak yang akan mempercayai narasi yang saling menyalahkan di tengah ketegangan.
"Campur tangan Amerika apa pun dalam rezim maritim baru Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata." jelas Ebrahim.
"Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh postingan khayalan Trump! Tidak seorang pun akan mempercayai skenario Saling Menyalahkan!" sambungnya.
Kecaman serupa disampaikan Mayor Jenderal Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.
Abdollahi pada Senin (4/5), mengancam akan menyerang jika pasukan AS mengawal kapal di Selat Hormuz.
Menurutnya, kehadiran pasukan asing di dekat wilayah itu bisa memicu ketegangan.
Ia menegaskan, keamanan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah wewenang angkatan bersenjata Republik Islam Iran.
Sehingga, seluruh pelayaran melalui jalur air strategis itu harus dikoordinasikan dengan pasukan militer Iran.
Terkini, Abdollahi menyatakan, Iran akan menjaga dan mengelola keamanan Selat Hormuz secara tegas.