BANGKAPOS.COM, BANGKA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku pada Senin (4/5/2026) mengejutkan konsumen di SPBU 24.331.69 Selindung Baru, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang.
Perubahan harga yang diterima secara mendadak ini memicu beragam reaksi di lapangan, mulai dari keluhan hingga penyesuaian pola konsumsi.
Dalam beberapa hari terakhir, dampaknya mulai terlihat dengan adanya penurunan pembelian BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex oleh pengguna kendaraan pribadi.
Kondisi tersebut disampaikan pengawas SPBU, Taufan yang mengungkapkan bahwa informasi kenaikan harga baru diterimanya pada malam hari sebelum perubahan berlaku.
“Saya mendapatkan instruksi pada malam hari Senin, Harga saat ini Rp26.600 per liter untuk Dexlite. Sementara Pertamina Dex dijual seharga Rp28.500 per liter,” katanya kepada Bangkapos.com
"Lah naik pulek" begitu kata konsumen, kaget saja mereka,” ucap Taufan menirukan respons pelanggan.
Menurutnya, berbeda dengan kenaikan sebelumnya yang sempat membuat sejumlah pengendara membatalkan pengisian meski sudah antre, kali ini reaksi konsumen cenderung lebih tenang.
“Hari ini tidak banyak yang mengeluhkan, lebih ke terkejut saja. Kalau kenaikan pertama dulu, ada mobil yang batal isi padahal sudah antre. Sekarang belum ada,” katanya.
Meski demikian, dampak penurunan konsumsi mulai terlihat, khususnya pada BBM non subsidi yang mayoritas digunakan kendaraan pribadi.
“Yang sering pakai BBM non subsidi di sini kebanyakan mobil pribadi. Saya sudah belasan tahun di sini, jadi sudah kenal pelanggan. Sekarang memang terasa ada penurunan,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut cukup wajar, mengingat tidak semua pemilik kendaraan mampu menyesuaikan diri dengan kenaikan harga.
“Walaupun mobilnya mahal, belum tentu semua sanggup dengan kenaikan harga BBM ini,” tambahnya.
Secara data, penurunan konsumsi terlihat jelas dalam beberapa hari terakhir. Untuk Dexlite, penjualan harian hanya berkisar 260 liter.
“Untuk Dexlite, hari Sabtu sekitar 180 liter, Minggu turun jadi 160 liter. Pertamina Dex juga sama, dari 200 liter turun ke 160 liter,” jelasnya.
Di sisi lain, konsumsi BBM subsidi jenis solar justru tidak mengalami peningkatan signifikan. Bahkan, terjadi sedikit penurunan distribusi dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Solar hari ini habis di 6 ton, biasanya bisa sampai 8 ton. Jadi tidak ada lonjakan antrean BBM subsidi,” katanya.
Taufan menyebut kondisi ini menunjukkan sebagian masyarakat masih menahan konsumsi, bukan beralih secara besar-besaran ke BBM subsidi.
Ia memperkirakan tren penurunan konsumsi BBM non-subsidi masih akan berlanjut jika harga belum kembali stabil.
“Untuk BBM non subsidi, penurunannya terasa hampir setiap hari sejak kenaikan. Kita lihat nanti kedepan seperti apa,” tutupnya.
(Bangkapos.com/Erlangga)