TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Nelayan Pantai Prigi Trenggalek gigit jari dengan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) Solar Non Subsidi yang diperuntukkan industri.
Solar yang digunakan untuk nelayan yang memiliki perahu diatas 30 GT sebelumnya Rp 28.150 per liter. Kini per liter menjadi Rp 30.550 per liter.
Salah satu nelayan Pantai Prigi Trenggalek, Dayak (52) tahun yang merasakan imbasnya. Dalam sekali melaut selama 10 hari, ia membutuhkan 1.500 liter solar industri.
Apabila dikalkulasi dengan harga saat ini, ia harus merogoh kocek Rp 45,825 juta untuk membeli solar sekali melaut.
Baca juga: SK 74 PNS Baru Diserahkan Ahmad Baharudin, 287 Tambahan CPNS Baru Diusulkan ke Pemerintah Pusat
"Kalau hari ini kan harga ikan masih agak bagus sedikit. Tidak tahu nanti besok-besoknya kalau ikan harganya lebih anjlok, ya sudah tidak bisa melaut," ujar Dayak kepada Tribunews, Selasa (5/5/2026).
Untuk saat ini, untuk aktivitas melaut masih tetap jalan normal. Karena untuk stok BBM Nonsubsidi kemarin sewaktu belum naik harga solar sudah belanja dalam kapasitas banyak.
"Kita kalau berangkat paling habisnya ini kan agak musibah ikan. Paling kalau lagi musim ikan, banyak menghabiskan 1.500 liter. Terkadang seribu liter habisnya," bebernya.
Dari 8 ribu liter yang sebelumnya ia beli, Dayak mengaku saat ini masih memiliki cadangan 5 ribu liter stok BBM Nonsubsidi bisa digunakan untuk beberapa keberangkatan berlayar.
"Iya. Masih bisa untuk beberapa kali berlayar masih ada," akuinya.
Pria asal Pati Jawa Tengah yang saat ini sudah berdomisili di Watulimo Trenggalek ini menaruh harapan supaya BBM Nonsubsidi bagi industri seperti dirinya bisa turun.
Jika tidak bisa turun, maka pengeluaran akan membengkak. Salah satu yang bisa dimaksimalkan adalah harga ikan dinaikkan untuk mengurangi operasional berlayar.
"Harapannya kalau bisa yang solar industri ini ya diturunkan. Kalau bisa harus diturunkan," pintanya.
Dayak sendiri dalam satu kapal ada 26 sampai 29 anak buah kapal (ABK). Apabila sebelumnya sekali pulang ABK bisa membawa Rp 1 juta, saat ini bisa dimungkinkan hanya membawa Rp 600 ribu.
"Ya termasuk. tipis untuk hasil pendapatan tipis. Dengan ABK seandainya dapat sekali pulang kok 1 juta, kalau ini Rp 600 ribu.
Terpisah ditemui di kantornya, Katimja Kesyahbandaran PPN Prigi, Tri Aspriadi Noviyanto, menerangkan kalau dampak secara signifikan belum terlalu kelihatan di nelayan.
Pasalnya, komposisi kapal yang memang menggunakan BBM non subsidi atau industri itu di PPN Prigi baru ada tiga kapal.
Kapal yang pertama kapal Putra Leo Makmur yang saat ini sedang doking di PPN Cilacap belum beroperasi sampai sekarang sejak kenaikan harga BBM tadi.
"Lalu, kedua ada Kapal Tresna itu pun juga masih belum beroperasi. Serta Kapal Berkah Nusantara yang masih juga di sini," tambahnya.
Trias menambahkan saat ini aktivitas normal, karena sebagian besar kapal di PPN Prigi masih menggunakan BBM subsidi.
Disinggung keluhan nelayan yang memiliki kapal kapasitas 30 GT tersebut, dirinya masih belum menerima.
"Sementara ini saya belum dapat keluhan dari mereka. Karena memang belum ada rencana keberangkatan," akuinya.
"Sebelumnya juga ada penyampaian ke saya sih sebenarnya dengan kenaikan harga BBM ini. Cuma karena memang belum berangkat melaut, belum ada rencana ke laut ya sementara masih belum ada saya terima keluhan dari mereka," imbuhnya.
Pengamatan di lokasi tak jauh dari PPN Prigi, perahu-perahu besar seperti milik Dayak (52) masih bersandar. Di minggu-minggu ini masih belum banyak tangkapan ikan.
Sementara di tempat pelelangan ikan PPN Prigi, tampak belasan nelayan tengah menjahit atau memperbaiki jaring untuk persiapan melaut.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)