Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Zaman Akli SSos MM, resmi membuka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Kecamatan Blangpidie tahun 2026, bertempat di halaman Kantor Camat Blangpidie, Senin malam (4/5/2026).
Pada kegiatan tersebut turut hadir para kepala SKPK, para Camat, para Keuchik, para ulama, dan 87 peserta MTQ.
Dalam sambutannya, Wabup Abdya Zaman Akli, mengatakan bahwa MTQ bukan sekedar panggung perlombaan, bukan pula sekadar agenda tahunan yang berpindah dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.
Namun, kata Akli, MTQ adalah ruang pertemuan antara suara dan makna, antara bacaan dan penghayatan, antara tradisi dan masa depan
"Di tempat ini, kita tidak hanya mendengar lantunan ayat suci, tetapi sesungguhnya kita sedang menata arah generasi kita, masyarakat kita, dan arah Kabupaten Abdya," ucap Akli.
Ia menilai tema yang diusung, “Mewujudkan Generasi Qur’ani Menuju Arah Baru, Abdya yang Madani”, bukanlah sekadar rangkaian kata yang indah.
Tema ini, sebutnya, adalah sebuah panggilan untuk bergerak, berbenah, dan memastikan bahwa Al-Qur’an benar-benar hadir dalam denyut kehidupan masyarakat—bukan hanya di mimbar-mimbar, tetapi juga dalam sikap, kebijakan, dan keseharian masyarakat Abdya.
"Kita semua menyadari bahwa beberapa waktu ke depan, Kabupaten Abdya akan memikul sebuah amanah besar, yaitu menjadi tuan rumah MTQ Provinsi Aceh ke-38 Tahun 2027," kata Akli.
Menurutnya, amanah ini bukan hanya tentang kesiapan panggung, tenda, atau fasilitas. Namun, tentang kesiapan ruh, nilai, dan sumber daya manusia yang benar-benar mencerminkan semangat Al-Qur’an itu sendiri.
"Karena itu, MTQ tingkat kecamatan seperti yang kita laksanakan malam ini harus kita maknai sebagai fondasi. Dari sinilah kita membangun, menyeleksi, membina, dan mempersiapkan qari dan qariah terbaik kita yang mampu bersaing dengan kabupaten lainnya," ucap Akli.
Menurutnya, Kabupaten Abdya tidak boleh hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
"Kita tidak ingin hanya dikenal sebagai tuan rumah yang baik dalam penyelenggaraan, tetapi juga harus mampu tampil sebagai juara," tegasnya.
Selain itu, sambungnya, juga ingin dikenal sebagai daerah yang mampu melahirkan generasi Qur’ani yang unggul, yang tidak hanya fasih dalam melantunkan ayat, tetapi juga kuat dalam mengamalkan nilai-nilainya.
Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, sebut Akli, sering dihadapkan pada kenyataan bahwa generasi muda hidup dalam dunia yang penuh tantangan. Informasi datang tanpa batas, nilai-nilai luar masuk tanpa saringan, dan tidak jarang arah kehidupan yang mulai menjauh dari akar spiritualnya.
"Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an tidak boleh hanya menjadi simbol. Ia harus menjadi pusat, rujukan, dan kompas yang menuntun kita agar tidak kehilangan arah. MTQ adalah salah satu ikhtiar kita untuk memastikan hal itu tetap hidup," ujarnya.
Akli menyampaikan bahwa pelaksanaan MTQ bukan hanya melahirkan juara, tetapi melahirkan generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam setiap langkah hidupnya.
Baca juga: Perumdam Tirta Abdya Jalin Kerja Sama dengan Kejaksaan Terkait Pendampingan Hukum
Kepada para peserta, ia menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan sesuatu yang biasa. Ini adalah bagian dari perjalanan besar.
Ia berpesan agar terus belajar, berlatih, dan menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, karena dari situlah kemuliaan itu berasal.
"Saya juga mengajak kita semua, para orang tua, para guru, para tokoh masyarakat, dan seluruh elemen daerah, untuk mengambil bagian dalam perjalanan ini," ucapnya.
Menurutnya, membangun generasi Qur’ani tidak bisa hanya dibebankan kepada panitia atau lembaga tertentu. Ini adalah tanggung jawab bersama. Dimulai dari rumah, meunasah, sekolah, hingga ke ruang-ruang publik.
"Mari kita ciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kecintaan terhadap Al-Qur’an dan mari kita jadikan Abdya sebagai daerah yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kokoh secara spiritual," imbuhnya.
Karena pada akhirnya, kata Akli, tagline arah baru Abdya maju yang dicita-citakan bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tetapi tentang pembangunan manusia, yaitu manusia yang berakhlak, berilmu, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. (*)