TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiga penyuluh persampahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ditugaskan di Kecamatan Panakkukang untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Salah satunya adalah Suharni, yang bertanggung jawab mendampingi tiga kelurahan dengan total 24 RW.
Suharni menjelaskan, langkah awal yang dilakukan adalah membangun koordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan, sebelum turun langsung ke tingkat RT dan RW.
“Kerja awal kami itu koordinasi dulu, baik dengan kecamatan maupun kelurahan. Setelah itu baru kami bergerak ke bawah, ke RT dan RW,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Selasa (5/5/2026).
Ia menyebutkan, tiga wilayah yang menjadi tanggung jawabnya yakni Kelurahan Masale, Paropo, dan Pandang.
Dalam pelaksanaannya, Suharni menerapkan sistem kerja berbasis progres mingguan.
Setiap RW yang telah diedukasi dicatat dan dipantau perkembangannya secara bertahap.
Salah satu fokus utama saat ini adalah pembentukan bank sampah di setiap RW sebagai langkah awal sebelum dilakukan sosialisasi besar ke masyarakat.
“Kita tidak bisa langsung sosialisasi ke warga kalau belum ada wadahnya. Jadi harus dibentuk dulu bank sampahnya di tingkat RW,” katanya.
Ia mengungkapkan, sejumlah RW telah memasuki tahap awal tersebut, bahkan ada yang mulai merencanakan sosialisasi besar dengan melibatkan warga secara langsung.
Di Kelurahan Paropo, misalnya, beberapa bank sampah yang sebelumnya tidak aktif kini mulai dihidupkan kembali.
Sementara di Kelurahan Pandang, bank sampah yang sudah ada masih terkendala jumlah nasabah yang minim.
“Jadi ada yang kita aktifkan kembali, ada juga yang benar-benar kita bentuk dari awal,” tambahnya.
Meski demikian, Suharni mengakui tidak sedikit tantangan yang dihadapi di lapangan.
Salah satunya adalah kesibukan para ketua RT dan RW, serta perlunya pendekatan kepada tokoh masyarakat agar program dapat diterima.
“Tantangannya itu bagaimana mengambil hati RT dan RW supaya mereka mau bergerak,” ujarnya.
Ia menargetkan dalam waktu dekat seluruh RW yang didampinginya sudah memiliki bank sampah sebagai pusat kegiatan pengelolaan sampah.
“Targetnya semua RW harus punya bank sampah. Itu jadi langkah awal, karena di situlah nanti semua kegiatan pengelolaan sampah berjalan,” tegasnya.
Selain sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, Suharni juga menekankan pentingnya pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga.
Menurutnya, pengolahan sampah organik dapat dilakukan dengan berbagai metode sederhana, seperti komposter, biopori, hingga budidaya maggot, tergantung kondisi masing-masing wilayah.
“Kita tidak bisa memaksakan satu metode. Kita lihat kondisi warga, baru kita arahkan cara yang paling memungkinkan,” jelasnya.
Hasil pengolahan sampah organik, lanjutnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos maupun pupuk cair, bahkan memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, logam, dan kertas dapat disetor ke bank sampah untuk kemudian dijual ke Bank Sampah Pusat.
“Di sana ada empat puluh tiga jenis sampah yang diterima. Ini bisa jadi penyemangat warga karena ada nilai ekonominya,” katanya.
Suharni juga menekankan pentingnya pemilahan sampah dari sumber, yakni rumah tangga, sebagai kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah.
“Kalau dari rumah sudah dipilah, maka pengelolaannya akan lebih mudah. Yang ke TPA itu seharusnya hanya residu, yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini pemerintah kota tengah mendorong pengurangan sampah secara signifikan ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Karena itu, peran masyarakat menjadi sangat penting dalam mendukung program tersebut.
“Kita ini sedang dalam kondisi darurat sampah, jadi semua pihak harus terlibat. Penyuluh hanya mendampingi, tapi kunci utamanya ada di masyarakat,” jelasnya.