SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gedung bergaya kolonial Don Bosco yang berada di Jalan Tidar no 115 Kota Surabaya, merupakan satu di antara jejak bersejarah di Kota Pahlawan yang berusia 99 tahun.
Berdiri sejak 8 Desember 1927, gedung yang saat ini menjadi panti asuhan dan sekolah yang menyimpan sejarah panjang.
Yulius, salah satu pengurus Panti Asuhan Don Bosco Surabaya menjelaskan secara historis, pendirian gedung ini terjadi pada era yang sama dengan sejumlah nama besar di Kota Pahlawan, seperti Persebaya.
Hal ini menegaskan sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah Surabaya.
Dari sisi sejarah bangunan, kawasan ini juga memiliki keterkaitan dengan masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca juga: Siap Rehabilitasi Rumah Bung Karno Istana Gebang, PDIP Jatim: Jadi Ikon Wisata Sejarah Kota Blitar
Salah satu penanda penting adalah keberadaan Tugu M. Yasin yang berada di sekitar Jalan Polisi Istimewa.
Gedung Don Bosco disebut menjadi tempat penyerahan senjata dari pihak Jepang kepada pejuang Surabaya melalui M. Yasin.
Yulius menyebut, terdapat pula kemungkinan bahwa di bawah area tersebut pernah terdapat bunker penyimpanan senjata berskala besar.
“Ada dua hal yang krusial, pertama kemungkinan besar ini tempat penyerahan senjata dari Pemerintah Jepang kepada rakyat Surabaya melaluo M Yasin. Kedua, kemungkinan di bawah kita ini ada bunker penyimpanan senjata terbesar se-Asia,” sebut Yulius, salah satu pengurus Panti Asuhan Don Bosco Surabaya, Senin (4/5/2026).
Namun demikian, lanjutnya, dokumentasi resmi terkait hal tersebut masih sangat terbatas.
Baca juga: Replika Mobil Mallaby di Taman Sejarah Surabaya, Saksi Cikal Bakal Hari Pahlawan 10 November
Kondisi ini tidak terlepas dari situasi pada masa pendudukan Jepang, ketika panti asuhan sempat dikuasai dan seluruh anak-anak dipindahkan ke lokasi lain. Akibatnya, banyak arsip penting tidak terselamatkan.
“Memang saat tempat ini berdiri dari awal panti asuhan, bahwa kemudian direbut dan dijadikan tempat senjata Jepang. Walau secara dokumentasi tidak ada,” sebutnya.
Sejumlah informasi yang ada saat ini sebagian besar diperoleh dari hasil riset komunitas sejarah seperti Roodebrug Soerabaia yang aktif menelusuri dan merekonstruksi jejak masa lalu Kota Surabaya.
Dalam penelusuran sejarah yang berkembang, disebutkan bahwa meskipun kawasan ini diduga juga pernah menjadi lokasi penyimpanan persenjataan besar, pada akhirnya hanya ditemukan dua gerbong kereta api berisi senjata.
Yulius melanjutkan, dalam penelusuran sejarahnya persenjataan tersebut kemudian didistribusikan ke Jakarta dan Yogyakarta untuk membantu pertempuran di wilayah tersebut pada masa awal kemerdekaan.
Keberadaan bunker di area ini juga masih dapat ditelusuri, meski saat ini telah ditutup secara resmi demi alasan keselamatan.
Ia menggambarkan bahwa, struktur bunker yang berada di bawah tanah memiliki karakteristik bertingkat dengan akses menurun, menyerupai bunker di kawasan Gunung Merapi.
“Bunkernya masih ada tapi ditutup secara resmi, karena memang modelnya berondak, dan turun, sehingga di bawah tanah dan ada gas yang dikhawatirkan membahayakan,” sebutnya.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko, seperti paparan gas berbahaya, sehingga tidak lagi dibuka untuk umum.
Berdasarkan informasi terbaru, terdapat setidaknya tiga jenis bunker di kawasan ini.
Pertama, bunker yang diduga berfungsi sebagai tempat perlindungan manusia. Kedua, bunker penyimpanan senjata.
Ketiga, bunker penyimpanan bahan bakar minyak (BBM), yang justru masih memiliki bukti fisik paling jelas hingga saat ini.
Bunker BBM tersebut memiliki konstruksi unik berupa pelat besi tebal dengan akses tangga menurun ke bawah tanah.
Struktur ini saling terhubung dan memanjang, menunjukkan adanya sistem penyimpanan yang terintegrasi.
Keterkaitan antarbagian bunker juga diperkuat oleh temuan konstruksi yang saling mengunci di dalam tanah.
Menariknya, material yang digunakan pada bunker ini tergolong sangat kuat. Upaya pemotongan menggunakan alat modern seperti grinder pun tidak berhasil, yang mengindikasikan adanya perbedaan jenis dan kualitas bahan dibandingkan konstruksi pada umumnya.
Temuan-temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut memiliki peran penting, tidak hanya sebagai panti asuhan, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur strategis pada masa pendudukan Jepang dan awal perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Bunker ini bentuk segi empat, dari plat besi, dan berondak, ada tangga turun. Terkait satu sama lain, memanjang ke bawah. Karena memang ada bukti dari itu, dan saling terkait terkunci satu sama lain. Jadi waktu itu mau motong pakai grinder tidak bisa,” sebutnya.