POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Pukul 07.00 WIB, saat pintu-pintu Auditorium Zahari MZ di Desa Padang, Manggar belum sepenuhnya terbuka untuk acara seremonial, seorang bocah laki-laki sudah sibuk beserta perkakasnya. Di pelataran gedung, tepat di sisi pintu masuk utama, bocah kelas 5 SDN 13 Manggar ini sudah mulai memilah-milah bahan untuk sebuah sebuah karya.
Ardi (11) dan 9 peserta cabang lomba Kriya FLS3N tingkat Kabupaten yang lain tidak menunggu acara pembukaan dilaksanakan. Sebagai peserta, mereka tahu apa yang harus diutamakan.
Ardi harus membuat sebuah kerajinan tangan yang rumit dari nol, dimana prosesnya membutuhkan ketenangan dan durasi pengerjaan yang jauh lebih panjang dibanding lomba lain.
Di hadapan Ardi, tumpukan bahan alam mulai dibentuk. Fokusnya hanya satu, yaitu membuat sebuah replika delman kayu.
Pilihan ini cukup berisiko mengingat delman memiliki tingkat kerumitan tinggi, terutama pada bagian roda dan kuda yang membutuhkan presisi tinggi.
Selama hampir enam jam, Ardi berkutat bersama debu kayu dan peralatan khusus berupa mesin pemotong kecil. Di saat peserta lain dari cabang tari dan gambar sudah meninggalkan gedung, Ardi masih duduk di pelataran, menghaluskan setiap lekuk gerobak dan jari-jari roda.
Kepala SDN 13 Manggar sekaligus pembimbingnya, Nata Sudarya, setia memantau dari jarak dekat. Ia pun bercerita bahwa delman yang dibuat Ardi hari ini bukanlah hasil sekali jadi.
Nata mengatakan delman kayu itu adalah buah dari latihan yang sangat melelahkan selama berhari-hari di sekolah.
"Ini latihan yang kesepuluh baru bisa buat ini. Jadi di sekolah itu sudah ada sembilan macam hasil latihan seperti ini. Ardi berlatih setiap hari, sekitar 6 jam lah setiap harinya," ujar Nata.
Nata menjelaskan bahwa ide membuat delman muncul setelah mereka melihat referensi delman Jogja yang ikonik. Setelah mencocokkan pada petunjuk teknis (juknis) lomba, mereka yakin bahwa kerumitan delman ini masuk dalam kriteria penilaian yang diinginkan juri.
"Memang sedikit rumit, terutama rodanya. Roda itu susah sekali karena harus membuat ijar-ijarnya. Selain itu bagian kudanya juga punya tingkat kesulitan sendiri sebelum akhirnya menyatukan semuanya menjadi satu gerobak utuh," ucapnya.
Ardi sendiri nampaknya adalah sosok yang irit dalam berbicara. Saat ditanya apakah ia merasa capek, jawaban singkat keluar dari mulutnya.
"Capek karena lama duduk," ungkapnya.
Namun, rasa lelah itu terbayar lunas saat sore hari pukul 15.00 WIB.
Saat pengumuman dibacakan, nama Ardi keluar sebagai peraih Juara 1 cabang Kriya FLS3N tingkat Kabupaten Belitung Timur. Senyum tipis mengembang di wajah Ardi, sebuah ekspresi puas setelah enam jam bekerja.
"Senang sih, apalagi ramai juga yang teriak waktu juara tadi," ujar Ardi.
Akan tetapi, kemenangan ini tak membuat Ardi dan Nata cepat berpuas diri. Dewan juri sempat memberikan beberapa catatan penting agar karya Ardi bisa lebih sempurna saat dibawa ke tingkat provinsi nanti, contohnya pada mekanisme roda.
"Karyanya tetap ini, cuma akan diperbaiki lagi. Tadi ada masukan dari juri supaya rodanya bisa berputar sempurna, mungkin ditambah elemen lain agar menyerupai aslinya," ucap Nata.
Prestasi Ardi adalah bukti bahwa ketekunan tidak akan mengkhianati hasil. Sembilan replika delman yang ia latih di sekolah menjadi pembelajaran bagi Ardi untuk menciptakan karya kesepuluh yang sempurna di hari perlombaan.
Perjalanan Ardi kini berlanjut. Sebagai juara pertama, ia berkesempatan mewakili Kabupaten Belitung Timur di ajang provinsi.
Saat ditanya tentang harapannya di tingkat provinsi, Ardi menatap trofinya sebentar, lalu membeberkan targetnya secara malu-malu.
"Ya juara sih, juara satu terus," tutupnya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)