Bidik Peluang Kerja di Jerman, Bupati Banyumas Sadewo Gagas Bangun BLK untuk Siapkan SDM
M Syofri Kurniawan May 05, 2026 06:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Pemerintah Kabupaten Banyumas mulai membidik pasar tenaga kerja Eropa, khususnya Jerman, yang saat ini membutuhkan ribuan pekerja dari berbagai sektor.

Peluang kerja ke luar negeri kembali terbuka lebar. 

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyebut peluang tersebut mencapai sekitar 4.000 orang untuk seluruh Indonesia.

Ia pun mendorong agar tenaga kerja asal Banyumas mampu mengambil bagian dari kebutuhan tersebut melalui persiapan yang matang.

Hal itu disampaikan Sadewo saat menerima kunjungan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Senin (4/5).

Menurut Sadewo, peluang kerja ini berawal dari inisiatif salah satu staf dinas terkait yang melakukan kunjungan ke sejumlah negara di Eropa, salah satunya Jerman.

Dari kunjungan tersebut, diperoleh berbagai informasi strategis terkait peluang kerja di luar negeri.

"Jerman saat ini sangat membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar di berbagai sektor. Ini peluang yang sangat potensial dan harus kita tangkap," ujarnya kepada TribunJateng.com. 

Menindaklanjuti hal tersebut, Sadewo mengaku telah meminta Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) untuk segera melakukan pembahasan teknis.

Ia menegaskan agar rencana tersebut tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi segera diwujudkan melalui langkah konkret.

Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah pembentukan balai latihan kerja (BLK) khusus yang fokus mempersiapkan tenaga kerja untuk penempatan ke Jerman.

Selain Jerman, Sadewo menambahkan peluang kerja di luar negeri juga terbuka di negara lain, seperti Jepang, yang selama ini sudah menjadi salah satu tujuan penempatan tenaga kerja Indonesia.

Adapun sektor yang membutuhkan tenaga kerja meliputi keperawatan, restoran, perhotelan, kafe (horeca), hingga industri manufaktur.

Dari sisi penghasilan, Sadewo mengungkapkan upah tenaga kerja di Jerman tergolong tinggi. Untuk pekerjaan paruh waktu, upah yang diterima sekitar 4 euro per jam dengan durasi kerja rata-rata 8 jam per hari.

Dengan perhitungan tersebut, penghasilan bulanan bisa mencapai sekitar Rp40 juta. Meski demikian, ia mengingatkan biaya hidup tetap harus menjadi pertimbangan. 

Berdasarkan pengalamannya saat berkunjung ke Jerman, kebutuhan hidup sehari-hari relatif terjangkau apabila dikelola dengan baik, terutama dengan memasak sendiri.

"Kalau makan di restoran memang mahal, karena biaya tenaga kerja di sana tinggi. Tapi kalau bisa mengatur sendiri, sebenarnya cukup terjangkau," jelasnya.

Selain aspek ekonomi, Sadewo juga menilai kondisi sosial di Jerman cukup nyaman. Tingkat toleransi masyarakat yang tinggi dinilai mendukung kehidupan tenaga kerja asing agar dapat beradaptasi dengan baik.

Untuk mendukung kesiapan tenaga kerja, Pemkab Banyumas berencana menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan Universitas Harapan Bangsa. 

Para calon tenaga kerja nantinya akan dibekali pelatihan, mulai dari penguasaan bahasa Jerman, keterampilan kerja sesuai bidang, hingga pemahaman budaya dan gaya hidup di negara tujuan.

Langkah ini dinilai penting agar tenaga kerja asal Banyumas tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi di lingkungan baru serta menjaga nama baik daerah dan Indonesia.

Sektor Tenaga Keperawatan

Peluang kerja ke luar negeri, khususnya ke Jerman, mulai terbuka lebar bagi tenaga kerja asal Kabupaten Banyumas.  

Bahkan, sektor keperawatan disebut-sebut menjadi yang paling menjanjikan dengan potensi penghasilan mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Banyumas, Wahyu Dewanto, mengungkapkan kebutuhan tenaga kerja di Jerman cukup besar dan mencakup berbagai sektor. Sektor yang potensial mulai dari keperawatan, horeca (hotel, restoran, dan kafe), hingga manufaktur.

