TRIBUNKALTARA.COM, BULUNGAN–Terjadinya kenaikan Harga BBM Non Subsidi kembali menambah beban hidup para nelayan di Kampung Baru, Desa Mangkupadi, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Di tengah hasil tangkapan yang terus menurun, para nelayan kini harus menghadapi tingginya harga solar yang menjadi kebutuhan utama untuk melaut.
Kondisi ini membuat sebagian nelayan mulai mengurangi aktivitas hingga mempertimbangkan meninggalkan profesi sebagai pencari ikan.
Salah satu nelayan Kampung Baru, Rahmat Hidayat, mengatakan persoalan BBM sebenarnya sudah lama menjadi keluhan masyarakat Kampung Baru Desa Mangkupadi Kecamatan Tanjung Palas Timur Kabupaten Bulungan ini.
Baca juga: BBM Non Subsidi Naik, Warga Tarakan Keluhkan Harga Ikan Mahal, Begini Penjelasan Anggota DPR RI
Dimana sulitnya akses menuju SPBU subsidi membuat nelayan terpaksa membeli solar dengan harga jauh lebih mahal dibanding harga resmi.
"Sebenarnya persoalan BBM khusus di Kampung Baru dari dulu sudah kami keluhkan. Karena jarak kami ke pom bensin bersubsidi jauh, belum lagi jarang buka," ujarnya saat dikonfirmasi TribunKaltara.com, Selasa (5/5/2026).
Rahmat menuturkan bahkan disaat harga solar masih berada di kisaran Rp7 ribu per liter, para nelayan di Kampung Baru sudah membeli dengan harga sekitar Rp10 ribu per liter.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah menjadi hal biasa yang dialami nelayan setempat demi tetap bisa mencari nafkah di laut.
"Hal seperti ini seperti makanan pokok bagi nelayan di Kampung Baru. Kami mau protes paling hanya sampai tingkat kecamatan. Akhirnya mau tidak mau tetap kami beli walaupun harganya selangit supaya masih bisa turun melaut," ujarnya.
Baca juga: Harga BBM Dexlite Kini Rp 24.650 Per Liter, Awalnya Pengendera di Tarakan Kaget, Tapi Tetap Beli
Kini, setelah kenaikan harga BBM non subsidi, beban para nelayan disebut semakin berat. Rahmat mengungkapkan harga solar di wilayah mereka saat ini bahkan masih berada di kisaran Rp25 ribu sekian per liter.
Ia khawatir harga tersebut kembali melonjak hingga Rp30 ribu per liter setelah adanya penyesuaian harga terbaru.
"Sekarang makin tercekik lihat harga solar ini. Sudah penghasilan menurun gara-gara perusahaan KIPI masuk, sekarang ditekan lagi dengan harga solar baru yang gila-gilaan," ucapnya.
"Mungkin kalau harga baru sampai sini bisa jadi Rp30 ribu per liter. Makin hancur nelayan kalau begitu," sambung Rahmat.
Meski kondisi semakin sulit, para nelayan di Kampung Baru saat ini masih tetap bertahan melaut.
Namun, mereka mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran operasional, salah satunya dengan mengurangi penggunaan perahu dompeng berbahan bakar solar.
Ia menjelaskan jika sebagian nelayan kini mulai beralih menggunakan perahu ketinting yang memakai bensin karena dinilai lebih hemat.
Meski demikian, kemampuan mesin ketinting tidak sekuat dompeng sehingga membatasi jarak dan kapasitas melaut.
"Untuk saat ini kami masih aktif melaut, tapi mulai meminimalisir pengeluaran dengan mengurangi penggunaan mesin dompeng yang memakai solar. Sedikit-sedikit kami pakai ketinting yang menggunakan bensin, hanya saja kemampuannya tidak sama," jelasnya.
Ia menyebut kondisi laut di Kampung Baru juga tidak lagi seperti dulu. Para nelayan kini harus melaut lebih jauh ke tengah laut untuk mendapatkan hasil tangkapan yang cukup semenjak adanya kapal-kapal tongkang milik perusahaan KIPI berlalu lalang di wilayah tankap ikan Kampung Baru.
Hal ini tentu membuat para nelayan membutuhkan perahu lebih besar dengan konsumsi BBM solar yang lebih banyak.
"Kalau hal ini berlangsung terus bisa jadi kami resign jadi nelayan. Laut Kampung Baru sudah tidak seperti dulu. Kami dipaksa keluar jauh ke tengah, sedangkan itu butuh perahu besar dan mesin yang memakai solar banyak. Bisa jadi nanti beralih profesi," pungkasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu