TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA – Sejumlah orang terluka dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Kalimantan Timur di depan Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (5/5/2026) sore.
Ujung rasa tersebut berujung bentrok sehingga mengakibatkan sejumlah aktivis mengalami luka serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Pantauan di lapangan, aksi yang dimulai sekitar pukul 15.40 WITA awalnya berjalan normal dengan mimbar bebas.
Namun, menjelang sore, tensi meningkat hingga terjadi gesekan fisik antara massa aksi dan aparat keamanan.
Aksi saling kejar pun meluas hingga ke badan jalan, yang sempat memicu kemacetan arus lalu lintas di kawasan Jalan Gajah Mada.
Ketua Umum PKC PMII Kalimantan Timur, Muhammad Said Abdillah, menyesalkan tindakan represif yang menyebabkan jatuhnya korban dari pihak mahasiswa.
Berdasarkan pendataan internal mereka, terdapat empat kader yang mengalami luka berat.
“Kami mendata ada empat kader kami yang luka berat sampai berdarah. Satu orang dilarikan ke rumah sakit karena kepalanya bocor hingga mendapat sepuluh jahitan, sementara tiga lainnya pingsan,” ungkapnya.
Ia menduga kericuhan dipicu oleh kelelahan kedua belah pihak karena waktu yang sudah berlarut sore, ditambah adanya lemparan-lemparan kecil yang memicu panasnya suasana.
Dalam video yang beredar, tampak sejumlah massa aksi diamankan secara paksa oleh aparat ke area dalam kantor gubernur.
Said Abdillah menjelaskan bahwa kedatangan mereka sebenarnya untuk merespons pernyataan Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud, yang sebelumnya mengeklaim bahwa kantor gubernur terbuka 24 jam bagi masyarakat.
Baca juga: DPRD Kaltim Bawa Hak Angket Gubernur Rudy Masud ke Paripurna, Pengamat: Kita Tunggu Sikap Golkar
PMII hadir untuk menyampaikan aspirasi hasil kajian terkait kebijakan daerah.
Beberapa poin tuntutan utama yang diusung antara lain:
“Kami berharap Gubernur intropeksi diri terkait komunikasi publik dan kebijakan yang tidak pro-rakyat di tengah upaya efisiensi. Ini tugas kami sebagai aktivis mahasiswa untuk menyuarakan hal tersebut,” tegasnya.
Akibat jatuhnya korban luka, PMII Kaltim memutuskan mengubah agenda kegiatan.
Rencana awal untuk menggelar mimbar bebas hingga malam hari dibatalkan dan diganti dengan pernyataan sikap tertulis mengenai situasi kericuhan yang terjadi.
Ketua Umum PC PMII Samarinda, Taufikudin, mengakui pihaknya sudah mengantongi informasi bahwa Gubernur Rudy Masud tidak ada di tempat sebelum aksi dimulai.
Namun hal itu tidak mengubah keputusan mereka untuk tetap turun ke jalan.
"Tentu aksi ini adalah bentuk keresahan kami dari PMII Samarinda, yang di mana Gubernur Kalimantan Timur tidak ada di lokasi, dan bahkan ada informasi itu hanya ada para OPD-OPD. Namun kami akan menolak," tegas Taufikudin.
Baca juga: Ratusan Warga Nobar Sidang Paripurna DPRD Kaltim, Soroti Pembahasan Hak Angket
Kendati demikian, Taufikudin menegaskan bahwa aksi PMII ini tetap mengedepankan cara-cara damai dan mengutamakan ruang diskusi.
Pihaknya menjamin massa tidak akan melakukan tindakan anarkis selama proses penyampaian aspirasi berlangsung.
Sementara itu, pihak keamanan melalui Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Trantibum) Satpol PP Kaltim, Edwin Noviansyah Rachim, menyatakan telah berupaya memediasi massa.
Pihaknya sempat menawarkan perwakilan mahasiswa untuk masuk dan melakukan audiensi secara resmi.
Namun, tawaran tersebut ditolak oleh massa aksi yang bersikeras hanya ingin bertemu langsung dengan Gubernur Kaltim.
Alhasil, mahasiswa memilih bertahan untuk menyampaikan aspirasi di depan gerbang kantor.
"Kami sudah ajak, tapi mereka tidak mau audiensi. Jadi di depan gerbang saja mereka berorasi," pungkas Edwin.
dan
Walau Gubernur Kaltim Absen, Demo PMII Samarinda Tak Kendur Suarakan Tuntutan