Jangan Takut Demam! Dokter Spesialis Anak Paparkan Risiko Fatal Jika Anak Tidak Imunisasi
Rr Dewi Kartika H May 05, 2026 07:53 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Gejala seperti demam, anak rewel, hingga bengkak di bekas suntikan sering kali membuat sebagian orang tua menunda, bahkan menolak vaksinasi.

Namun, Siti Habsyah Masri, seorang dokter spesialis anak sekaligus pegiat imunisasi, menegaskan bahwa pola pikir tersebut harus segera diluruskan.

“Meski sudah imunisasi, anak memang masih bisa sakit. Namun, gejalanya tidak akan seberat jika tidak mendapatkan imunisasi sama sekali,” ujarnya dokter Siti Habsyah Masri dalam wawancara dengan TribunJakarta.com di Program Tanya Dokter.

Ia menjelaskan bahwa imunisasi tidak bertujuan membuat anak kebal 100 persen secara instan, melainkan untuk melatih sistem pertahanan tubuh agar mampu melawan virus atau kuman secara efektif di masa depan.

Imunisasi: Mencegah Komplikasi Terburuk

Menurut dokter yang akrab disapa Dokter Ica ini, vaksin bekerja dengan cara “mengenalkan” virus yang telah dilemahkan ke tubuh anak.

Dengan begitu, saat terpapar penyakit yang sesungguhnya, tubuh sudah siap melawan.

Dampaknya sangat signifikan. Anak yang telah diimunisasi cenderung terhindar dari komplikasi berat, kebutuhan rawat inap, hingga risiko kematian.

Sebaliknya, anak tanpa imunisasi berpotensi mengalami kondisi fatal saat terinfeksi.

“Lebih baik anak mengalami demam ringan setelah vaksin daripada harus dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.

Penanganan Demam dan Reaksi Pasca-Vaksin

Salah satu ketakutan terbesar orang tua adalah demam pasca-imunisasi.

Padahal, kondisi ini merupakan reaksi normal tubuh saat sedang membentuk kekebalan. Selain demam, reaksi ringan lainnya meliputi:

  • Bengkak atau kemerahan di area suntikan.
  • Anak menjadi lebih rewel.
  • Penurunan nafsu makan sementara.

Dokter Ica menyarankan orang tua tetap tenang dan melakukan penanganan sederhana di rumah.

Untuk demam, ia merekomendasikan kompres hangat di area leher, ketiak, dan selangkangan agar lebih efektif menurunkan suhu tubuh.

Sementara untuk bengkak, kompres dingin justru lebih membantu meredakan nyeri.

“Jangan sampai tertukar: kalau demam gunakan kompres hangat, kalau bengkak gunakan kompres dingin,” jelasnya. Selain itu, pastikan anak memakai pakaian tipis dan mendapatkan asupan cairan yang cukup.

Indonesia dan Darurat Campak

Dalam kesempatan tersebut, Dokter Ica juga menyoroti tingginya kasus penyakit menular di tanah air.

“Indonesia termasuk negara dengan kasus campak terbanyak di dunia,” ungkapnya miris.

Padahal, campak dapat dicegah melalui vaksin yang dimulai sejak usia 9 bulan.

Ia menceritakan pengalamannya menangani pasien yang tidak diimunisasi dan akhirnya terkena campak hingga mengalami gagal napas.

“Orang tuanya menyesal, tapi kondisi anak sudah sangat berat dan harus menggunakan alat bantu napas,” tuturnya.

Herd Immunity: Imunisasi Sebagai Bentuk "Amal"

Manfaat imunisasi tidak hanya untuk perlindungan individu, tetapi juga menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).

Jika cakupan imunisasi mencapai lebih dari 95 persen, kelompok rentan yang tidak bisa divaksin—seperti anak dengan kanker—akan ikut terlindungi.

“Jadi, imunisasi bukan cuma melindungi anak sendiri, tapi juga bentuk kepedulian terhadap orang lain,” tambahnya.

Meluruskan Isu Kehalalan dan Imunisasi Kejar

Terkait isu kandungan vaksin yang sering memicu penolakan, Dokter Ica menjelaskan bahwa secara ilmiah, bahan tertentu memang dibutuhkan dalam proses produksi, namun pada produk akhir zat tersebut sudah mengalami perubahan total.

Selain itu, sudah ada fatwa ulama yang membolehkan penggunaan vaksin dalam kondisi darurat medis untuk mencegah kematian.

Bagi orang tua yang jadwal imunisasi anaknya tertinggal, Dokter Ica mengimbau untuk tidak berkecil hati.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Segera lakukan imunisasi kejar agar anak mendapatkan perlindungan yang seharusnya,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.