"Yang dibutuhkan itu banyak skill worker dari berbagai bidang, seperti keperawatan, horeca, dan manufaktur," ujarnya kepada TribunJateng.com, usai menemui kunjungan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Senin (04/05/2026).

Dari sisi kesiapan daerah, Banyumas sebenarnya telah memiliki sejumlah program pelatihan kerja, terutama di sektor manufaktur.

Beberapa pelatihan yang sudah berjalan di antaranya pelatihan las, menjahit, servis handphone, hingga servis sepeda motor.

Menurut Wahyu, bidang-bidang tersebut masih relevan dengan kebutuhan industri di luar negeri, sehingga tinggal dilakukan penyesuaian dan peningkatan kualitas agar sesuai dengan standar internasional.

Sementara itu, untuk sektor keperawatan, Banyumas dinilai memiliki potensi besar. Hal ini didukung oleh keberadaan sejumlah perguruan tinggi yang memiliki program vokasi maupun jurusan keperawatan, seperti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Harapan Bangsa, dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

"Potensi ini ke depan akan kita integrasikan menyiapkan tenaga kerja yang siap diberangkatkan ke luar negeri," jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui pembangunan fasilitas pelatihan baru seperti Balai Latihan Kerja (BLK) membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat.

Oleh karena itu, untuk sementara pihaknya akan mengoptimalkan fasilitas yang sudah ada dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Ke depan, pemerintah daerah juga berencana membangun BLK sebagai pusat pelatihan yang lebih terintegrasi. Namun sebelum itu terealisasi, kolaborasi dengan berbagai stakeholder akan terus diperkuat.

Dari seluruh sektor yang dibutuhkan, Wahyu menilai tenaga keperawatan menjadi yang paling berpotensi. Selain didukung banyaknya kampus, kebutuhan tenaga kerja di luar negeri, khususnya di Jerman, juga sangat tinggi.

Terkait jumlah tenaga kerja yang dapat disiapkan, pihaknya saat ini masih melakukan pemetaan bersama sejumlah perguruan tinggi, seperti Unsoed, Universitas Harapan Bangsa dan UMP. 

Melalui koordinasi tersebut, akan dihitung kemampuan masing-masing institusi dalam menyiapkan tenaga kerja setiap tahunnya. Namun demikian, Wahyu menegaskan proses penempatan tenaga kerja ke luar negeri tidak bisa dilakukan secara instan. 

Ada berbagai tahapan yang harus dilalui, mulai dari pendaftaran, pelatihan bahasa asing, peningkatan keterampilan, hingga pengurusan dokumen seperti paspor dan visa.

Selain peluang ke Jerman, Banyumas juga telah memiliki program penempatan tenaga kerja ke Jepang melalui skema magang, yakni program IM Jepang. 

Program ini umumnya diikuti oleh lulusan yang telah memiliki keterampilan, khususnya dari kalangan SMK.

Dalam program tersebut, peserta akan menjalani pelatihan kerja di Jepang selama tiga tahun dengan menerima gaji sekitar 80 persen dari standar upah yang berlaku. 

Apabila dinilai kompeten, peserta berpeluang untuk diangkat menjadi pekerja tetap. 

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan penempatan tenaga kerja ke luar negeri juga melibatkan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang berperan sebagai penghubung dengan agensi di negara tujuan.

Melalui mekanisme tersebut, kebutuhan tenaga kerja dari luar negeri akan disesuaikan dengan ketersediaan serta kompetensi tenaga kerja dari dalam negeri. 

Setelah terjadi kecocokan antara kebutuhan dan kualifikasi tenaga kerja, proses dilanjutkan ke tahap berikutnya seperti pelatihan lanjutan, pengurusan administrasi, hingga pemberangkatan. Ia menambahkan, peluang kerja ke Jerman secara sistematis seperti saat ini terbilang baru pertama kali. 

Berdasarkan informasi awal, kebutuhan tenaga kerja mencapai sekitar 4.000 orang untuk berbagai sektor. Apabila seluruh tahapan berjalan lancar, pengiriman tenaga kerja ke Jerman diperkirakan sudah bisa mulai direalisasikan pada tahun depan. (Permata Putra Sejati) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.