TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Insiden kecelakaan lalu lintas di kawasan turunan Silayur, Jalan Prof Dr Hamka, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada Senin (4/5/2026), menyisakan duka yang amat mendalam bagi keluarga korban.
Duka ganda tersebut kini dirasakan oleh Nanda Tiarawati (25), seorang warga Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Ia harus kehilangan anak perempuan satu-satunya yang bernama Ar Rasya Devinka Putri Azzah (5).
Nanda masih mengingat betul momen di akhir pekan sebelum terjadinya insiden kecelakaan nahas yang menewaskan anak kesayangannya itu. Menurut penuturannya, dua hari sebelum kejadian, ia masih menghabiskan waktu dengan ceria bersama sang buah hati.
Baca juga: Waspada Contraflow Pantura Kendal, Dua Kecelakaan Maut Tewaskan Warga Semarang dan Weleri
"Minggunya kan kita nonton festival balon udara di Tembalang itu. Terus minggu malam pulang ke rumah Bapak," kata Nanda saat ditemui Tribun Jateng di sela kunjungan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, di kediamannya, Selasa (5/5/2026).
Ia menceritakan bahwa saat itu sama sekali tidak ada hal yang terasa berbeda dari rutinitas keluarganya. Bahkan, setelah mengikuti rentetan kegiatan akhir pekan, ia sempat mempertimbangkan untuk meliburkan anaknya dari aktivitas sekolah.
"Baru saya kan pikirnya kan Senin tak ajak libur dulu mau ke (rumah) Om (paman). Om-nya kan minta dikunjungi. 'Sore ya Dik, nanti sore' minta," ujarnya menirukan percakapan dengan anaknya.
Di sela rencana kunjungan tersebut, Nanda menyebutkan bahwa almarhumah juga sempat meminta hal sederhana, yakni untuk dibelikan makanan kesukaannya.
"'Nanti kalau mau makan McD dibungkus, nanti beli,'" ujarnya dengan tegar saat mengingat permintaan makanan cepat saji kesukaan anaknya itu.
Menurut penjelasan Nanda, pada Senin pagi harinya mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan sepeda motor. Mereka berkendara bersama ayah Nanda, yang juga merupakan kakek dari Ar Rasya. Perjalanan tersebut, lanjutnya, terasa seperti perjalanan biasa yang sering mereka lakukan sehari-hari.
"Jadi jam 10.00 kita berangkat dari rumah. Jam 10.30 kejadian laka," ungkapnya dengan nada pilu.
Ia mengingat betul bahwa mereka berboncengan bertiga saat kejadian. Sama sekali tidak ada hal yang menurutnya terasa janggal sebelum momen nahas tersebut.
"Enggak ada apa-apa, jalan biasa. Enggak turunan, jalan biasa," kata Nanda mencoba mengingat situasi jalan.
Kecelakaan maut itu terjadi di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, sekitar pukul 10.20 hingga 10.30 WIB. Insiden tragis terjadi ketika sepeda motor yang ditumpangi tiga orang tersebut terlibat benturan dengan sebuah truk ringan tanpa muatan.
"Hari apes kan enggak ada di kalender. (Terkait insiden kecelakaan) Itu naik motor. Bapak saya di depan, anak saya di tengah saya pegangi, saya di belakang," ungkapnya lirih.
Di saat yang bersamaan dengan musibah kecelakaan, Nanda rupanya juga harus menerima kenyataan pahit lain terkait tempat tinggal yang dihuninya. Rumah milik mertuanya yang dihuni oleh Nanda bersama sang suami dan mertua diketahui sedang terdampak bencana tanah longsor bertahap sejak awal Mei 2026.
Retakan dan pergerakan tanah di area permukiman tersebut membuat kawasan itu menjadi sangat berbahaya untuk terus dihuni.
Nanda sendiri mengaku telah memutuskan untuk sementara waktu kembali ke rumah orang tuanya yang berada di wilayah Semarang Utara. Ia terpaksa meninggalkan rumah mertuanya yang kini dalam kondisi terancam bahaya longsor.
"Saya pulang ke rumah Bapak dulu, di Semarang Utara. Belum mau di sini. Saya mau menenangkan diri dulu di sana," ungkapnya.
Nanda membeberkan bahwa ia sudah mulai tinggal di kawasan rawan bencana tersebut sejak tahun 2019 silam, tepatnya setelah ia resmi menikah.
Ia mengaku, tanda-tanda tanah longsor sebenarnya sudah terjadi sejak cukup lama, bahkan sebelum ia menetap di permukiman tersebut.
"2019 saya di sini. Awal-awal rumah yang belakang hilang itu toh. Itu kan ada rumah satu, hilang itu pertama longsor juga. Cuman saya belum ke sini sudah hilang. Jadi pas ke sini tuh udah ada rumah. Ternyata kok gak tahunya merembet-merembet kan aslinya masih bawah situ jauh Mbak. Ini turun masih 15 meteran. Jauh sebenarnya," ceritanya merinci kondisi geografi lingkungan.
Saat bencana longsor terbaru mulai terjadi, Nanda menceritakan dirinya sedang berada di tempat kerja. Ia mengetahui kondisi genting tersebut dari media sosial dan informasi tetangga sekitar, lalu segera pulang untuk menyelamatkan barang-barang penting.
"Bulek-bulek kan juga sudah bikin story, terus Pak RT juga bikin video di Sosmed, tahu. Makanya kemarin kan begitu ini longsor kan kalau enggak salah hari Kamis apa Jum'at. Itu saya langsung (pulang)," katanya.
Di momen darurat itulah, ia sempat mengamankan sejumlah kebutuhan penting milik sang anak, termasuk seragam sekolah, di tengah kekhawatiran akan adanya longsor susulan yang lebih besar.
"Sudah apa-apa tak ambil. Seragamnya juga tak bawa. Masih kotor tak cuciin. Terus bilang minta tas, tasnya rusak," ujarnya mengenang kenangan menyentuh tersebut.
Di tengah situasi yang sangat pelik ini, Nanda mengaku hanya berharap adanya perhatian yang layak dari pemerintah setempat. Bukan semata-mata menuntut bantuan materi kompensasi, tetapi lebih kepada kehadiran yang bisa dirasakan langsung oleh warga yang sedang tertimpa musibah.
"Iya, sebenarnya tuh kita cuma mau diperhatiin aja. Dikunjungi. Jadi, kita tahu kalau kita punya pemimpin gitu ya. Anggapannya kan gitu. Dari kemarin kan belum ada yang paling dari kelurahan, lingkungan ke sini. Enggak ada apa-apanya tapi," ucap Nanda penuh harap.
Diketahui, Nanda sehari-hari berprofesi sebagai pekerja di sebuah kafe yang berlokasi di kawasan Gombel, Kecamatan Banyumanik.
"Sementara saya izin cuti dulu sampai membaik," ungkapnya memungkasi. (idy)