WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI -– Tragedi kecelakaan kereta api yang terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur menjadi alarm keras bagi keselamatan transportasi di wilayah Kota Patriot.
Merespons hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengambil langkah taktis dengan mengusulkan 22 orang untuk mengikuti pelatihan resmi penjagaan palang pintu perlintasan kereta api.
Langkah ini diambil demi memastikan bahwa seluruh titik perlintasan sebidang di wilayah Kota Bekasi dijaga oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi sesuai standar keselamatan nasional.
Baca juga: Babak Baru Kecelakaan Kereta di Bekasi: 36 Saksi Diperiksa, Giliran PT Vinfast Dipanggil Polisi
Penjagaan Profesional Demi Menekan Risiko
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa tugas menjaga palang pintu kereta api memiliki tanggung jawab yang sangat besar dan tidak boleh diserahkan kepada sembarang orang.
Pengetahuan teknis dan kesiapsiagaan tinggi menjadi syarat mutlak dalam menjalankan tugas tersebut.
"Penjagaan pintu kereta itu tidak bisa sembarangan, harus ada ilmunya [1]. Kami akan mengusulkan 22 orang untuk mengikuti pelatihan, dengan kuota awal 16 orang, agar penjagaan lebih profesional dan sesuai standar keselamatan," ujar Tri Adhianto dalam keterangannya pada Selasa (5/5/2026).
Selama proses usulan dan pelatihan berlangsung, Pemkot Bekasi telah menerjunkan personel gabungan dari Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP untuk melakukan penjagaan manual di titik-titik rawan.
Pengamanan manual ini akan terus berjalan hingga sistem pengamanan berbasis elektrikal siap diterapkan sepenuhnya.
Baca juga: KRL Tanah Abang-Rangkasbitung Terganggu, Penumpang Menumpuk di Stasiun Tanah Abang
Penutupan Perlintasan Ilegal dan Pembangunan Flyover
Selain membekali petugas dengan keahlian khusus, Pemkot Bekasi juga mengambil kebijakan tegas untuk menutup seluruh perlintasan sebidang ilegal atau "perlintasan maut" yang masih aktif digunakan warga.
Tri Adhianto mengimbau masyarakat untuk lebih mengutamakan keselamatan jiwa dibandingkan efisiensi waktu perjalanan.
"Lebih baik masyarakat memutar sedikit daripada harus menghadapi risiko kecelakaan yang bisa merenggut nyawa," jelasnya.
Sebagai solusi permanen untuk mengurai konflik antara arus kendaraan dan perjalanan kereta api, Pemkot Bekasi terus mendorong percepatan pembangunan jembatan layang (Flyover) di kawasan Bulak Kapal.
Proyek strategis ini saat ini tengah berada dalam tahapan pembebasan lahan.
"Ini adalah ikhtiar bersama. Semoga semua prosesnya dilancarkan dan ke depan tidak ada lagi kejadian serupa," tutup Tri Adhianto.