TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak banyak yang menyadari bahwa gangguan pencernaan dan kesehatan mental dapat saling berkaitan erat, bahkan membentuk siklus yang sulit dipisahkan. Hal ini terjadi pada Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan anxiety disorder.
GERD merupakan penyakit kronis akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan yang menimbulkan nyeri dada hingga sensasi terbakar di ulu hati. Sementara anxiety disorder ditandai dengan kecemasan berlebihan, ketegangan, hingga serangan panik yang sulit dikendalikan.
Keterkaitan keduanya dialami langsung oleh Dera Nur Tresna M Kes, yang mendampingi suaminya menghadapi kedua kondisi tersebut selama beberapa tahun terakhir.
Dera mengenang momen paling berat terjadi pada 2019, saat suaminya mengalami serangan panik di tengah malam. Gejalanya menyerupai serangan jantung.
“Malam itu, jam dua pagi, terasa seperti perpisahan terakhir,” ujarnya.
Saat itu, sang suami mengalami sesak napas, jantung berdebar kencang, dan kepanikan ekstrem. Dalam dunia medis, kondisi ini dapat saling memengaruhi: kecemasan dapat meningkatkan produksi asam lambung, sementara gangguan lambung juga dapat memicu kecemasan berlebih.
Dera sempat mencoba berbagai cara, termasuk berpindah tempat tinggal untuk mencari suasana lebih tenang.
Namun ia kemudian menyadari bahwa sumber utama persoalan bukan hanya lingkungan.
“Badai itu ternyata bukan di luar, tapi di dalam pikiran,” katanya.
Selain faktor mental, pola makan juga menjadi kunci penting dalam penanganan GERD. Dera sempat memberikan makanan sangat sederhana seperti bubur tanpa bumbu dengan harapan meredakan gejala.
Namun, cara ini justru berdampak sebaliknya karena menurunkan nafsu makan, memicu kekurangan energi, dan memperburuk stres serta kecemasan. Dari situ ia belajar bahwa penanganan GERD harus tetap menjaga keseimbangan nutrisi dan kenyamanan psikologis.
Baca juga: GERD Anxiety, Gangguan Lambung Bisa Memicu Hormon Stres, Penting Atur Keseimbangan Hidup
Penerimaan diri sebagai kunci
Dera menekankan pentingnya penerimaan diri dalam proses pemulihan. Kondisi mental yang lebih tenang dapat membantu menurunkan gejala fisik.
“Nikmat Allah selalu lebih banyak daripada ujian. Kesembuhan pasti ada jalannya jika kita mau rida,” ujarnya.
Perjalanan panjang itu bermula dari salah diagnosis awal serangan jantung, sebelum akhirnya diketahui sebagai GERD kronis melalui endoskopi.
Selama dua tahun, sang suami sangat bergantung pada obat, dan gejala sering kambuh saat pengobatan dihentikan.
Kondisi tersebut juga memicu kecemasan berat, gangguan tidur, hingga ketakutan berlebihan.
Berbagai upaya dilakukan, termasuk pengobatan alternatif, namun hasilnya belum optimal.
Titik balik terjadi saat Dera mempelajari pendekatan nutrigenomik dan mulai memperbaiki pola hidup secara menyeluruh, mulai dari pola makan, pola pikir, hingga manajemen stres. Perlahan kondisi suaminya membaik dan kini kembali beraktivitas normal.
Baca juga: Dari Hidup Susah hingga Sakit, Marshel Widianto Cerita Penyebab GERD Parah
Dari pengalaman itu, Dera mengembangkan nutriged bersama ahli nutraceutical menggunakan berbahan alami seperti umbi ararut, oat, rumput laut, susu kambing etawa, dan VCO.
“Tujuannya membantu pemulihan lambung secara alami,” jelasnya.
Dera juga menegaskan pentingnya peran pendamping dalam proses pemulihan pasien. Selain dukungan fisik, caregiver berperan besar sebagai penopang emosional.
Pendekatan menyeluruh—mulai dari pola makan, manajemen stres, hingga dukungan psikologis—menjadi kunci untuk memutus siklus GERD dan anxiety.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa penyembuhan tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga pada perubahan gaya hidup dan dukungan lingkungan yang tepat.