TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rencana kunjungan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat ke kediaman Pino Bahari (53) di Pemogan, Denpasar, Bali, batal terlaksana karena kepadatan jadwal.
Sang peraih medali emas Asian Games 1990 itu hanya bisa menerima simpati lewat sambungan telepon di tengah kondisi fisiknya yang masih ringkih dan terbaring menahan sakit pasca kecelakaan parah.
Di balik sambungan telepon tersebut, Pino menuturkan bahwa Taufik Hidayat menyampaikan permohonan maaf karena harus segera kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan kegiatannya di Pulau Dewata.
Pino Bahari, yang ditemui dalam kondisi terduduk lemas di atas kursi roda, mengungkapkan rasa syukurnya meski pertemuan fisik itu urung terjadi.
Baca juga: USAI Kecelakaan, Mantan Petinju Peraih Emas Asian Games Pulang dari RS, Ini Kata Pino Bahari
"Saya merasa sangat bersyukur secara persahabatan, sebagai sesama mantan atlet nasional, beliau masih mengingat dan mau berusaha menyempatkan diri untuk menjenguk saya," ujar Pino saat dijumpai Tribun Bali di kediamannya.
Dengan suara yang terdengar berat menahan nyeri di bagian tulang rusuknya, Pino menyadari bahwa perhatian tersebut masih bersifat personal, bukan dalam kapasitas resmi kementerian, sehingga belum ada agenda protokoler spesifik untuk menangani kondisinya.
Hingga saat ini, bantuan nyata dari lembaga pemerintah atau Kemenpora secara institusi masih nihil.
Segala bentuk dukungan finansial yang diterima Pino justru lahir dari inisiatif para sahabat dan penggalangan dana dari sesama insan olahraga.
"Secara pribadi, rekan-rekan sahabat saya di Jakarta (membantu), tapi atas nama pribadi. Belum atas nama pemerintah," tegas Pino.
Padahal, biaya operasi dan perawatan intensif yang ia jalani diperkirakan menembus angka Rp200 juta, yang beruntungnya sempat tercover oleh BPJS Kesehatan miliknya yang masih aktif.
Kondisi Pino saat ini merupakan akumulasi dari musibah kecelakaan tragis di Bypass Sanur pada 13 April lalu.
Ia menderita patah di empat ruas tulang rusuk bagian kiri belakang serta patah pergelangan kaki kiri setelah membanting setir demi menghindari tabrakan dengan pengendara motor lain.
"Sudah lumayan membaik, tapi tulang rusuk yang patah empat sama di kaki masih membatasi gerak saya. Tanggal 8 nanti ada kontrol lagi untuk melihat apakah patahan kaki sudah menyambung atau belum," ungkapnya.
Ironi yang menimpa Pino Bahari terasa semakin menyesakkan jika menilik rekam jejaknya sebagai pahlawan olahraga yang pernah merajai kelas menengah 75 kg di Asia.
Sebelum kecelakaan ini melumpuhkan aktivitasnya, putra dari pelatih legendaris Daniel Bahari ini bahkan harus menyambung hidup dengan menjadi driver online mobil, dan baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai pelatih sasana di Canggu karena penurunan jumlah anggota.
Menghadapi masa depannya yang penuh ketidakpastian, Pino tetap menyuarakan harapan agar nasib atlet nasional tidak terus-menerus bergantung pada kedermawanan pribadi sahabat.
Ia mendesak pemerintah untuk segera merancang undang-undang atau regulasi mengenai dana pensiun bagi atlet berprestasi berdasarkan tingkat pencapaiannya.
"Adanya jaminan masa tua akan mendorong orang tua untuk tidak ragu mendukung anak-anak mereka menjadi atlet nasional," pungkasnya. (*)