Grid.ID -Dedi Mulyadi mendadak bicarakan target 2029. Gubernur Jabar ngaku akan bebaskan Jabar dari kabel semrawut yang disebut rusak wajah kota.
Dedi Mulyadi selama ini memang tak pernah sepi dari perbincangan publik. Gebrakan Gubernur Jabar itu selalu jadi sorotan publik.
Terbaru, target Dedi Mulyadi pada 2029. Gubernur Jabar akan bebaskan Jabar dari kabel semrawut sampai sebut rusak wajah kota.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menargetkan seluruh kabupaten dan kota di wilayahnya terbebas dari kabel semrawut pada tahun 2029. Penataan tersebut akan dilakukan dengan memindahkan jaringan kabel ke bawah tanah.
Menurutnya, kabel yang tidak tertata menjadi persoalan paling mencolok di ruang publik sehingga harus segera diperbaiki. Dedi menegaskan, pemasangan kabel yang berantakan wajib dihentikan dan diganti sepenuhnya dengan sistem jaringan bawah tanah.
"Saya tidak ingin lagi melihat kabel bergelantungan di jalan-jalan kota. Itu merusak wajah kota dan berbahaya," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari Kompas.com.
Ia menargetkan pada 2029 seluruh kabel listrik dan telekomunikasi di pusat kota sudah tersusun rapi. Penataan akan diawali dari kawasan Gedung Sate, Kota Bandung, yang menjadi pusat pemerintahan.
Selanjutnya, program tersebut akan diperluas ke wilayah lain, seperti Kabupaten Karawang, dengan melibatkan operator telekomunikasi serta pihak terkait.
"Kami mulai dari pusat dulu, dari Gedung Sate. Itu simbol. Kalau di sana rapi, daerah lain harus ikut," kata Dedi.
Dedi menilai, kabel semrawut bukan hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga berisiko bagi keselamatan.
"Kabel yang tidak tertata itu rawan putus, rawan kebakaran, dan membahayakan masyarakat. Ini bukan sekadar soal enak dilihat, tetapi soal keamanan," ucapnya.
Agar program berjalan lancar, ia meminta pekerjaan infrastruktur dilakukan secara terpadu supaya tidak ada bongkar pasang fasilitas.
"Tidak boleh lagi ada trotoar baru dibangun, lalu dibongkar lagi karena kabel. Semua harus masuk satu sistem sejak awal. Sekali kita bangun, harus tuntas. Jangan ada gali-tutup yang merusak fasilitas publik," ucapnya.
Ia juga meminta pemerintah kabupaten dan kota menerapkan langkah serupa agar penataan berjalan merata. Dedi menambahkan, penempatan kabel bawah tanah ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki kawasan perkotaan di Jawa Barat supaya lebih tertata dan aman.
"Kita ingin kota-kota di Jawa Barat naik kelas-lebih tertib, lebih aman, dan punya standar infrastruktur yang baik. Ini bukan proyek jangka pendek, ini fondasi masa depan Jawa Barat," tuturnya.
Selanjutnya, Dedi Mulyadi mendorong penataan kota yang berlandaskan budaya di Kabupaten Sumedang sebagai langkah mengembalikan jati diri Sunda di tengah derasnya modernisasi.
Hal tersebut disampaikan Dedi, yang dikenal dengan sapaan KDM, saat menghadiri rangkaian Kirab Mahkota Binokasih di Pendopo Pusat Pemerintahan Sumedang, Sabtu (2/5/2026). Menurutnya, momen kirab bukan sekadar acara seremonial budaya, melainkan harus menjadi awal pembangunan yang berpijak pada nilai-nilai lokal.
“Sunda bukan hanya seni pertunjukan, tetapi sistem nilai pembangunan yang harus menjadi dasar dalam membangun daerah,” ujarnya, dikutip dari TribunJabar.id.
Ia menegaskan, kota yang kuat ialah kota yang mampu mempertahankan identitas budayanya. Karena itu, penataan kawasan perkotaan di Sumedang perlu diarahkan agar mencerminkan karakter Sunda, terutama di jalur utama dari Keraton Sumedang Larang menuju pusat kota.
Berbagai langkah nyata pun didorong, mulai dari penataan gapura dan ornamen berciri budaya, pemasangan lampu jalan dengan identitas lokal seperti simbol Mahkota Binokasih, hingga penataan kios dan ruang publik agar lebih tertib, bersih, serta indah dipandang. Pembenahan saluran air juga dinilai penting sebagai bagian dari wajah kota.
“Kalau kota tertata rapi, bersih, dan memiliki ciri budaya, Sumedang bisa menjadi pusat kebudayaan yang sesungguhnya,” katanya.
Lebih jauh, Dedi mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai Sunda. Ia menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas sebagai fondasi peradaban.
“Mulih ka jati diri, kembali ke asal. Menyatukan manusia, alam, dan nilai ilahiah, itu yang harus menjadi dasar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Kirab Mahkota Binokasih merupakan simbol perjalanan panjang peradaban Sunda yang harus diikuti langkah nyata dalam pembangunan ke depan.
“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi perjalanan membangun masa depan. Sumedang harus menjadi contoh bagaimana budaya menjadi dasar pembangunan,” tegasnya.
Dengan semangat gotong royong atau sabilulungan, ia berharap seluruh elemen masyarakat terlibat dalam membangun Sumedang sebagai pusat budaya tanpa kehilangan identitas.
“Dengan kebersamaan, kita bisa membangun daerah yang maju tanpa meninggalkan jati dirinya,” katanya.