2 Kronologi Berbeda Kasus Pemukulan Waketum PSI: Saling Klaim Menjadi Korban
Glery Lazuardi May 06, 2026 03:19 AM

TRIBUNNEWS.COM - Kasus dugaan pemukulan yang melibatkan Wakil Ketua Umum PSI, Ronald A Sinaga atau Bro Ron, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, memunculkan versi berbeda dari kedua belah pihak.

Ical, pria yang disebut sebagai terduga pelaku, mengklaim dirinya justru lebih dulu menjadi korban sebelum insiden terjadi.

Dalam pengakuannya melalui video Rani Stones Sanjaya, Ical menyebut tidak mengetahui persoalan yang berlangsung saat datang ke kantor firma hukum di kawasan Cikini.

Namun, situasi berubah ketika Bro Ron tiba.

Menurut Ical, Waketum PSI tersebut langsung melontarkan kata-kata kasar dan bernada rasis.

"Dia (Bro Ron) datang langsung ngoceh-ngoceh, ngomong-ngomonog, maki-maki saya, nah maki-maki plus dia rasis ditambah tonjok di ulu hati saya," ujar Ical seperti dikutip dari video Bang Rani Stones via akun Misstweet di X, Selasa (5/5/2026).

Ical menegaskan tidak ada cekcok sebelumnya dan dirinya tidak memiliki hubungan dengan Ronald.

Ia mengaku telah melakukan visum serta melaporkan balik dugaan pemukulan ke pihak kepolisian.

Rekan Ical, Andi, juga mengakui melakukan pemukulan terhadap Bro Ron.

Ia menyebut tindakannya dipicu emosi setelah mendengar dugaan hinaan terhadap Ical.

"Saya akui saya salah pukul dia, tapi saya enggak terima orang tua saya dihina, dimaki terus kata-kata kasar dan rasis keluar dari mulutnya. Ketiga abis mukul itu, Bro Ron sendiri dan dua temannya balik juga nyerang saya. bahkan ketika saya jatuh, saya bangkit dipukul pakai kursi," katanya.

Baca juga: Alasan PSI Terima Pengunduran Diri Ade Armando, Singgung soal Kebebasan Berpendapat

Bantahan Bro Ron

Di sisi lain, Ronald membantah seluruh tuduhan.

Ia menegaskan tidak pernah melakukan pemukulan lebih dulu maupun melontarkan pernyataan rasis.

"Tidak ada pernyataan rasis dan tidak ada pemukulan duluan dari saya. Kalau saya pukul duluan, silakan proses hukum," ujar Ronald lewat pesan singkat kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Ronald menambahkan, sopirnya yang berada di lokasi berasal dari suku yang sama dengan pihak lawan, sehingga tudingan rasis dianggap tidak mungkin terjadi.

Ia menjelaskan percekcokan terjadi karena pelaku ingin mengamankan kantor firma hukum MPP, sementara dirinya bersama karyawan PT SPS sedang berada di lokasi untuk audiensi terkait gaji yang belum dibayarkan.

"Kita tidak larang mereka mengamankan kantor, tetapi teman-teman SKS keberatan meninggalkan lantai 4 gedung," tambahnya.

Kasus ini kini ditangani pihak kepolisian, dengan kedua belah pihak sama-sama melayangkan laporan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.