TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Warga yang bergejala keracunan pangan massal (Kerpang) di Padukuhan Toragan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Sleman terus bertambah. Berdasarkan data terbaru hingga Selasa (5/5/2026) pukul 14.00 WIB, tercatat 69 warga mengeluh sakit setelah menyantap hidangan dalam acara pamitan haji yang digelar pada Minggu (3/5) lalu.
Sebanyak 7 orang di antaranya bahkan harus dirawat di rumah sakit.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati mengatakan, dampak keracunan ini meluas tidak hanya pada tamu undangan, tetapi juga warga di luar acara yang menerima distribusi nasi boks.
Dari pendataan melalui formulir digital (Gform), sebanyak 93 orang telah memberikan laporan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 orang dinyatakan mengalami gejala keracunan seperti sakit perut, mulas, diare, pusing, hingga demam tinggi dan badan terasa panas-dingin. Mayoritas korban menjalani rawat jalan.
"Rawat jalan 50 orang dan yang rawat inap 7 orang," terang Yuli.
Tujuh korban menjalani rawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan, dengan rincian RSUD Sleman 2 orang; RSA UGM 2 orang; Klinik Shaqi 2 orang; dan RS Queen Latifa; 1 orang.
Acara pamitan haji yang diselenggarakan di gedung dakwah pada Minggu (3/5) tersebut menyajikan camilan dan nasi boks yang berisi ayam bakar, krecek, jeroan, telur rebus, dan lalapan. Belum dipastikan penyebab dugaan keracunan pangan ini. Tetapi berdasarkan keterangan warga maupun pemilik hajatan, muncul kecurigaan pada menu sambal goreng krecek yang kondisinya dianggap sudah mulur atau berlendir. Tim medis dari Dinas Kesehatan Sleman telah mengambil sampel makanan yang dicurigai.
"Sampel makanan yang diperiksa ke Laboratorium Balai Labkesmas Yogyakarta yakni ayam panggang atau bakar dan sambal goreng krecek plus Jeroan," ujar Yuli. Tim medis juga telah mengambil sampel feses salah satu korban untuk diperiksa.
Peristiwa ini bermula saat warga Toragan, Tlogoadi menggelar syukuran pamitan calon haji di sebuah gedung dakwah pada Minggu (3/5/2026) pagi. Suguhan makanan di acara tersebut berupa camilan dan nasi kotak yang menggunakan jasa katering asal Klaten. Camilan berisi lemper, pastel, donat dan sus. Sedangkan nasi boks didalamnya berisi nasi lauk ayam bakar, krecek plus jeroan, telur rebus, pisang dan lalapan timun.
Jumlah nasi kotak yang dipesan 250 dan mendapat bonus 6 porsi sehingga totalnya 256. Jumlah hidangan tersebut dibagikan kepada undangan warga yang hadir kurang lebih 110 orang. Sisanya dibagi-bagikan kepada keluarga, tetangga, Yayasan, Ustad hingga anak-anak pemain bola warga lokal.
Tuan rumah penyelenggara, Nayuku Bramantyo atau disapa Yoko mengatakan, acara dimulai pukul 08.00 WIB, dan saat memesan nasi kotak, dalam kesepakatannya, dikirim pukul 05.30 pagi tetapi baru sampai dilokasi acara pukul 06.30 WIB. Ia belum bisa memastikan menu apa yang menimbulkan gejala dugaan keracunan pangan. Tetapi ia menaruh curiga pada sambal goreng krecek, karena saat hidangan itu disantap rasanya dinilai sudah berbeda.
"Ada (yang aneh) dari krecek. (Rasanya) itu agak kecut. Bau nggak kelihatan. Tapi rasanya sudah beda," ujarnya.
Setelah menyantap hidangan tersebut, ia bersama keluarga mengaku mulai merasakan diare, gejala keracunan pangan, pada Minggu malam sekitar pukul 22.30 WIB. Yoko mengaku menjadi korban juga bersama ayah dan adiknya. Ia berharap pihak katering bertanggungjawab atas terjadinya musibah ini. Apalagi hingga Senin siang, pihak katering diakui belum ada iktikad baik menghubungi dirinya. Ia meminta ada proses hukum.
"Soalnya sudah banyak korban lho. Saya juga korban, bukan pelaku. Dan kami minta denda, kalau bisa denda," ujar dia.(*)