TRIBUNPEKANBARU.COM - Wafatnya prajurit TNI Angkatan Laut, Kelasi Dua (KLD) Ghofirul Kasyfi (22) menjadi sorotan.
Korban ditmeukan tak bernyawa di atas kapal rumah sakit KRI Radjiman Wedyodiningrat.
Kematian Ghofirul memunculkan berbagai pertanyaan.
Pihak keluarga mengungkap adanya sejumlah kejanggalan, mulai dari dugaan tindakan kekerasan selama masa orientasi hingga kondisi jasad yang dianggap tidak lazim.
Ghofirul, seorang pemuda asal Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, ditemukan tak bernyawa di kamar kapal saat berada di perairan Jakarta.
Dari pihak internal disebutkan bahwa korban meninggal karena bunuh diri, namun keluarga dengan tegas menolak kesimpulan tersebut.
Ayah korban, Mahbub Madani, mengungkapkan bahwa sejak ditempatkan di KRI Radjiman pada Februari 2026, putranya kerap mengeluhkan kondisi yang dialaminya selama masa orientasi.
Menurut Mahbub, Ghofirul—yang akrab disapa Ovy—sering menghubungi keluarga, terutama ibunya, dan mengaku mengalami tekanan fisik maupun mental.
Ia bahkan menyebut menjadi korban kekerasan oleh sejumlah seniornya.
Baca juga: Polisi Dilarang Live Streaming di Medsos, Polri Dikritik: Harusnya Dibuat Aturan dan Petunjuk
Baca juga: Terkait Temuan ASN Tak Masuk Kerja Tapi Tetap Gajian, BKPP Kuansing Surati Seluruh OPD
“Anak saya bilang sering dipukul, bahkan oleh puluhan orang. Dia sudah tidak kuat dan minta pindah kapal,” ujar Mahbub, Senin (4/5/2026).
Tak hanya itu, Ovy juga mengaku hanya mendapat waktu istirahat sekitar satu jam setiap hari. Ia disebut baru bisa tidur sekitar pukul 02.00 dini hari, lalu dibangunkan kembali satu jam kemudian untuk kembali beraktivitas.
“Siang kerja, malam dibantai. Itu yang dia sampaikan ke kami,” katanya.
Kejanggalan semakin terasa ketika pada 25 April 2026, keluarga didatangi dua pria yang mengaku sebagai atasan atau komandan korban.
Mereka mencari Ghofirul dan menyebut bahwa korban diduga kabur dari kapal. Kedua pria tersebut bahkan mengklaim telah melakukan penggeledahan di kamar korban, namun tidak menemukan keberadaannya.
“Katanya kamar sudah digeledah dan anak saya tidak ada,” ungkap Mahbub.
Namun, keesokan harinya, keluarga justru menerima kabar bahwa Ghofirul telah meninggal dunia—dan disebut ditemukan di dalam kamar yang sebelumnya dinyatakan kosong.
“Ini yang sangat janggal. Sehari sebelumnya tidak ada, tapi besoknya ditemukan meninggal di kamar,” katanya.
Jenazah Ghofirul tiba di rumah duka di Bangkalan pada 27 April 2026 sekitar pukul 01.30 WIB. Saat peti dibuka, keluarga langsung melihat kondisi yang dinilai mencurigakan.
Mahbub menyebut wajah anaknya penuh lebam. Saat peti dibuka sepenuhnya pada pagi hari, ditemukan lebih banyak luka di tubuh korban, termasuk di bagian leher dan area sensitif.
“Lebamnya banyak. Bahkan di bagian selangkangan keluar darah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti luka di bagian leher yang dianggap tidak sesuai dengan dugaan bunuh diri.
“Kalau bunuh diri, biasanya bekas jeratan di atas. Tapi ini di bagian bawah leher,” jelasnya.
Keluarga juga membantah klaim pihak tertentu yang menyebut lebam tersebut sebagai tanda lahir.
“Saya tahu betul tubuh anak saya. Tidak ada tanda lahir seperti itu,” tegasnya.
Mahbub menegaskan bahwa putranya bukan sosok yang mudah menyerah. Ia menyebut Ghofirul memiliki mental kuat dan bahkan memiliki latar belakang bela diri.
“Dia anak yang tegar. Justru saya yang lebih lemah. Tidak mungkin dia bunuh diri,” katanya.
Keluarga kini mendesak dilakukan autopsi untuk mengungkap penyebab pasti kematian Ghofirul. Mereka juga meminta pihak TNI AL melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan kekerasan yang dialami korban selama bertugas.
Desakan Pengusutan
Kasus ini menambah daftar dugaan kekerasan dalam lingkungan militer, khususnya dalam masa orientasi prajurit baru.
Keluarga berharap tidak ada upaya penutupan kasus dan semua pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban.
“Kami ingin kebenaran. Anak kami tidak meninggal secara wajar,” ujar Mahbub.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi detail terkait hasil investigasi internal maupun langkah hukum lanjutan dari pihak terkait.