Penyuluh DLH Dampingi 24 RW di Panakkukang Kembangkan Bank Sampah
Saldy Irawan May 05, 2026 07:22 PM

‎TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiga penyuluh persampahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ditugaskan di Kecamatan Panakkukang untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

‎Salah satunya adalah Suharni, yang bertanggung jawab mendampingi tiga kelurahan dengan total 24 RW.

‎Suharni menjelaskan, langkah awal yang dilakukan adalah membangun koordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan, sebelum turun langsung ke tingkat RT dan RW.

‎“Kerja awal kami itu koordinasi dulu, baik dengan kecamatan maupun kelurahan. Setelah itu baru kami bergerak ke bawah, ke RT dan RW,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Selasa (5/5/2026). 

‎Ia menyebutkan, tiga wilayah yang menjadi tanggung jawabnya yakni Kelurahan Masale, Paropo, dan Pandang.

‎Dalam pelaksanaannya, Suharni menerapkan sistem kerja berbasis progres mingguan. 

‎Setiap RW yang telah diedukasi dicatat dan dipantau perkembangannya secara bertahap.

‎Salah satu fokus utama saat ini adalah pembentukan bank sampah di setiap RW sebagai langkah awal sebelum dilakukan sosialisasi besar ke masyarakat.

‎“Kita tidak bisa langsung sosialisasi ke warga kalau belum ada wadahnya. Jadi harus dibentuk dulu bank sampahnya di tingkat RW,” katanya.

‎Ia mengungkapkan, sejumlah RW telah memasuki tahap awal tersebut, bahkan ada yang mulai merencanakan sosialisasi besar dengan melibatkan warga secara langsung.

‎Di Kelurahan Paropo, misalnya, beberapa bank sampah yang sebelumnya tidak aktif kini mulai dihidupkan kembali. 

‎Sementara di Kelurahan Pandang, bank sampah yang sudah ada masih terkendala jumlah nasabah yang minim.

‎“Jadi ada yang kita aktifkan kembali, ada juga yang benar-benar kita bentuk dari awal,” tambahnya.

‎Meski demikian, Suharni mengakui tidak sedikit tantangan yang dihadapi di lapangan. 

‎Salah satunya adalah kesibukan para ketua RT dan RW, serta perlunya pendekatan kepada tokoh masyarakat agar program dapat diterima.

‎“Tantangannya itu bagaimana mengambil hati RT dan RW supaya mereka mau bergerak,” ujarnya.

‎Ia menargetkan dalam waktu dekat seluruh RW yang didampinginya sudah memiliki bank sampah sebagai pusat kegiatan pengelolaan sampah.

‎“Targetnya semua RW harus punya bank sampah. Itu jadi langkah awal, karena di situlah nanti semua kegiatan pengelolaan sampah berjalan,” tegasnya.

‎Selain sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, Suharni juga menekankan pentingnya pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga.

‎Menurutnya, pengolahan sampah organik dapat dilakukan dengan berbagai metode sederhana, seperti komposter, biopori, hingga budidaya maggot, tergantung kondisi masing-masing wilayah.

‎“Kita tidak bisa memaksakan satu metode. Kita lihat kondisi warga, baru kita arahkan cara yang paling memungkinkan,” jelasnya.

‎Hasil pengolahan sampah organik, lanjutnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos maupun pupuk cair, bahkan memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.

‎Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, logam, dan kertas dapat disetor ke bank sampah untuk kemudian dijual ke Bank Sampah Pusat.

‎“Di sana ada empat puluh tiga jenis sampah yang diterima. Ini bisa jadi penyemangat warga karena ada nilai ekonominya,” katanya.

‎Suharni juga menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumber, yakni rumah tangga, sebagai kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah.

‎“Kalau dari rumah sudah dipilah, maka pengelolaannya akan lebih mudah. Yang ke TPA itu seharusnya hanya residu, yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, saat ini pemerintah kota tengah mendorong pengurangan sampah secara signifikan ke tempat pembuangan akhir (TPA).

‎Karena itu, peran masyarakat menjadi sangat penting dalam mendukung program tersebut.

‎“Kita ini sedang dalam kondisi darurat sampah, jadi semua pihak harus terlibat. Penyuluh hanya mendampingi, tapi kunci utamanya ada di masyarakat,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.