Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Perkumpulan Disabilitas Fisik Indonesia (PDFI) Papua mendorong pers mengangkat tulisan yang beriklusi Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) atau Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial untuk mencapai sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketua PDFI Papua, Roby Nyong mengungkap kondisi disabilitas di Papua masih sulit mengakses layanan publik seperti rumah sakit. Menurutnya, pengarusutamaan itu masih sangat minim padahal dalam konteks layanan itu disabilitas, lansia, ibu hamil selalu didahulukan hanya dari sisi layanan belum memahami konteks pelayanan terhadap orang disabilitas.
"Disabulitas tuli dan netra petugas tidak dapat berkomunikasi dengan disabilitas," katanya usai memberikan materi pada workshop Jurnalisme Berpespektif GEDSI: Tantangan dan Praktek di Lapangan dalam rangka World Press Freedom Day (WPFD) atau Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun 2026, di Kantor Gubernur Papua, Kota Jayapura, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Masyarakat Boiya di Kaimana Minta YPMAK Berantas TB dan Hadirkan Beasiswa
Menilai hal ini, Roby menekankan agar jurnalis lebih mengangkat dan menyuarakan kendala ini supaya pemerintah sebagai pengambil kebijakan dapat melaksanakan program yang mendukung GEDSI.
Ia menjelaskan, pada waktu pelaksanaan Peparnas XVI Papua 2021, bisa dikatakan pelayanan sudah inklusif namun setelah selesai even nasional itu semua hanya tinggal kenangan.
"Mari semangat untuk mengangkat isu sosial supaya masyarakat paham dan pemerintah bisa mengangkat program yang mendukung GEDSI," ujarnya.
Baca juga: Bulog Nabire Jamin Stok Beras 5 Kabupaten Aman 3 Bulan ke Depan