Avtur Mahal, Orang Super Kaya Justru Makin Sering Pakai Jet Pribadi
GH News May 05, 2026 01:08 PM
Jakarta -

Para miliarder dan kalangan super kaya dilaporkan semakin sering menggunakan jet pribadi, kendati industri penerbangan komersial sedang terpukul krisis bahan bakar akibat perang Iran. Kenapa ya?

Kondisi itu bertolak belakang dengan penerbangan komersial saat ini. Karena pasar energi global terganggu, banyak penerbangan komersial dibatalkan.

Ya, sejak konflik pecah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran dan Selat Hormuz diblokade, aliran bahan bakar minyak dari kawasan Teluk praktis terhenti. Kondisi itu memicu kelangkaan bahan bakar jet dan gangguan besar pada jadwal penerbangan komersial di berbagai negara.

Di saat bersamaan penggunaan jet pribadi justru meningkat secara global.

"Selain di Timur Tengah, industri jet pribadi global tidak terlalu terdampak kenaikan biaya bahan bakar. Bahkan, penerbangan jet pribadi naik 4,7% hingga pertengahan April," ujar analis WINGX Advance Nick Koscinski, dikutip dari Selasa (5/5/2026).

Di beberapa kota besar AS, seperti Washington DC dan Houston, kenaikannya bahkan lebih tajam, mencapai 17% dalam setahun.

Gangguan pasokan minyak membuat pengiriman bahan bakar jet turun ke level terendah. Data menunjukkan volume pengiriman jet fuel dan kerosin anjlok lebih dari separuh dibandingkan rata-rata sebelum perang.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperingatkan bahwa Eropa berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar jet hanya dalam hitungan minggu jika kondisi tidak membaik.

Harga bahan bakar Jet A1 dilaporkan sudah naik hampir dua kali lipat sejak awal tahun. Namun, kenaikan ini tidak terlalu menekan pasar jet pribadi. Biaya tambahan tersebut umumnya langsung dialihkan ke pengguna akhir, yaitu kalangan super kaya. Akibatnya, permintaan tetap stabil bahkan cenderung meningkat.

"Biaya memang naik signifikan, tapi permintaan tetap tinggi. Artinya, bagi pasar ini, kenaikan harga belum mengurangi aktivitas terbang," kata analis Richard Koe dari WINGX Advance.

Di balik tren itu, muncul sorotan soal ketimpangan. Peneliti transportasi dari Linnaeus University, Stefan Gossling, menilai persoalannya bukan hanya soal emisi, tetapi juga keadilan.

"Kerusakan terbesar ditimbulkan oleh mereka yang punya banyak uang, sementara biayanya ditanggung oleh mereka yang memiliki sedikit uang," ujar Gössling.

Sementara itu, laporan Oxfam menyoroti kesenjangan emisi yang ekstrem, menyebut miliarder dapat menghasilkan emisi karbon lebih banyak dalam 90 menit dibandingkan rata-rata orang dalam seumur hidup.

Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.