Tim Kemenkes Enggan Komentar perihal Kematian Dokter Myta setelah Investigasi di Jambi
Mareza Sutan AJ May 04, 2026 10:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tim dari Kementerian Kesehatan RI memilih bungkam saat ditanyai awak media, terkait hasil investigasi awal maupun dugaan penyebab kematian dr Myta Aprilia Azmy, pada Senin (4/5/2026).

Tak ada satu pun dari tim tersebut yang memberikan tanggapan setelah pertemuan di RSUD Raden Mattaher Jambi, terkait meninggalnya dokter internship atau magang yang bertugas di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, dr Ike Silviana, mengatakan semua informasi terkait hasil investigasi akan disampaikan oleh pihak Dinas Kesehatan.

Hal itu bertujuan, agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Tunggu saja press rilisnya. Dari Kemenkes nanti akan melakukan press rilis secara menyeluruh, jadi biar satu kesatuan dan tidak terjadi miskomunikasi,” kata dr Ike.

Di satu sisi, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Raden Mattaher, Anton Tri Hartanto menjelaskan pihaknya telah meminta Kemenkes memfasilitasi keterbukaan informasi terkait hal tersebut.

“Kami juga minta difasilitasi karena masyarakat ingin tahu. Saat ini Kemenkes sedang investigasi, jadi nanti keterangan resmi langsung dari mereka,” jelasnya.

Anton menerangkan, pihaknya dan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jambi telah menyerahkan seluruh dokumen yang dibutuhkan tim investigasi.

Pihaknya juga telah memaparkan seluruh prosedur pelayanan dan penanganan pasien sesuai standar rumah sakit.

“Kami menyerahkan laporan kronologis lengkap dan seluruh data yang dibutuhkan untuk investigasi. Semua sudah kami paparkan sesuai prosedur rumah sakit,” terangnya.

Terkait kondisi dr Myta saat menjalani perawatan di rumah sakit itu, pihak rumah sakit menyebut saat itu kondisinya belum dalam keadaan kritis.

“Waktu dirawat kondisinya masih baik seperti pasien umum pada umumnya, sehingga diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan,” pungkasnya.

Pagi tadi, Tim Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melakukan investigasi intensif di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan pemeriksaan berlangsung sekitar tujuh jam, terkait meninggalnya dokter Myta.

Pantauan di lapangan, tim yang berjumlah lebih dari 10 orang tiba sekitar pukul 08.12 WIB dan langsung melakukan rapat tertutup bersama manajemen rumah sakit serta sejumlah pihak terkait, termasuk IDI Provinsi Jambi dan IKA FK Unsri.

Sekitar pukul 09.00 WIB, tim masuk ke aula RSUD untuk melakukan pembahasan awal.

Usai rapat satu jam, mereka melanjutkan pemeriksaan ke sejumlah titik, seperti ruang perawat dan instalasi gawat darurat (IGD), tempat dr Myta bertugas.

Tim baru meninggalkan lokasi sekitar pukul 17.00 WIB tanpa memberikan keterangan kepada awak media.

“Nanti, ya, nanti, kita sampaikan,” ujar salah satu anggota tim singkat.

Periksa Jadwal dan Beban Kerja

Direktur RSUD KH Daud Arif, Sahala Simatupang, mengatakan pemeriksaan mencakup berbagai aspek, termasuk jadwal kerja dr Myta selama menjalani program internship.

“Pemeriksaan, di antaranya jadwal dr Myta berdinas,” ujarnya.

Namun, ia tidak merinci lebih lanjut dan menyebut seluruh hasil akan disampaikan langsung oleh Kemenkes di Jakarta.

Selain itu, tim juga memeriksa sejumlah pihak, mulai dari rekan sesama dokter internship, dokter pembimbing, hingga manajemen rumah sakit.

Usai dari Kuala Tungkal, tim Kemenkes melanjutkan investigasi ke RSUD Raden Mattaher pada malam harinya sekitar pukul 18.00 WIB.

Di lokasi tersebut, tim kembali menggelar pertemuan tertutup bersama pihak rumah sakit dan dinas kesehatan setempat.

Namun, hingga Senin malam, belum ada keterangan resmi, baik dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, maupun Kementerian Kesehatan RI.

Kronologi Kondisi Kesehatan

Sebelumnya, dr Myta meninggal dunia di RSUP Dr. Mohammad Hoesin pada Jumat (1/5/2026) pukul 11.20 WIB, setelah sempat menjalani perawatan intensif.

Informasi yang dihimpun menyebutkan kondisi dr Myta sempat menurun saat bertugas di Kuala Tungkal.

Ia dirawat di RSUD setempat selama satu hari, kemudian dirujuk ke RSUD Raden Mattaher selama tiga hari, sebelum akhirnya dibawa ke Palembang.

Mengutip TribunSumsel.com, paman almarhumah, Febri, mengungkap bahwa keponakannya awalnya dinyatakan sehat saat mengikuti seleksi internship.

Namun sejak Maret 2026, kondisi fisiknya mulai menurun dengan keluhan sesak napas, demam, dan batuk.

“Saturasinya sempat di bawah 90 persen, bahkan menyentuh 80 persen saat masih di Jambi,” ungkapnya.

Meski dalam kondisi tersebut, dr Myta disebut masih menjalani tugas jaga malam.

Kasus Serupa Pernah Terjadi

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Muhammad Irsan Saleh, menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut.

Ia menilai kasus ini perlu diusut tuntas sebagai bahan evaluasi program internship, khususnya terkait perlindungan dan keselamatan peserta.

“Ini bukan kejadian pertama. Persoalan utamanya masih sama, yakni minimnya perlindungan terhadap peserta internship,” ujarnya.

Menurutnya, posisi dokter internship kerap berada di “ruang abu-abu” karena tidak lagi berstatus mahasiswa, namun belum sepenuhnya memiliki perlindungan kelembagaan.

FK Unsri pun mendorong investigasi menyeluruh serta mengimbau dokter muda untuk bergabung dengan organisasi profesi guna mendapatkan perlindungan yang lebih baik.

(Tribunjambi.com/Sopianto, Syrillus Krisdianto)
(Tribunsumsel.com/Linda Trisnawati)

 

Baca juga: Kemenkes akan ke Jambi Selidiki Meninggalnya Dokter Magang RSUD Tanjabbar

Baca juga: Korban Hanyut yang Ditemukan di Sungai Batang Merangin Dimakamkan Tadi Sore

Baca juga: Tim Kemenkes Investigasi 2 RSUD di Jambi Sekaligus, Kematian Dokter Myta Aprilia Azmy 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.